Tujuan memotret

Circa 2019. Jl. Asia Afrika, Bandung. Last of the roll

Aku ingat, foto ini kuambil untuk dua alasan. Pertama, aku udah ga sabar pengen cuci scan roll film tersebut dan melihat hasilnya. Dan jepretan terakhir inilah satu-satunya yang menghalangiku untuk segera cuci scan.

Kedua, waktu itu aku selalu beranggapan kalo foto dari kamera film pasti akan selalu menghasilkan foto yang bagus, meskipun motretnya asal jepret, tanpa tujuan jelas, tanpa ngeker-ngeker menentukan komposisi terbaik. Jadi, jepretan terakhir ini aku gunakan untuk eksperimen atas anggapanku itu, apakah benar atau cuma anggapan yang ga ada dasarnya.

Dan ya, ga ada cerita lain lagi selain alasan di atas.


Jadi, setelah aku cuci-scan roll film tersebut, aku mendapati ternyata anggapanku itu tidak benar sama sekali. Sebagus-bagusnya tools, itu hanyalah alat yang ga bisa memotret dengan sendirinya.
Dari situ aku memahami kalo semua orang bisa memotret karena memang hanya semudah menekan tombol shutter, fotopun jadi.

Namun ga semua orang bisa bikin foto yang enak dilihat, meskipun ‘enak dilihat’ pun tergantung selera. Tapi ketika semua orang setuju bahwa Raisa itu cantik, berarti ‘enak dilihat’ pun ada standar yang semuanya akan setuju dan sepaham.

Dan menurutku, lebih dari semua itu, tujuan memotret itu juga sama pentingnya.
Kenapa?

Karena ketika fotografi itu adalah media untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain, berarti foto tersebut harus mampu menggambarkan pesan yang hendak disampaikan kepada siapapun yang melihatnya.

Misalnya, foto headshot wajah seseorang yang tujuannya untuk membuat pas foto yang resmi dan serius akan berbeda dengan foto headshot model fashion atau foto profil untuk di sosial media.

Atau,
Foto rusa di kebun raya bogor yang tujuan motretnya untuk menangkap raut wajah rusa akan berbeda dengan foto rusa yang tujuannya memperlihatkan kehidupan rusa yang lagi ada di kebun raya Bogor.

Jadi, tujuan memotret itu sesungguhnya akan membentuk cara kita mengambil momen atau foto. Makanya, ketika kita memotret sesuatu hanya karena ‘kayaknya bagus’ saja, biasanya (pengalaman pribadi) lama-lama fotonya akan terasa meaningless, datar, dan mudah dihapus begitu saja meskipun fotonya bagus.

Malah bisa jadi ketika fotonya biasa banget, bahkan mungkin shaky ga jelas, tapi si pemotretnya punya tujuan atau alasan atau cerita dibaliknya, bisa jadi lebih ada meaningnya dan lebih dihargai daripada foto bagus yang meaningless.


Well, that’s my one sided opinion about the importance of photo purpose. Kayaknya sih bisa jadi ada pandangan atau pendapat dari sisi yang berbeda tentang tujuan memotret. But for me, tujuan motret itu penting demi tersampaikannya pesan atau apapun yang ingin diperlihatkan oleh pemotret ke penikmat fotonya.

Bagaimana menurutmu?

8 thoughts on “Tujuan memotret”

  1. Sepertinya memang lebih baik ketika kita punya tujuan tertentu sebelum mengambil foto. Tanpa disadari, aku pun biasanya mengambil foto dengan tujuan “yang penting punya kenangan momen ini” jadi meskipun fotonya ngasal, angle nggak jelas, ekspresi koplak, tapi karena ada tujuannya, foto tsb tetap akan terlihat “wah”, setidaknya dimataku 😁
    So, I agree with you, Kak Ady!

  2. Saya adalah golongan yang masih ‘kayaknya bagus’ kalau motret. Terus nggak puas sendiri sama hasilnya. Hahahaha… Masih harus banyak belajar… memotret bisa dibilang urutan nomor kesekian dari hal yang antusias saya pelajari.

