Cocky

circa 2012. Punclut, Bandung. night city view.

Foto di atas adalah salah satu hasil foto dari roll film ketiga pertamaku. Fotonya ga fokus, menggunakan lensa portrait 50mm untuk landscape, dan dilakukan di malam hari dengan tripod tipis ringan alakadarnya.

Waktu itu aku masih awal banget main fotografi film. Foto ini mengingatkanku betapa naif dan sombongnya aku. Memotret city view di malam hari dengan lensa 50mm manual focus bukaan terbesar dan merasa akan menghasilkan foto masterpiece. Well, dulu aku tidak terlalu banyak mendapat influence dari sosial media seperti sekarang, jadinya ya pede banget.

Dulu aku merasa kalo aku adalah fotografer paling berbakat, belajar sebentar, lakukan sekali kesalahan dan langsung bisa bikin masterpiece. Itulah aku di awal-awal, dan uniknya saat itu aku merasa bangga dengan diriku sendiri, percaya diri, zero insecure.

Tapi ceroboh, ga mudah menerima masukan dari orang kecuali orangnya punya hasil foto yang kusukai. Selalu merasa cukup bisa hingga tak merasa perlu untuk berkomunitas (yang ini termasuk pembenarannya, padahal mah akunya aja yang males berteman dgn orang baru, lingkungan baru).

Bahkan setelah sekian belas roll film yang kuhabiskan, tahunan berlalu, ternyata ilmuku tentang kefotografian, baik teknis maupun wawasannya masih termasuk rendah. Aku hanya paham mengenai segitiga exposure dan hanya itu yang kuandalkan dalam berfotografi, komposisi seenak perasaan dan meniru foto-foto yang kusukai.

Belum paham soal arah cahaya yang bagus, ga bisa mengarahkan pose yang bagus, belum bisa menjalin komunikasi yang luwes dengan orang yang kufoto, pemilihan lensa sesuai tujuan motret pun masih belum kupahami sama sekali. Bahkan sampai detik ini, aku belum bisa setting lighting di studio foto.

Aku bukannya gak mau belajar, tapi karakterku yang tertutup dan introvert membuatku merasa tidak ada urgensi untuk mengembangkan diri karena terlalu asik dengan diri sendiri.

Dan seiring waktu berjalan, akupun terjebak dalam zona nyaman dan memilih street photography juga fotografi dokumentasi untuk jadi area permainan. Mungkin itu kupilih karena terasa paling mudah dibanding yang lainnya (yang ternyata, lambat kupahami kalo foto street atau foto dokumentasi yang baikpun tidak semudah itu, ada storytelling di setiap momen dan komposisi yg diambil dan blabla banyak lainnya).

Apakah aku sudah berubah? Bertahun-tahun aku seperti ini, dan mungkin butuh sedikit waktu untuk bisa berubah ke arah yang memang kubutuhkan. Tapi yang pertama kuinginkan adalah aku bisa jujur dengan diriku sendiri tentang apa yang kuinginkan dan arah kedepannya mau kemana (in terms of photography).

Key Takeaways

There’s always room for improvements, jangan mudah berpuas diri, teruslah merasa lapar akan ilmu dan pengalaman, dan mulailah untuk jujur dengan diri sendiri, dan itu yang akan kulakukan kedepannya.

Anyway, what do you think about yourself? if there’s always room for improvements, apa yang mau kamu improve saat ini? kenapa?

Meanwhile, i better sleep now because i’m not sleepy yet, but i will pretend i am by closing my eyes. Biasanya sukses.

Best regards,
Adynura, tukang foto dokumentasi.

10 thoughts on “Cocky”

    1. Teh phebie tuh kyknya kalo lagi mood bisa tiap hari ada post baru ya?
      gmn kalo tiap lagi bagus moodnya ada ide yg banyak, di schedule aja postingannya biar ga kadangkala sering trus ngilang..
      atau emang udah dischedule jg?

      apapun itu, sekarang aja udah menarik-menarik topik-topik yg dibahas di blognya, insightful… selalu tercerahkan setelah baca tulisannya.

      kalo aku ngarepnya ya tiap hari dapet tulisan baru, hahahaha…

      atur-atur aja teh pheb,

      btw, aku jg jd suka lihatin teh pheb sama pak Anton debat atau diskusi deh… teruskanlah haha

      1. oh, iya sama berarti, ketika ada waktu buat nulis… bikin beberapa aja trus dijadwalin..
        eh ini kenapa ngasih saran kayak maksa gitu ya?hahahaha…

        diatur aja teh pheb… aku sebagai reader mah cuma bisa senang dan baca tiap ada blog post terbarunya teh pheb,… kalo ga ada, ya nunggu aja

  1. What do you think about myself?
    I do know nothing Dy, setelah belajar banyak, ternyata aku baru sadar aku tuh g tau apa-apa. Maka dari itu ini jadi salah satu bahan bakarku buat belajar terus. Bersyukur pula dikala ketidaktahuanku ini, aku diperkenalkan dengan blogging dan bisa BW ke blog teman-teman. Dari kalian aku jadi bisa belajar banyak hal deh..

