Syukur

January 24th. Lengkong, Bandung. koran tribun jabar.

sebuah mukadimah

Aku sudah siap menulis sejak pukul setengah 9 malam, tapi pandaku ini tak hentinya bercerita tentang apapun yang terjadi di hari ini yang ternyata banyak ‘laporannya’ hehehe…

Aku sebagai seseorang yg ingin mempertahankan gelar sebagai pendengar yang baik tentu saja tidak akan mengecewakannya. Akupun menunda menulis dan mendengarkan.

Dengerin sambil nulis aja?– Yakali bisa, ntar malah nulisin yang diceritain, which is so many things.

Now, it’s 11 PM, she’s already fall asleep, i can focus to write.

Kemudian bingung mau nulis apa. as always. but wait, i have something.

travelblog

Oia, sebetulnya aku sudah menyinggung ini di blog sebelah, tapi beda pembahasaan.
Jadi gini, berkat ke-kepo-an diriku clicking akun-akun yang sering comment di blog creameno.com karena ingin nambah list blogwalking, kemarin aku menemukan sebuah travelblog yang selain tampilan webnya yang apik, juga banyak cerita traveling yang sepertinya bakal seru.

Pasti seru. Aku pribadi selalu suka sama travelblog karena selalu bisa mendapatkan cerita perjalanan dan pengalaman selama traveling juga dimanjakan dengan foto tempat-tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Tadi aku sempat lihat-lihat foto salah satu blog post-nya tanpa membacanya. yang lagi di Swiss. Baru buka halamannya langsung disuguhi foto cover post-nya yang sungguh menawan. Mbak Justin lagi sepedahan di jalanan kecil di tengah hamparan rerumputan yang begitu rapi dan bersih. (the blog is here)

Akupun terdiam disitu, menikmati, membayangkan. Gimana ya rasanya kalo aku yang lagi sepedahan disitu, melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya, sebuah dunia baru, warna udara yang baru, bebauan baru.

Aku senang sekaligus sedih. Sedih karena di umur segini, bahkan Balipun belum pernah aku kunjungi, aku belum pernah keluar pulau Jawa. Padahal dunia ini tersedia untuk dijelajahi, untuk dialami, dipelajari, dijejaki oleh kaki sendiri.

Aku memang cukup melankolis, tapi aku bukan orang yang bisa berlama-lama larut dalam kesedihan, jadi ya selama belum bisa kemana-mana yang jauh bahkan keluar pulau Jawa, aku sebaiknya menjadi traveler lokal aja dulu, karena jujur saja, sepertinya Bandungpun belum kujelajahi sepenuhnya, hanya yang umum-umumnya saja.

Pemburu bubur ayam

Lakukan dari yang paling mudah aja dulu seperti berkeliling kota hanya untuk mencari tukang bubur ayam yang belum pernah kami cicipi. Setiap akhir pekan, aku dan panda berubah menjadi seorang pemburu kuliner bubur ayam.

Kali ini kami menemukannya di Jl. Lengkong (which is ga jauh-jauh amat juga dari tempat tinggal) secara tidak sengaja karena matahari udah mulai meninggi, mood sarapan bentar lagi berubah jadi makan siang.

Pokoknya kita berhenti di tukang bubur yang pertama kita lihat, ya!” DEAL!!

Tukang buburnya ga monogami, soalnya ada nasi kuningnya juga. But i stick to the plan, makan bubur ayam, Panda berubah haluan dan memesan nasi kuning. Yang ternyata enak juga.

Jan 24th. Lengkong besar, Bandung. Nasi kuning yang enak.

Aku ga makan nasi kuning semata-mata karena sepertinya terlalu berat untuk dijadikan menu sarapan, tapi aku icip sedikit sih biar ga penasaran aja. So i know that the taste is really good, i want it but i already have my own bubur ayam yang ga kalah enaknya dan mesti kuhabiskan.


