Moving out

Karena masalah ga ditemukannya design yang pas buat wordpress saya ini..

Ya, cuma karena desain blog yang tidak sesuai keinginan, maka untuk rencana daily blog ini aku pindahin ke tumblr.

Tumblr saya ini pun (dejournals) ga sedikit kekurangannya, terutama ketika upload foto, ga bisa menyisipkan foto di tiap paragraf tulisan. 

Yang ada hanya tulisan saja atau post image saja tapi itupun kelemahannya ada di captionnya satu untuk semua foto dalam satu post tersebut, which is ga bagus buat nulis yang mau berkesan flowing.

Hmm…

Tapi yaudah deh, saya mah berat di ongkos…. eh kok ongkos, berat di desain maksudnya. Isinya mah ntar difikirin lagi.

Check it out.

And off of this web for a while.

Bye!

Advertisements
Moving out

a daily blog

Thoughts on November 2nd 2016 at 11.18pm.

Hari ini ketika trend media sosial sudah beranjak konten dari text menuju gambar bergerak alias video, portal youtube pun mulai memanas (dikalangan muda Indonesia) dan trend vlogging mulai menggeliat ditandai dengan bermunculannya vlogger-vlogger baru nan apik.
Layaknya twitter dengan selebtweet-nya, Youtube juga punya seleb-seleb baru yang lahir dari Youtube baik dengan konten sketching ciri khas youtubers juga konten daily vlog yang baru-baru ini mulai menanjak.

Dan yang dapat panggung tentunya adalah yang kreatif dan apik serta sajiannya mudah disukai banyak mata.

I AM FOLLOWING THE TREND. or atleast i try to.

Ok, just cut the crap dan langsung ke intinya. Alih-alih mencoba menjadi vlogger-tapi-ga-pede-depan-kamera-juga-hidupnya-ga-ada-yang-menarik, i think i need to step aside from the hot trend vlogging thingy and back to a blog. a daily writing and photographing blog. yes, DAILY!

Aku harus bisa memaksakan diri untuk konsisten dalam hal ini, juga harus mengesampingkan kekuatiran akan konten yang tidak menarik agar setiap harinya bisa upload blog post baru.

in time, the quality of the blog will increase, but for now, i just wanna have fun, pushing my boundaries, and being consistent at quantity (daily blog post).

Disclaimer first, karena hidupku begitu tenang dan cenderung membosankan dengan aktifitas yang mirip setiap harinya, setiap minggunya, maka jangan harap bisa baca blog atau fotografi dokumentasi yang menarik. But i will try to.

Oke deh, segitu dulu postingan #DailyBlog yang pertama, semoga mulai besok sampai..   lama, daily blog ini bakal benar-benar daily.

Fin.
PS: Sorry, theres  no picture on the blog 😦

a daily blog

Saving the Moment

Jeprat- jepret di sabtu pagi, pagi yang paling strategis karena masih jauh ke hari senin. hehe.

I had nothing to lose, dan ga ada kerjaan, ya udah hayuk-in aja!

Kalo ke tegalega tuh jatohnya 90% pasti belanja dan 10% lagi buat olahraga dan hari ini si 90% terwujud.

Pertama-tama, lihat-lihat yang jualan buah dulu karena itu sangat penting untuk menu sarapan.*tring!*

Biasa, ada pedagang  langganan dan harganya cukup murah.

Selesai belanja buah dan sayuran, saatnya sarapan. Inget kan td saya bilang menu sarapan yang penting itu adalah buah, mari kita simpan hal itu untuk weekdays, karena pagi ini kita sarapan bubur ayam! HAHA

Lima menit kemudian buburnya hilang 😦

Sambil makan bubur sambil lihatin kangkung, trus rasa buburnya jadi ada kangkung²nya gitu. *apasih?*

Ditengah-tengah kerandoman, ada yang lebih random, semut lagi berantem. Saya cuma berharap berantemnya bukan karena semut betina atau pemilihan calon ratu semut. amin.

istri lagi makan bubur. aku diem aja karena buburku udah habis. Engga kok, saya ga celamitan minta.

Btw, istriku cantik. 😍😍😍😍😍😍😍

Beres sarapan bubur saatnya pulang dan melewati hutan belantara ini hanya untuk menuju tempat parkir 😣

Wait for me, wifey… *kemudian akupun berlari terbirit-birit mengejarnya, dan… terkejar, syukurlah.*

Ke pasar kembar dulu deket rumah sambil menuju pulang, beli lauk pauk buat menu makan siang ini.

