Connecting Dots

circa 2012. Titiran, Bandung. Tumpukan buku

Foto diatas diambil sekitar awal tahun 2012. Waktu itu aku masih kuliah dan lagi rajin baca buku. Itu adalah saat-saat dimana aku sempat ingin menjadi penulis buku. Aku percaya kalo penulis hebat lahir dari pembaca yang hebat juga. so i start to read more books and hoping to be a better writer.
Btw, aku baru menyadari setelah lihat lagi foto ini, ternyata aku sering beli buku dari gagasmedia ya.

titik pertama: menulis

Aku percaya bahwa apapun yang sudah kita lewati dalam hidup ini, serandom apapun, ternyata ga ada yang sia-sia. All we have to do is to look back and see the pattern. Yep, it’s not random, there’s a pattern, we just can’t see it at the time.

Seperti waktu itu, aku suka membaca banyak buku karena ingin jadi penulis yang lebih baik, semata untuk blog dan mungkin bisa bikin buku sendiri. Tapi tentu saja, keinginan itu seperti cinta monyet, sebentar saja. Tanpa keseriusan untuk diwujudkan.

Tapi setelah beberapa buku tebal yang selalu tamat kubaca, lebih banyak buku-buku tipis yang kuhabiskan, dan buku-buku kumpulan cerpen yang selalu paling mudah aku baca dalam sekali duduk, ternyata aku menjadi sedikit lebih baik dalam menulis.

Kenapa tahu jadi lebih baik?– karena setelah aku iseng baca-baca lagi tulisan di blog pertamaku disini sepertinya aku memang sedikit lebih baik. hahaha… pede ya gue.

Surely, dulu aku ga konsisten nulis di blog karena sepi komen (merasa sia-sia, ,ga punya reader) dan memang waktu itu aku kurang punya komitmen. Blogging just for fun, so i write when i feel want to write.


circa 2019. Jl. Sumur Bandung, Bandung. Melihat lebih jelas

titik kedua: fotografi

Waktu itu aku selalu menganggap kalo blog hanyalah sebuah wadah untuk bisa memamerkan apa yang bisa kulakukan dengan fotografi. Jika kita sebagai manusia butuh makan dan minum untuk bisa terus hidup, maka aku sebagai fotografer merasa butuh apresiasi dan pengakuan dari orang lain agar bisa terus bersemangat menekuni fotografi.

Tapi anehnya, setelah sekian lama, meskipun jarang mendapat apresiasi di blog ataupun di jejaring sosial seperti twitter dan Instagram, aku tetap menekuni fotografi. Aku tetap memotret, aku tetap mendokumentasikan kehidupan sehari-hari.

Hunting foto adalah salah satu kegiatan yang kusukai, selain karena punya bahan untuk ‘setor’ ke sosial media dan blog, ternyata berangkat lebih pagi, melawan dingin dan kantuk, berjalan kaki demi kebebasan mengobservasi, merupakan satu aktifitas terapi untukku. Entah mengobati apa, tapi aku merasa lebih baik setelahnya.

Fotografi mengajarkanku untuk melihat sesuatu dengan cara yang berbeda. Bayangan pohon yang jatuh di tembok besar, semburat jingga di ujung horison pada sore yang cerah, gelak tawa pasangan muda yang menghabiskan sore dengan ngopi bareng di kafe halaman, pot kaktus berwarna abu tua di ujung meja kerja yg terkena cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela besar tak bertirai, dan bapak tuna netra yang berdiri di satu titik dipinggir jalan, berkopiah miring yang berharap belas kasih orang lain.

Semua yang dahulu tampak biasa, semenjak mengenal fotografi, caraku melihat cahaya dan apapun yang diteranginya menjadi berbeda.

connecting dots: storytelling photography

Di umurku yang sekarang, opsi menjadi lebih sedikit, tapi aku jadi lebih tahu apa yang ingin lebih kudalami dan kutingkatkan. Setelah aku melihat titik apa saja yang telah kububuhkan di masa lalu dan coba menghubungkannya, it’s so obvious kalo aku butuh untuk lebih banyak membaca buku essay fotografi atau photobook, juga belajar lagi tentang documentary photography yang lebih baik.

