Pastel-ization

Nah, ketika kamu memiliki satu momen dimana tempatnya bagus, modelnya bagus, cahayanya pas, pokoknya semuanya mendukung untuk pemotretan yang asik, lakukan foto-foto sebanyak-banyaknya karena stok foto yang banyak bisa untuk upload di IG atau blog walaupun bisa dua minggu lebih gak bisa hunting lagi.

Lalu, foto yang bagus itu bisa digunakan sebagai test editing toning warna yang baru, seperti foto-foto di post saya kali ini.

Di post ini, fotonya saya edit agar warnanya bisa sepastel mungkin tapi kesan desaturasi-nya tak begitu terlihat. Tapi ya begitulah, kayaknya agak gagal walaupun warna pastelnya cukup lumayan. Gagalnya karena masih jelas terlihat desaturasinya banyak.

Haduh, kenapa saya cepet banget berubah mood ya, baru aja kemaren suka sekali dengan yellowish-orange-browny Matte portrait photo tone, sekarang tiba-tiba menukik ke pastel lagi.

And what next?

Food photography?– Hmmmm..

Advertisements
Pastel-ization

an upgrade

Saya ingin menjadi lebih baik daripada diriku yang kemarin.

Kemarin lebih menyukai memotret dan berusaha mendapatkan angle terbaik yang diinginkan kemudian tempelin preset vsco agar tonalnya terasa lebih unik dan tidak datar.

Kemarin, kegiatan post-processing hanya mengenai brightness dan tinggal pilih preset yang cocok. Selesai. Post it!

Tapi hari ini, seakan ingin menjawab rasa penasaran diriku sendiri, saya berusaha ingin mengikuti kualitas foto dan tonal yang cakep dari bule-bule sono di Instagram.

Baca sana-sini, tonton berbagai tutorial editing di Youtube mengenai editing tonal yang saya pengin, lalu langsung dipraktekan.

Hasilnya?-masih belum bisa memuaskan diri saya sendiri, tapi setidaknya saya jadi lebih baik daripada saya yang kemarin yang males pada tahap post-processing.

Anehnya, berangkat dari hasil editing yang kerap tidak memuaskan hasilnya membuat saya banyak berfikir bagaimana caranya agar foto sudah terlihat bagus sejak awal.

Oleh karena itu pula, saya jadi lebih memperhatikan pencahayaan, background, komposisi, serta angle.

Dan ya begitulah, apapun jalan dan caranya, yang penting ada progress menjadi lebih baik daripada sebelumnya, menjadi lebih baik daripada diri saya sendiri yang kemarin.

an upgrade

Mencari angle terbaik

Hunting kali ini juga dalam rangka mencari angle terbaik dengan menggunakan lensa 50mm f1.8, mencari jarak terbaik yang mana bisa cukup wide dengan depth of field yg masih cukup bagus bokeh.

Sebenarnya yang paling bagus adalah dengan menggunakan lensa lain atau beli lensa yang sesuai kebutuhan, tapi karena belum ada cukup budget untuk membeli lensa baru, ya mau gak mau harus memaksimalkan kamera yang ada, ya toh?

And here we go, berlokasi di stone garden Padalarang dengan model satu-satunya yang rela saya fotoin, Mukti Cahyadi, temen baru di tempat kerja yang kebetulan punya kesukaan yang sama, yaitu maen Instagram.

Kesimpulannya, dengan menggunakan lensa 50mm f1.8 ini, bokehnya tentu asik karena bukaan yang sampai 1.8, makin dekat objek ke lensa, makin blur/bokeh backgroundnya, depth of fieldnya makin sempit.

Tapi, karena dengan focal length 50mm maka cukup sempit dan tidak cocok untuk foto di indoor dengan ruangan yang tidak begitu luas.

Kalaupun mau tetap bokeh dan dengan area yang lebih luas, sebaiknya cari background yang cukup jauh dari objek utama, makin jauh makin baik, makin terlihat bokeh.