    1. ini soal kefotografian?
      ya kita mah 11 12 kyknya,, tp ga bisa dibandingin jg sih, beda-beda soalnya.

      aneh ya ternyata makin kita belajar sesuatu,, makin kita sadar kalo kita itu taunya dikit.

      tapi untukku sendiri memang aku mah blm tau banyak soal fotografi. harusnya sih belajar lagi tapi entah kenapa kok males, ya semoga sambil nekunin satu genre trus sambil menemukan hal baru yang perlu kupelajari lagi, jadi ga in general lagi belajarrnya, udah terfokus 😀

  2. Halo, mas ady. Sepertinya saya belum pernah meninggalkan jejak di sini. Salam kenal, ya… 🙂

    Baca postingan yang ini bikin saya teringat pada Dunning-Kruger Effect. Di situ katanya kebanyakan kita pas baru tau sedikit, udah langsung merasa paling expert. Padahal sebenarnya yang kita tau itu sedikiiiiit sekali.

    Sebaliknya, yang beneran sudah expert banget itu biasanya lebih realistis. Mereka bicara benar-benar berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh bertahun-tahun bahkan puluhan tahun lamanya. Makanya sampai saat ini belum pernah saya ketemu professor-professor yang sombong. Mungkin ada, tapi beruntungnya saya belum bertemu yg seperti itu.

    Mereka umumnya senang berbagi ilmu (dengan bahasa yang relatif ‘membumi’, menandakan kedalaman ilmunya), kalau ga tau juga ga segan-segan buat bilang “sorry, I don’t know about it”.
    Seperti ilmu padi, semakin merunduk karena berisi.

    1. iya, aku sepertinya masih berada di titik merasa expert.

      tapi semoga ya, berproses…. kan setiap orang punya jalan ceritanya sendiri-sendiri, semoga aku dengan menyadari hal ini, akan lebih mau belajar tentang apa yang memang kubutuhkan 🙂

      terima kasih hicha aquino, namanya unik…. itu nama aslinya?
      dan terima kasih sudah meninggalkan jejaknya disiniii..
      you just made my day.

  3. Ada kalanya aku pun cepat merasa berpuas diri ketika baru tau akan suatu hal, dan hal ini sering kejadian waktu awal-awal kuliah. Rasanya lebih jago dari yg lain dan kemampuanku merasa di atas rata-rata, tanpa sadar lupa bahwa lambat laun rasa puas ini nggak membuat aku pingin belajar lebih dalam, sampai akhirnya orang-orang yg kuanggap nggak lebih baik ini melesat jauh ke depan. Sementara aku cuma berakhir melongo, sebab mau mengejar pun sudah terlambat. Meski akhirnya gak ada kata terlambat, munafik kalau aku nggak menyesal atas kelalaian itu. Mungkin karena ini, sekarang macam ada rasa trauma ketika belajar hal baru. Instead of focus untuk mempelajari itu, aku malah seringkali takut duluan dan malah menghindari untuk belajar, yang akhirnya membuat aku nyaman sama dunia sendiri. Terus terang, ini yg sedang aku coba hilangkan, kak Ady😅 Jangan sampai ketidaktahuan membawaku pada ketakutan yg tiada akhir, sebab nggak berusaha untuk melewati itu.

    Duh jadi curhat ini mah wkwkwk, maafkan ya kak😂 soalnya pertanyaan yg terakhir itu lumayan deep, jadi aku ikut mikir keras tentang diri sendiri, dan lumayan menampar diriku buat nggak takut untuk belajar meski ada kesadaran dalam diri bahwa saat kita belajar pun belum tentu kita bisa expert 100%.

    Kalau diibaratkan mungkin kayak latihan berenang, ya🤔. Belajar berenang di sebuah kolam yang kecil nggak lantas menjadikan kita lihai berenang di lautan, tapi dengan kenyataan itu bukan berarti kita nggak boleh melatihnya dengan berenang di kolam kecil terlebih dahulu. Dan saat sudah jago berenang pun, harus tetap aware dengan kondisi air di lautan atau di tempat lainnya😁

    By the way, meski aku nggak tau apakah komentar ini nyambung sama postingannya😂, tapi aku tetap mau bilang terima kasih sudah sharing tulisan ini, kak Ady😄 buatku pribadi menyadarkan sesuatu tentang sebuah proses dan bagaimana untuk nggak bertahan dengan kepuasan diri yg seringkali menipu🤧

    1. Berarti kalo kita udah menyadari kesalahan yang telah kita buat, harusnya ini jadi pengingat dan pegangan kalo mau melakukan hal yang sama, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

      Hayu awl, kita bareng-bareng mencoba untuk melewati rasa takut kita yang ternyata memang selalu menjadi hambatan untuk berkembang, karena satu hal yang kupahami, untuk banyak hal, ketakutan itu memang seharusnya untuk kita hadapi, karena menyesal tidak sempat mencoba itu lebih susah untuk dilupakan dan rasanya ga enak daripada menyesal karena telah melakukannya karena kalo udah mencoba dan melakukan kesalahan, atleast kita bisa belajar dari kesalahan yang kita buat dan selangkah jadi lebih baik.

      Terus terang akupun masih banyak ketakutan dan kekuatiran akan banyak hal, dan mungkin karena terlalu mengikuti ketakutan itu, aku masih gini-gini aja di usiaku sekarang.

      Awl jangan mengulangi kesalahanku yaa.. semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s