*sementara itu, by the time i write this sentences, waktu udah menunjukan pukul 00.05, oke deh sepertinya harus segera diakhiri.

conclusion

No matter how sad and unsatisfied i am with my current situation, yang belum pernah keluar dari pulau Jawa. Ga sepatutnya untuk tidak bersyukur untuk apapun yang telah kualami dan kumiliki.

Untuk bubur ayam yang mengenyangkan, nasi kuning yg harum baunya, untuk laptop yang kupakai menulis di blog ini, untuk koneksi internet yang membuatku menemukan travelblog yang meskipun tidak kemana-mana tapi aku bisa ikut menyelami cerita travelingnya dan foto-fotonya, untuk nafas ini, untuk penglihatan ini, untuk kesehatan ini.

And the list goes on. Bisa sangat banyak, yang saking banyaknya akan membuatku malu untuk tidak mensyukurinya.

Dan bisa saja, tanpa kusadari, apapun yang telah kumiliki hari ini, ada orang yang rela mati hanya untuk bisa berada di posisiku sekarang.

Mungkin, aku cuma perlu untuk lebih sering bersyukur, dan mengejawantahkan rasa syukur ini dalam kehidupan sehari-hari, live to the fullest. Maybe it will lead me to something unexpected…. like traveling to Switzerland or Iceland.

Who knows, rite?


So, that’s it from me now. By the way, let me ask you something, if you can go anywhere in this world, just one, where is it? and in one condition, if you go there, you just can’t go back.

Warm regards,
Adynura, tukang foto dokumentasi traveling lokal.

7 thoughts on “Syukur”

    1. tulisanku yang sepanjang itu bisa dipersingkat dengan komennya ini nih, hehehe.. mantap

      terima kasih abesagara, salam kenal jugaaa! ๐Ÿ˜€

  1. Bersyukur memang koentji oetama untuk hidup yang lebih bahagiaa ya, Kak ๐Ÿ˜Š
    Satu kata yang dapat mengubah segalanya ya “bersyukur” itu ๐Ÿคญ. Sakti banget kata-kata ini, lebih sakti dari peri dah ๐Ÿคฃ

    1. yups, memang selalu jadi koentji agar lebih bahagia. hehehe..

      adynura, jangan lupa selalu bersyukur yaaa… Lia juga ๐Ÿ˜€

      terima kasih peri kecil tinkerLia, ahihihihi…

  2. “Tukang buburnya nggak monogami…” ahahahaha lah iyaa kenapa nyambi jualan nasi kuning ya ๐Ÿ˜‚ tapi nasi kuningnya terlihat enak sih, dan mendadak kepingin makan bubur ayam juga huhuhu

    Dan yessss! Foto-foto travel journal-nya Mba Justin tuh apik-apik! Belum lagi cerita travel-nya yang seruuu dan bikin mupeng jalan-jalan hahaha.

    Ini tulisannya super “hangat” deh, kembali mengingatkan bahwa banyak small joys di sekitar kita yang patut diselebrasi. Sejak pandemi, saya juga ‘dipaksa’ berlatih untuk bersyukur dari hal-hal kecil. Karena saya sadar dengan bersyukur memampukan kami sekeluarga bertahan hingga hari ini (:

    Terima kasih untuk reminder-nya, Mas Ady!

    1. kak Jane, satu pertanyaan: kenapa yang terlihat enaknya itu nasi kuning, tapi justru jadi pengen makan bubur ayam? aku masih merenungkannya nih. hehehe

      iya, aku baru nemuu… telat banget yaa, tp better late than never ya. jadi mau mengejar ketertinggalan dengan keliling dunia di blognya mbak justin ๐Ÿ˜€

      tp agak-agak kuatir, takut jadi mupeng banget sama traveling ke luar negeriii, ๐Ÿ˜ฆ

      Terima kasih juga kak Jane karena blogwalking kesini ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s