Buatku sekarang, angle terbaik sudah mulai terlihat, tinggal bagaimana post processingnya, ngasih tonal yang khas dan berkarakter.

Itu PR saya saat ini.

Mencari angle terbaik

Pangalengan

Hayu ah kita jalan-jalan.

Aku punya keinginan dalam jangka pendek ini bahwa aku harus pergi-pergi, melangkah lebih jauh ke tempat baru barengan istri.

Mumpung ada jeda 3-4 tahun untuk fokus pada kami berdua tanpa momongan dulu, ada baiknya kami gunakan sebaik-baiknya untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, mematangkan finansial, membangun lingkungan keluarga yang lebih ‘siap’ untuk menyambut buah hati kami nantinya, dan juga tentunya ada agenda untuk jalan-jalan ketempat baru dengan harapan bisa mendapat banyak hal baru dan memberi efek positif pada personality kita. hehe..

Perjalanan ‘agak jauh’ kami yang kesekian kalinya sebenarnya, tapi semenjak menikah, mungkin ini yang pertamakali.

Pangalengan here we come!

Awalnya sangat berat untuk pergi ke Pangalengan, soalnya sabtu dini hari hingga paginya hujan tidak mereda. Padahal sejak seminggu sebelumnya, cuaca pagi hari selalu menyenangkan hati, tapi entah kenapa cuaca mendung dan hujan rintik jatuh pada hari dimana kami mau pergi-pergi pake motor 😫

Biar kalian tahu, salah satu hal yang selalu sukses membuat mood saya turun drastis adalah keharusan berkendara menggunakan sepeda motor, ngebonceng istri lalu hujan turun.

Tapi berkat Chiko sang sohib istri yang ikut pergi ke Pangalengan karena sekalian ada urusan, katanya “hajar aja deh..”. makanya dengan keterpaksaan-yang-tiba¬≤-timbul-karena-hujan, kami pun ikut ‘hajar aja’ jadi pergi.

Sepanjang perjalanan, mood aku naik turun, menjadi senang ketika awan mulai menipis da  mentari menembakkan sinarnya ke bumi. menjadi kembali muram ketika awan kembali gelap dan rintik hujan menyapa sepasang kacamataku. Begitu terus sepanjang perjalanan. Fyuh, naik turun mood bikin cape juga.

Namun akhirnya dengan konsistensi maju terus pantang berhenti walau basah, akhirnya kami tiba di tujuan.

Pangalengan! apa kabar kabut, daun teh, dan udara dingin?!

Sejak awal, aku hanya ingin memotret dengan istri jadi modelnya,hehe…jadi ya akunya mah ga ada, hanya istri aja. Begitulah ‘man behind the lens’ 😝

Pergi-pergi ke kebun teh Kertamanah dulu sebelum lebih jauh lagi ke Malabar. Hujannya ga jelas, kadang agak lebat, tapi tiba-tiba mereda. Ditengah-tengah meredanya hujan disempetin deh motret dikit walau agak takut kamera kena basah banyak-banyak.

Beruntungnya aku, istri bak model profesional, agak basah-basahan juga mau aja disuruh pose. ” tapi ternyata memang doi pengen selfie trus di share di group whatsapp keluarga besarnya” 🙍


Dan, taraaa…. ternyata di Pangalengan juga khususnya di perkebunan teh Kertamanah ada Rusa-rusa seperti yang ada di RancaUpas-Ciwidey. Aah, senangnya bisa menyenangkan istri.

Mereka doyan banget sama yang namanya wortel, tapi ga mirip kelinci ya -,,-

Oke, jaket merah mamang penjual wortelnya ganggu sekali duakali ya. Tapi yasudahlah.

Rusa-rusa ini kononnya sedang cuti dari pekerjaan utamanya sebagai penarik gerobak sinterklas. Oke, becanda. Bye.