By The Way, bicara tentang saving the moments, saya ingin mencoba untuk memotret apapun yang memiliki cerita dan menjadi bagian dari momen keseharian saya.

It’s sounds not important, tapi tiap saya melihat foto-foto lama bahkan untuk foto yang ga penting pada waktu itu, malah menjadi penting karena merupakan bagian cerita yg bisa saya kenang bahkan bisa saya tunjukan ke anak cucu saya nantinya. Bukan hanya bercerita dengan lisan.

And i just start thinking to make it to another level, bringing not only the visual but also the audio and in motion pictures which is in video format, a video log called VLOG.

hope i can do it.

Watch the slideshow format here

Bye.

Saving the Moment

World Wide InstaMeet 14

What is WWIM 14? — Ada sebagian orang yang walaupun suka menggunakan Instagram tapi belum tahu apa itu Instameet, apalagi untuk orang yang tidak menggunakan Instagram.

So what is it?– well, saya pun belum mencari tahu pasti definisi dari Instameet tapi dari istilahnya dapat disimpulkan bahwa Instameet adalah semacam kopdar dari para pengguna aktif Instagram.

So?what is WWIM 14?– WWIM adalah singkatan dari World Wide Insta Meet dan angka 14 menunjukan bahwa ajang ini telah dilaksanakan sebanyak 14 kali sejak pertamakali diadakan.

Tapi, worldwide disini artinya bukan satu acara besar yang diikuti instagrammer di seluruh dunia, tapi diadakan secara regional di wilayah masing-masing pada waktu yang hampir bersamaan, biasanya dilakukan pada waktu weekends. Dan tentu didukung penuh oleh Instagram.

Fyi, walaupun WWIM ini telah dilakukan sebanyak 14 kali sepanjang umur Instagram, tapi ini adalah yang pertama buat saya. Maklum, saya merupakan makhluk yang kurang cerdas dalam bersosialisasi dan cenderung lebih memilih tidak mengikuti hal-hal seperti ini.

So, before we continue, let me rewind it from the start when i preparing things for my first instameet.

•••
Food! ya, setiap WWIM pasti memiliki satu tema khusus yang sebelumnya ditentukan dulu oleh Instagram, dan WWIM 14 ini temanya adalah makanan.

Dan saya bingung…

Makanan yang selain bisa dimakan juga harus photoable, yang cakep kalo difoto. 

Nah, itu loh. kata kuncinya adalah yang murah dan kebeli.

Sebenernya banyak pilihannya, tapi keberatan ada di isi dompet, haduh. Ya, daripada gak bawa apa-apa, yaudah saya beli pocky matcha dan choco cookies kemasan di mini market. Hanya sebagai syarat biar ga malu aja.

Tapi selain itu, saya sebenarnya bawa bekal sendiri dari rumah hasil masakan istri, tapi pada akhirnya ini perbekalan dibawa lagi dan dimakan di rumah,hehe.

Untung gak basi ya, pokoknya enaaak! thank you istri tercinta.

Isinya kebanyakan adalah sayuran rebus dan ikan kakap sebagai sumber proteinnya, and i love vegetables!

Iseng, kubawa juga teh tarik bukan bikinan sendiri tapi teh tarik kemasan lalu dipindah ke botol bekas susu kedelai. *botolnya lumayan lucu sih*. FYI, akhir-akhir ini saya lagi suka-sukanya dengan teh tarik kemasan yang satu itu. Hoho.

Taraaa…Here we go! my first Instameet with food as the theme.

i met lots of new creative people, a bunch of it. Tapi, ketika menghadapi permasalahan penataan makanan untuk difoto, kebanyakan pada bingung, apalagi saya. Bingung ngadepin orang-orang baru, bingung menyoal penataan juga. So i just stand there and make videos.

Tapi syukurlah, lama kelamaan masalah penataan pun terselesaikan dan kami bisa segera move on. hehe…

Setelah acara ‘piknik asik’ selesai, rupanya ada acara berikutnya yaitu foto-foto di kampus Unpad Jatinangor. Katanya “yuk ah kita nyari dinding!”

And i’m getting excited!

Disitulah mulai terlihat sikap mereka sebagai instagrammer. Nyari spot asik, dinding menarik sebagai background dan proses kreatif pun dimulai, ga seperti proses penataan makanan yang kayaknya untuk sebagian mereka adalah membingungkan.

Untuk hasil foto di Unpad gak saya share disini, you can check it out at my Instagram

Instagram said: #CommunityFirst!