    Still, liat orang yang bisa motret dan foto2nya bagus tuh bikin bahagia banget sekaligus iri. foto2 Kang Ady juga cakep-cakep gini… sekalipun katanya jepretan di atas sekadar menghabiskan last roll, buat saya mata fotografer tuh beda banget. Sama kayak foto2 jepretan Mbak Justin dan Mbak Eno, I think. orang yang biasa foto, lama2 matanya akan terlatih.

    Yang jelas, konsep “yang penting bagus” ini sih masih bisa dijual di Indonesia ya kang. terbukti dari objek foto instagrammable yang menggunung padahal kalo dipikir malah ngerusak pemandangan asli karena ga ada esensinya. ha ha…

    1. Sebetulnya, ‘yang penting bagus’ itu juga bisa diada-adain aja alasannya biar lebih bermakna aja, haha… jadinya kyk reverse engineering, motret dl yang penting hasilnya estetik, kalo setelah edit ternyata bagus, bikin-bikin aja tujuannya yg sesuai hasil fotonya, kadang akupun ada foto lama yang emang bagus aja hasilnya tapi lupa kenapa motoin hal itu, jadinya ya mengarang aja yang penting nyambung, haha…

      dan betuul, sepertinya kalo untuk kebutuhan industri, justru kebanyakan kyknya yg penting bagus, yg penting klien seneng aja sama hasilnya 😀
      tapi ketika kita ngeluarin jurus storytelling dan filosofi (beuh…berat) biasanya jd lbh berbobot aja meskipun mungkin ga penting buat klien.

      dan soal foto yg bagus-bagus instagrammable di Instagram, aku jg selalu menikmatinya, tapi lama-lama karena semuanya bagus, jadi malah biasa, akhirnya aku selalu lebih betah melihat foto yg captionnya ada sesuatu yg bs disampaikan, entah itu story behind ataupun proses kreatif pas bikin foto itu.

      dan aku ingin seperti itu, fotonya bagus, ada ceritanya juga 😀 tp masih blm bagussss

      Teh neng Mega, terima kasih masukannya 😀

  3. aku setujuu, entah kenapa kalau pas aku nggak niat moto, ehh hasilnya itu “bicara” gitu, maknanya dapet menurutku,, padahal biasa sebenernya fotonya, pusing kan
    tapi pas giliran moto niat, ehhmm kok malah nggak bagus bagus ya.
    dan memang kalau menurut aku bagus, belum tentu menurut temen yang liat bagus.
    karena mungkin kalau aku moto, kadang suka sok perfect, kurang ini itu, padahal hasilnya aku sendiri biasa aja 😀

    1. yess… bagus engga nya mah relatif kok, yang penting terlihat bagus dari sisi pemotretnya aja dl… kan kalo motret itu bagusnya bikin seneng yang motretnya dl, baru orang lain.

      bahagiakan diri dulu, baru bisa bikin bahagia orang lain 😀

      terima kasih ainun isnaeni!

  4. Idk. what should I say. Tapi sejauh yang ku lihat, Kak Ady memang selalu bisa menghidangkan sebuah foto yang menurut aku sendiri terlihat bagus dan bernyawa. Untuk aku yang nggak mahir jepret-jepret, hal itu tentu mengagumkan. Untung ada aplikasi editing, jadi meski hasilnya nggak begitu wow kalau pas lagi take photo ya masih lumayan. Ngomong-ngomong tentang foto, aku jadi kepikiran untuk belajar tentang teknik mengambil foto yang baik dan benar hahahah. Masalahnya, yang baik dan benar itu seperti apa Kak Ady?

    1. hmmm… yang baik yang benar itu yang berangkat dari pakem yg ada dl, kan banyak tuh teori-teori fotografi mulai dari segitiga exposure, komposisi, angle pengambilan foto, arah cahaya, banyak deh… nah yang baik yg bener itu yang paham teori dan dipraktekkan, setelah in the box-nya, baru deh bs main-main di area out of the box. karena pada akhirnya foto jg bs jd ekspresi seni. seharusnya ga dibatasi jg. tergantung tujuan. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s