Nah, akhirnya Chiko nongol juga di jepretan kameraku ya,hehe.. Tapi doi agak jahat, karena wortelnya habis, masa mau ngasih kantong kreseknya sih, untung rusanya gak mau. Fyuh..

Bye rusa-rusa cakep, bagiku kamu akan selalu kuanggap sebagai rusa yang lagi liburan dari kerjaan narik gerobak om Sinterklas.

And it’s a photo session time. Kalian tahu kalo 90% orang kalo ketemu sohib lama dari SMP atau SMA maka kelakuan dewasanya terhapus dan kembali ‘segila’ waktu jaya-jayanya momen persahabatan itu (biasanya ketika masih SMA) dan itulah mereka, sura-seuri duaan teu bagi-bagi.

Chiko, itu pose apa? 😓😓😓😓😓

Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya tiap melihat foto ini, ada apa antara mereka dengan tiang, mengapa mereka seolah-olah menyukai memegang tiang itu bersama-sama??

Hai perkebunan teh, kamu memang selalu menarik untuk dipandang.

Last photo session in the middle of tea field. Bye, see you again!

Kesimpulan, Kebun teh selalu menarik dan asik untuk dikunjungi termasuk Pangalengan, tapi jika dibandingkan dengan di Ciwidey, sepertinya Ciwidey pemenangnya. Tapi entah kalo saya jadi ke Cukul dan melihat view pangalengan dari sisi yang lebih baik.

And now i need vitamin sea. please.

Pangalengan

finding mood.

Minggu sore, si pasangan hidup jenuh di rumah terus. Pergilah kita jalan-jalan sore ke sekitar Alun-Alun Bdg dan jl.Merdeka karena itulah tempat yang paling dekat dan paling menarik.

Dan ketika istrimu bahagia, hidupmu jauh lebih menyenangkan dan mudah. Yeah, hoho…

Sorenya ga mendung, tapi cerahnya pun ga maksimal karena kebanyakan awan. but yet it still quite beautiful.

This is my first time taking the BRI Tower at this point of view, dengan mentari sore yang cukup terlihat, cakepnya warna jingga masih terasa asik, Alhamdulillah. Happy me.

Sekarang lagi asik maenan street photography ngambil angle dimana motretnya candid dan posisi orang ada di tengah frame foto, setengah badan aja biar cukup dekat, jelas, dan dapat bokeh yg lumayan creamy (maklum cuma pake 50mm f1.8)

How?

And, what ever it is, akhirnya perjalanan sore harus diusaikan karena masalah waktu, udah mau maghrib, brow…

Bye.

Wassalam.

finding mood.

good vibes

image

Hai semuanya, lama tak jumpa ya! maklum, sekian lama gak nulis di blog ini karena minimnya stok foto dan lebih sering update foto di Instagram aja.
Tapi masalah minimnya stok foto akhirnya terselesaikan dengan jalan sore-sore ke sawah di Malangbong, dan sore itu langitnya sangat bagus, langitnya bersih dengan sedikit sekali hiasan awan. My kind of weather.
Eits, tapi aku tak sendiri, kali ini ditemani oleh kakak tertua, kakak ketiga, dan keponakan dari kakak ketiga. i am simply happy, modelnya banyak,haha..

image

Continue reading “good vibes”

good vibes

2 . b e . c r e a t i v e

image

Masih dengan masalah lensa. Sebetulnya hal ini bisa saja ga usah dibikin sedilema sekarang, toh namanya juga pake kamera exchangable lens, ya kalo kebutuhannya pengin wide, ya pake 18mm-nya kit lens dan kalau butuh yang depth of fieldnya sempit, pilihlah lensa 50mm.

image

Tapi, engga tahu kenapa tapi rasanya cuma ingin memakai satu lensa aja biar bisa meminimalisir kerusakan akibat sering ganti lensa dan juga lebih simpel aja kalo cuma bawa satu lensa (tas ranselnya kekecilan  pemirsa!)
Continue reading “2 . b e . c r e a t i v e”

2 . b e . c r e a t i v e