Aku tahu kalo selama ini pun aku berusaha untuk melakukannya di blog ini, tapi akupun menyadari bahwa aku belum kemana-mana. masih jauh dari kata bagus. Aku ingin tulisanku mampu menyentuh orang-orang yang membacanya, memberi inspirasi positif dan sekaligus menikmati fotografinya.

Storytelling photography is one thing,but the other thing that i want to improve is marketing and content creating.

bonus dots

Dua hal yang baru-baru ini kudapati menarik. Dua hal yang di era sekarang sungguh sangat melekat dan saling menguatkan. Aku ingin menjadi content creator yang lebih baik dan lebih bisa memahami marketing agar mampu menghasilkan cuan dengan kerja cerdas.

Dan ya… mungkin itu aja yang ingin aku improve di 2021 ini.

Oia, terakhir, sebetulnya aku ingin selalu bisa lebih fokus pada diri sendiri dan mengurangi insecurity karena melihat hasil karya orang lain yang selalu kuanggap jauh lebih baik dariku, tapi CR challenge yang diadakan oleh creameno.com ini sekali lagi membuatku insecure, haha.

Aku telah membaca beberapa yang sudah ikutan, dan kebanyakan sungguh keren dengan cerita yang beda-beda. Jurinya pasti pusing tujuh keliling karena harus mempertimbangkan yang terkeren dari yang keren-keren. Tapi aku akan tetap ikutan dan memeriahkan kompetisi, so i’m definitely in but obviously not to win it.

It’s okay, i had nothing to lose.

And i challenge you to take part and try to be a winner. click here for more detail about the challenge.

See you soon at the top, bloggers.

Best regards,
Adynura, tukang foto yang bercita-cita bisa storytelling dengan keren.

12 replies to “Connecting Dots

  1. Aku melihat Perahu Kertas, Madre, Filosofi Kopi dan buku-buku Raditya Dika di foto 🀭. Oemjii, Kak Ady! Dulu Kak Ady penggila buku-buku ini juga ya 🀭 Bang Radit dulu pujaan seluruh umat manusia Indonesia banget ya 🀣 aku suka ngakak kalau baca buku Bang Radit 🀣

    Menurutku, storytelling Kak Ady udah cukup bagus. Setiap foto yang dipajang, selalu diceritakan dengan menarik dan menyentuh 😍. Jika Kak Ady asah terus skill ini, dalam sebentar saja, aku rasa blog ini akan terkenal 🀭. Nanti kalau udah populer, jangan lupakan aku ya, Kak 🀣 *penting banget*

    Pokoknya aku doakan agar cita-cita Kak Ady bisa terwujud πŸ’ͺ🏻 aminnn.

    1. aku inget dulu pas lagi suka-sukanya buku radit, tiba-tiba tulisanku sok-sokan ngelucu ga jelas gitu, ya ngikut-ngikut cara radit ngejokes di tulisannya, aku mah kayak spons kalo baca, langsung kepengaruh dan terlihat di tulisan, haha..jadi jangan heran kalo nanti tulisanku agak sastra kayka Dee setelah baca aroma karsa, hehehehe…

      wah, makasih Peri kecil, kalopun bagus, itu karena aku selalu melihat tulisannya Lia. beneran.

      dan aku kayaknya ga bakat jadi populer, sukanya di belakang layar, tp kalo populer karyaku mah gpp sih..

      aamiin, terima kasih doanya

  2. Good poin mas Ady :). Tulisannya enak kok dibaca, dan gampang dimengerti dengan adanya subheadings. Beberapa cara yang mas tulis untuk mencapai skill yang ingin dicapai, bisa jd referensiku juga yang pengin improve dalam hal menulis πŸ™‚

    Bener mas, banyak membaca itu sangat mempengaruhi tulisan kita. Menambah diksi dan memperbaiki gaya tulisan πŸ™‚

    Semoga bisa menang untuk artikelnya ini πŸ˜‰

    1. halooow kak fanny…
      wah seriusan enak dibaca?syukurlah berarti aku ada kemajuan πŸ˜€

      iyah, subheadings baru kepikiran dan ngeliat tulisan blogger lain jg yg suka pake subheading. hehehe

      bener banget kak, aku termasuk aneh sih, pengen bisa nulis bagus tapi jarang baca, jadi waktu itu mulai suka baca hanya karena pengen nulis lebih bagus, hahaha…

      Wah, aamiin… walaupun kemungkinannya cuma 1% tapi itupun termasuk kemungkinan yaaa πŸ˜€

      terima kasih kak fanny!