Mungkin maksudnya adalah jika kamu ingin berkembang, sebaiknya masuk dalam satu komunitas dan berkolaborasilah agar proses kreatif makin berkembang and you shall better. And i’m feel it now. after all these time.

So, ajakin saya ya kalo ada hunting-hunting lainnya after this one.

Have a good day. ✌

World Wide InstaMeet 14

Pastel-ization

Nah, ketika kamu memiliki satu momen dimana tempatnya bagus, modelnya bagus, cahayanya pas, pokoknya semuanya mendukung untuk pemotretan yang asik, lakukan foto-foto sebanyak-banyaknya karena stok foto yang banyak bisa untuk upload di IG atau blog walaupun bisa dua minggu lebih gak bisa hunting lagi.

Lalu, foto yang bagus itu bisa digunakan sebagai test editing toning warna yang baru, seperti foto-foto di post saya kali ini.

Di post ini, fotonya saya edit agar warnanya bisa sepastel mungkin tapi kesan desaturasi-nya tak begitu terlihat. Tapi ya begitulah, kayaknya agak gagal walaupun warna pastelnya cukup lumayan. Gagalnya karena masih jelas terlihat desaturasinya banyak.

Haduh, kenapa saya cepet banget berubah mood ya, baru aja kemaren suka sekali dengan yellowish-orange-browny Matte portrait photo tone, sekarang tiba-tiba menukik ke pastel lagi.

And what next?

Food photography?– Hmmmm..

Pastel-ization

an upgrade

Saya ingin menjadi lebih baik daripada diriku yang kemarin.

Kemarin lebih menyukai memotret dan berusaha mendapatkan angle terbaik yang diinginkan kemudian tempelin preset vsco agar tonalnya terasa lebih unik dan tidak datar.

Kemarin, kegiatan post-processing hanya mengenai brightness dan tinggal pilih preset yang cocok. Selesai. Post it!

Tapi hari ini, seakan ingin menjawab rasa penasaran diriku sendiri, saya berusaha ingin mengikuti kualitas foto dan tonal yang cakep dari bule-bule sono di Instagram.

Baca sana-sini, tonton berbagai tutorial editing di Youtube mengenai editing tonal yang saya pengin, lalu langsung dipraktekan.

Hasilnya?-masih belum bisa memuaskan diri saya sendiri, tapi setidaknya saya jadi lebih baik daripada saya yang kemarin yang males pada tahap post-processing.

Anehnya, berangkat dari hasil editing yang kerap tidak memuaskan hasilnya membuat saya banyak berfikir bagaimana caranya agar foto sudah terlihat bagus sejak awal.

Oleh karena itu pula, saya jadi lebih memperhatikan pencahayaan, background, komposisi, serta angle.

Dan ya begitulah, apapun jalan dan caranya, yang penting ada progress menjadi lebih baik daripada sebelumnya, menjadi lebih baik daripada diri saya sendiri yang kemarin.

an upgrade

Mencari angle terbaik

Hunting kali ini juga dalam rangka mencari angle terbaik dengan menggunakan lensa 50mm f1.8, mencari jarak terbaik yang mana bisa cukup wide dengan depth of field yg masih cukup bagus bokeh.

Sebenarnya yang paling bagus adalah dengan menggunakan lensa lain atau beli lensa yang sesuai kebutuhan, tapi karena belum ada cukup budget untuk membeli lensa baru, ya mau gak mau harus memaksimalkan kamera yang ada, ya toh?

And here we go, berlokasi di stone garden Padalarang dengan model satu-satunya yang rela saya fotoin, Mukti Cahyadi, temen baru di tempat kerja yang kebetulan punya kesukaan yang sama, yaitu maen Instagram.

Kesimpulannya, dengan menggunakan lensa 50mm f1.8 ini, bokehnya tentu asik karena bukaan yang sampai 1.8, makin dekat objek ke lensa, makin blur/bokeh backgroundnya, depth of fieldnya makin sempit.

Tapi, karena dengan focal length 50mm maka cukup sempit dan tidak cocok untuk foto di indoor dengan ruangan yang tidak begitu luas.

Kalaupun mau tetap bokeh dan dengan area yang lebih luas, sebaiknya cari background yang cukup jauh dari objek utama, makin jauh makin baik, makin terlihat bokeh.

Buatku sekarang, angle terbaik sudah mulai terlihat, tinggal bagaimana post processingnya, ngasih tonal yang khas dan berkarakter.

Itu PR saya saat ini.

Mencari angle terbaik