Everything in between

Melihat-lihat hasil foto sambil mendengarkan lagunya Andien yang berjudul “everything in between” serasa terinspirasi dan seakan diilhami tentang apa yang mesti aku tulis sebagai pengantar dari foto-foto dokumentasi yang kudapatkan dari perjalanan kecil mencari mata air yang selama ini hanya kudengarkan namanya saja yaitu Cikareo.

Sepetak kecil kolam air yang selalu mengalir meski kecil tapi mampu mengairi pesawahan disekitarnya

Nama tempatnya adalah Cikareo, tapi aku selalu menganggapnya sebagai nama mata air yang ada di pesawahan dekat rumah orang tua di Malangbong, Garut. Konon, mata air itu selalu mengeluarkan air meskipun pada musim kemarau yang kering.

Sejak kecil, aku sudah tahu dengan nama itu tapi tak pernah sekalipun aku tahu persis tempatnya dimana dan ga pernah penasaran untuk didatangi, sampai akhirnya kemarin pas lagi mudik yang telat dan singkat, tiba-tiba terilhami untuk jalan-jalan pagi menuju Cikareo.

Aku sebetulnya paling suka untuk jalan-jalan hanya dengan kedua kaki ini dan melihat-lihat sambil memotret, tapi akhirnya berkesan ‘omong doang’ karena nyatanya aku jarang jalan-jalan kaki baik di rumah orangtua ataupun di Bandung. Aku menyadari, biasanya yang membuatku hanya niat tanpa aksi adalah bingungnya menentukan tujuan.

Padahal yang paling kunikmati dari jalan kaki adalah perjalanannya itu sendiri dan bukan tujuan akhirnya, tapi ketika ga tahu harus kemana, si ‘tujuan’ inilah yang jadi penentu keputusanku untuk keluar atau tidak.

Makanya, semuanya semudah seperti membalikan telapak tangan ketika pergi keluar dan ‘bertemu’ Cikareo ini. Keinginan ada, tujuan jelas, waktu ada, cuaca bagus. Disclaimer: Ini bukan perjalanan yang ‘wow’ sama sekali, ini seperti kamu kalo jalan kaki ke depan mencari makanan untuk sarapan.

Bedanya, jalanku bukan ke tempat beraspal dan banyak orang, tapi di pesawahan yang jujur saja tempatnya sedikit sekali mengalami perubahan semenjak aku kecil, in fact it’s nearly the same. Jadi, buatku, ini agak seperti jalan-jalan nostalgia yang mengingatkan masa kecilku yang suka menghabiskan sore di sawah mencari tutut atau berburu layang-layang putus atau sekedar kejar-kejaran bareng teman main kucing-kucingan.

Rasanya baru kemarin, aku duduk-duduk di pinggiran petak sawah, bermandikan cahaya matahari pagi yang menghangatkan, hembusan angin yang tak henti mengusap wajah dan membuat rambutku acak-acakan ga karuan dan angin yang sama membuat hamparan padi bergoyang pada arah yang sama seperti terumbu karang hidup di dasar laut, hidup dan bergerak.

Menyendiri di sawah pada pagi atau sore hari adalah kegiatan favoritku karena tempatnya menenangkan, anginnya sejuk, para petaninya sibuk sendiri mengurusi petak padinya dan aku menikmati mengamati. Kalopun aku iseng menyapa, 100% pasti mereka akan menyambut sapaanku dengan senyum lebar dan ketulusan. Menenangkan, menyenangkan.

Saung juga adalah salah satu properti khas pesawahan yang selalu menarik untuk dilihat dan dipotret karena biasanya dia sendiri tak bertetangga dan muncul setiap radius beberapa puluh meter. Sependek pengetahuanku dan dari apa yang kulihat, saung itu biasanya jadi tempat petani menyimpan bekal makan siang, atau tempat berganti pakaian, atau tempat solat karena pastinya jauh dari mesjid, juga bisa untuk berteduh dan beristirahat, dan tak jarang juga sebagai tempat menyimpan kayu-kayu kering.

Tentunya, ga lupa dengan orang-orang yang sehari-harinya bekerja di sawah. para Petani. Bagiku, mereka adalah orang-orang baik dan ramah yang murah senyum dan tak pernah menunjukan raut muka masam seakan penuh masalah. Kadang aku heran, tapi aku juga menyadari mungkin makna kebahagiaan untuk mereka dan orang-orang di kota itu berbeda, disini pasti jauh lebih sederhana daripada di perkotaan.

