Taman Mamah

Dess, ternyata blogwalking juga kalo waktunya ga tepat tuh bisa jadi distraksi ya, hahaha. Aku mulai nulis postingan ini dari jam 7, istirahat dikit, eh malah jadi penasaran pengen blogwalking dulu, trus maen ke Kafe MM juga, belum lagi diajakin ngobrol sama Panda, bercerita tentang keseharian dan keluh kesahnya. Ha!

Oke deh, kembali ke topik tulisan ya, fokus…. fokus…!

So, setelah beberapa bulan ga pulang ke Malangbong karena satu dan lain hal, akhirnya weekend kemarin aku pulang dan bisa nengok orang tua. Bisa ketemu kakak-kakak dan semua keponakanku lagi (kebetulan semuanya lagi ada disana). i am happy, i feel so… recharge.

Dari beberapa bulan ga pulang, aku menemukan beberapa perubahan kecil di rumah, yang paling signifikan adalah makin berwarnanya teras rumah yang penuh dengan tanaman hiasnya mamah. Kalo diingat-ingat, sebetulnya sudah sejak dulu mamahku suka dengan tanaman hias, tapi karena sedang trend, mataku lebih melek dan aware sama tanaman-tanaman hias itu. Alhasil, aku memotret beberapanya, hehehe

Bagiku, yang paling penting dari trend tanaman hias ini, terlepas apakah aku punya atau tidak, adalah foto, hehe… Jadi, setelah sungkem sama mamah bapak, aku langsung keluarin kamera dan memotret apapun yang menurutku bagus untuk dipotret di teras yang penuh tanaman hias ini.

Aku baru sadar kalo ternyata alam itu indah ya, penuh warna. Tapi yang paling membuatku tersadar adalah bahwa semuanya bisa jadi indah pada waktunya, semua akan terlihat lebih bagus daripada biasanya jika kita mau untuk melihatnya dengan lebih dekat dan dengan sudut pandang yang tepat.

Karena faktanya, tanaman-tanaman ini sudah seperti ini sejak awal, tapi kenapa baru sekarang orang-orang menyadarinya? baru sekarang mulai menghargainya?

Berangkat dari pemahaman itu, aku juga yakin begitupun dengan kesuksesan, ada waktunya.

Karena ketika ada waktunya bersedih dan kecewa dengan hidup, akan ada juga waktunya untuk bergembira dan bersyukur atas kehidupan yang dimiliki.

Masalahnya tinggal satu, adalah tentang bagaimana kita melihat dan menerimanya. Seperti kemarin, itu adalah momenku untuk menghargai keindahan tanaman hias sebagai objek foto yang amat menarik.

Namun sayang sekali…

Aku ga dikasih sedikitpun bibit tanaman itu baik dari mamahku, ataupun dari kedua kakak perempuanku. Pun dengan kakak pria dengan bonsainya.. gueee ga dapet apa-apa gaisss. Akupun pulang dengan tangan kosong.

Tapi ga kosong-kosong banget, ada foto-fotonya kok, Nih. Mayan daripada manyun.

Btw, Adakah tanaman yang kamupun memilikinya di rumah? Trus, apakah kamu juga tahu nama-nama tanaman yang kufoto di atas? apa aja sih? mana yang paling kamu suka?

10 thoughts on “Taman Mamah”

  1. Kasihan sekali Kak Ady πŸ˜‚ pukpuk jangan sedih. Nanti aku kirimin monsteraku yang lagi dalam proses ini yak hahaha.
    Salah satu pegangan hidupku ada di kalimat yang Kak Ady tulis lho. Bahwa segala sesuatu ada waktunya, jadi kalau sekarang lagi sedih, ya nggak akan setiap saat sedih, begitu juga sebaliknya. Salah satu kalimat penguat kalau lagi ada beban berat πŸ˜‚
    Dan iya yak, tanaman kan dari dulu begitu aja, tapi entah kenapa sekarang jadi lebih banyak digandrungi. Mungkin karena lebih banyak momen berdiam diri jadi bisa punya waktu lebih untuk lihatin tanaman hahaha.
    Btw, dari semua foto tanaman di atas yang aku tahu cuma dua terbawah. Yang paling bawah kayaknya namanya kuping gajah, yang atasnya di namanya ada “laba-laba” gitu kalau nggak salah 🀣

    1. Iya Liaa… aku tuh udah bilang di grup keluarga kalo aku mau minta bibit tanamannya, masing-masing satu, tapi ga dapet sama sekali, bukan karena ga dikasih tapi karena ga keburu mintanya, hehehe…

      Akupun kalo lagi sedih atau lagi pusing, biasanya mengingat-ngingat kata-kata ini dan positive thinking pun lahir kembali.

      btw, terima kasih ya Lia untuk monsteranya, hehe..

  2. Wadow saya nggak hapal nama-nama tanaman, Dy hahaha.

    Taunya cuma janda bolong, lidah mertua, monstera, pucuk merah, dan sejenisnya yang sering disebut mba saya πŸ˜‚ Atau bunga-bungaan nah ini saya tau lebih banyak, macam Lily, Mawar, etc πŸ™ˆ By the way, Ibu saya seperti mamanya Ady, dari dulu suka tanaman hias. Saya ingat Ibu punya tanaman mawar buanyaaak bangetttt, jadi mirip pagar karena terlalu banyaknya πŸ˜‚

    Ngomong-ngomong soal timing, saya salah satu yang percaya timing itu ada, dan segala sesuatu dalam hidup kita related to timing, jadi tugas kita adalah berusaha dengan sebaik-baiknya 😍 Karena akan datang kebaikan untuk kita diwaktu yang tepat. Hehehehe. Semangat kitaaa πŸ₯³

    1. bennnuuul sekali kak, semua akan indah pada waktunya, ketika sedih, ingatkan kalo sedih ini ga kan selamanya, pasti akan berganti gembira, dan ketika lagi senangpun jangan jumawa karena pasti ada ujungnya.

      semangat noona Enooo!

  3. makmur pisan tanamannya si mamah… hihihi….

    saya tuh nggak suka tanaman soalnya tangan saya keknya nggak cocok sama tanaman. selalu pada mati. jadi udah patah hati duluan 🀣 makanya meskipun sekarang tanaman lagi booming banget, saya sama sekali nggak tertarik. Cuma seneng aja liatin foto-fotonya, kadang sirik juga sama yang kamarnya estetik dengan tanaman, tapi begitu mikir merawatnya… bubar bubar… wkwkwkwk….

    1. hahahaha…. kalo aku tetep ya, karena foto tanaman ternyata lumayan jg, korban trend jg sih… jadi ya ikut-ikutan dikit, meskipun tangan kita sama, ga bisa lama ngerawat tanaman. kaktus aja mati.. -_-

      tapi belajar lah ya, semoga yang sekarang ga mati lagiii, hahaha…

    1. ahahaha… ya ga apa-apa, kita sama-sama belajar merawat bunda biar cepet pandai dan semua tanaman yang kita punya jadi indah dan sehat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s