  3. Salfok sama foto yang atas Dy, usia fotonya sudah 8 tahun, hihihi 😍 By the way, saya nggak pernah merasa tulisan Ady jelek, dari awal baca blog Ady, jaman Ady belum seterkenal sekarang *ahem*, saya sudah suka dengan gaya Ady bercerita. Terus karena isinya ringan, jadi saya bisa mengerti dengan mudah, plus cara penyampaiannya juga menggunakan kata-kata yang dapat saya pahami hihihi, alhasil saya pun betaaaah πŸ˜† Ditambah banyak foto cakep di setiap post yang Ady bagikan, jelas ada ciri khas tersendiri di dalamnya. Especially karena setiap foto yang Ady sisipkan seperti bercerita dan melengkapi tulisan yang Ady bagikan 😁

    Saya merasa senang ketika tau Ady akhirnya seriuskan dunia blog bahkan sampai update setiap hari, hehehe, karena itu artinya saya dapat bacaan baru untuk dinikmati ~ jadi saya optimis, jika Ady serius improving, bukan nggak mungkin Ady bisa jadi salah satu bloggers yang diperhitungkan apalagi niche Ady cukup jelas, nggak gado-gado seperti saya πŸ₯³ hehehehe.

    Semoga apapun rencana Ady ke depan, untuk connecting dots, bisa berjalan lancar, dan jangan merasa minder Dy, karena Ady sudah punya satu dua pembaca bucin yang selalu menyukai apapun cerita yang Ady bagikan hahahaha. Semangat~! 😁

    1. kak Eno emang paling tahu cara memuji,

      aku terbang kak……

      semoga pujian ini ga membuatku terlena dan puas diri, tapi memotivasi biar terus improving.

      btw, aku ga tau apakah aku terkenal atau engga, tapi apapun yg meramaikan traffic blogku adalah karena kak Eno juga dengan creamenonya.

      It’s all because of you, dan aku yakin banyak blogger lain merasakan hal yang sama tentang creameno.com

      kak Eno superrrr…

  4. Waah aku dulu juga sering beli buku-bukunya gagasmedia Dy! Jaman-jaman lagi suka cerita new adult-nya sih kebanyakan temanya romance (sekarang malah romance jadi genre paling terakhir yang disukai hahaha) πŸ™ˆ

    Aku merasa storytelling Ady enak kok, cerita-cerita sederhana dan random dari foto-foto yang diambil. Menunjukkan kalau dari selembar foto bisa aja cerita menarik di dalamnya yaa 😊

    Keep going Ady!

  5. Eits, I spot Antologi Rasa-nya Ika Natassa πŸ˜€ itu salah satu Metropop kesukaanku sampai detik ini hihi

    Btw, saya setuju banget lohh dengan membaca banyak membantu kita untuk menulis lebih baik. Kalau nggak salah ada quote dari seorang penulis tentang ini tapi saya lupa hahaha intinya, kita bisa jadi penulis yang baik di saat kita bisa menjadi pembaca yang baik (:

    Jujur walau saya nggak berkomentar di setiap postingan, tapi saya salah satu penggemar fotografi Mas Ady, apalagi kalau udah diselipin cerita. Jadiii, kapan nih kolaborasi dengan Awl dijalankan? XD

    Semangat terus untuk connecting the dots ya! Sukses selalu untuk Mas Ady ke depannya (:

    1. berarti antalogi rasa adalah metropop satu-satunya yang kusuka, hmm… pokoknya yg ditulis ika natassa deh, hehehe…

      iya kak Jane, akupun merasakannya sendiri, setelah banyak baca buku, lebih gimanaa gitu pas nulis, apalagi kalo setelah baca bukunya Dee, langsung tuh tulisanku sok-sokan sastra hahaha…

      terima kasih kak Jane…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
close-alt close collapse comment ellipsis expand gallery heart lock menu next pinned previous reply search share star