Tapi siapalah aku yang sok tahu ini, mungkin saja masalah itu selalu ada bagi tiap manusia dimanapun tempatnya, apapun kulturnya, hanya saja mereka menerimanya dengan cara yang berbeda.

Oh iya, ada sedikit insiden. Mungkin karena kelamaan tinggal di Bandung dan jarang ke sawah lagi seperti masa kecil, di satu titik di antara rumah dan Cikareo, aku terpeleset ketika mau loncat layaknya ninja Hatori, aku lupa kalo aku ga segesit dulu, dan alhasil salah satu sendalku copot dan jatuh ke sungai kecil.

Tadinya aku mau ambil lagi, tapi karena tempat jatuhnya semacam di semak-semak dan ga keliatan, belum lagi berhiaskan jaring-jaring laba-laba lengkap dengan laba-laba yang bongsor-bongsor, ngeri sendiri lihatnya, jadi ya kurelakan sebelah sendalku hilang, dan nyeker deh alias telanjang kaki, sebelah sendalnya aku pegang aja.

Rasanya enak ga enak, pas nginjek rerumputan, rasanya enak dan nyaman, tapi pas di bebatuan jadi kayak terapi pijit kaki, rasanya ga menyenangkan, haha.

Ga seberapa lama, akhirnya aku bertemu Cikareo dan menyempatkan merendam kakiku ke dalam air yang jernih dan dingin, rasanya nyegerin.

Dan ya begitulah kira-kira perjalanan kecilku dari rumah ke Cikareo. Seperti yang kuharapkan, aku menikmati setiap langkah perjalananku dari rumah menuju Cikareo ini, terlebih karena dapet banyak foto baru yang bisa kubagikan disini sih, hehe.

Meskipun tujuan sebenarnya adalah perjalanan itu sendiri, tapi aku selalu butuh tujuan akhir untuk membuatku bergerak dan keluar. Terima kasih CIkareo karena kali ini bisa menjadi tujuanku berjalan kaki.


Really, it’s easier when you have a clear goal although what is actually enjoyed is the journey itself, the everything in between.

And here’s a few more photos

Selamat tinggal sawah, see you when i see you!

8 thoughts on “Everything in between”

  1. Karena suka ngulik toponomi daerah, utamanya Priangan, langsung nyari arti “kareo” di kamus dan Google. Ternyata sejenis burung puyuh ya, jadi inget pernah nemu yg gitu di sawah, tapi pas SD.

    Tikosewad di sawah memang insiden lumrah, tua muda, yg orang kampung atau kota, tapi lewat nyeker bakal meminimalkan resiko.

    1. kareo artinya burung puyuh? wah menariiiik… baru tau, tp kira-kira adakah hubungan antara burung puyuh dan mata air? hmm…

      haha… kalo saya kemarin lbh ke tiseureuleu sih.. dan kenapa nyeker, krn sendalnya ilang sebelah, jd weh nyekermen… hehehe

      1. Itu mah dari rumus penamaannya begitu, kata pertama sebutan daerah deket air (Ci-, Bojong, Tanjung, Ranca) yg kedua biasanya dari nama flora atau fauna.

        Misal Cibaduyut atau Bojongloa, saya baru tahu juga kalau ada nama pohon Baduyut dan Loa, karena udah ga ada lagi pohonnya di daerah situ, meski masih ada di Tahura.

        Nah, berarti kayaknya dulu masih banyak burung kareo di Cikareo.

  2. air kalinya bening banget, gini ya kalau di pedesaan bener bener masih bersih gitu
    liat foto fotonya jadi inget desa tempat aku lahir, depan rumah udah sawah, waktu kecil mainnya ngejar kayak hewan kecil yang terang gitu, katanya dari kuku orang mati.anak kecil ya percaya aja.

    1. Desa emang top, apalagi kalo besar dan lama di kota, perlu tuh liburan ke desa, jd kyk balik lagi ke masa lalu… tp sedesa2nya sekarang, udah pada tahu tiktok semua 😁😁😁

      1. hahaha iya mas Ady. Tiktok masuk desa programnya
        ibuk ibuk anak anak udah mainan tiktok aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s