Jangan berubah

Aku ingat, dulu kakiku harus jingjit hanya untuk menggapai gagang pintu itu, keluar rumah. Sekarang, gagang itu hanya setinggi perutku. Yang ajaib, gagang itu tidak pernah diganti samasekali.

Dengan foto itu, aku menyadari ada hal-hal kecil yang luput dari perhatian, terdiam di satu tempat, setia, diam-diam menjadi saksi sejarah kehidupan dan pertumbuhan orang-orang yang mendiami rumah itu, termasuk aku dengan masa kecilku.

Aku selalu bilang bahwa yang mampu merekam dan menyimpan momen dengan baik adalah musik, gambar atau foto, dan video atau film. Tapi tanpa kusadari ternyata bendapun mampu.

Seperti gagang pintu, hordeng / gorden jendela ruang tamu yang besar, atau lubang kunci selot yang mungkin hanya diganti pakunya saja. Semuanya nyaris tak berubah. Kadang aku heran, kenapa ibuku begitu apik dalam merawat perabotan di rumah hingga bisa seawet itu.

Semuanya seperti pecahan-pecahan memori dari masa lalu yang setiap kulihat, isi kepala ini langsung bernostalgia. Aku termasuk orang yang beruntung karena memiliki masa kecil yang menyenangkan yang kalo tergugah, hanya suka yang kuingat.

Kini, rumah itu seperti kesepian. Isinya hanya dua orang. Dua orang yang sama ketika rumah itu dibangun. Dua orang yang sama yang merawatnya dengan baik hingga kokoh untuk sekian tahun lamanya, tak banyak berubah.

Kadang aku berfikir mungkin ada beberapa hal yang sebaiknya jangan berubah.

Hmmm… jadi kangen orangtua. Udah lama ga pulang karena covid ini.


Kalo kamu, adakah barang dari masa kecilmu yang sampai sekarang masih kamu pegang dan tidak berubah?


Until then, good night my good friend.
Thank you for keep coming back.

Best regards,
Adynura, while listening to a song by Mayumi Itsuwa – Kokoro No Tomo *brings back memories

10 thoughts on “Jangan berubah”

  1. Huaaa kenapa postingan yang aku baca mellow semuaaaa, mulai dari mba Eno yang bahas orangtua juga, now mas Ady. Aku nggak mau komen tentang rumah, orangtua and etcetera, karena suka sensitive, hahahaha (padahal ngetik ini aku lagi huhuhu).

    Untuk mas Ady, semoga cepat bertemu ibunya, thanks to mas Ady yang sudah tumbuh besar jadi nggak perlu jingjit lagi wkwk, pasti suka minum Boneto ya dulu? Pokoknya aku komen yang lain aja biar nggak sedih, hehe.

    Betewe, aku tahu feeling balik rumah itu gimana, then menyaksikan barang-barang yang mengingatkan akan banyak hal. Ahh yaudahlah aku gagal buat nggak sedih. Mas Ady nulis ini pasti sambil ngiris bawang ya? Sama banget kayak postingan mba Eno.

    1. padahal ga janjian sama kak Eno juga.
      cuma pas lihat-lihat foto, dan foto-foto ini ngingetin sama rumah, trus udah lama ga pulang, jadi tiba-tiba kangen, dan ya gitu deh…

      semoga pandemi ini cepat berakhir agar kita bisa dengan leluasa dan tanpa waswas untuk pulang ke rumah.

      in mean time, biar semua aman, baiknya ditahan dulu keinginannya ๐Ÿ˜ฆ

      Terima kasih sovi untuk komennya
      pukpuk, jangan sedih lagi ya.. kita sama.. semua jg ngalamin ini

  2. WOW KOKORO NO TOMO, jadul amat ini laguuuu ๐Ÿ˜‚ Dulu lumayan suka mendengarkannya meski nggak paham artinya apa. By the way, menjawab pertanyaan Ady di atas, kayaknya nggak ada barang yang saya bawa dari jaman kecil sampai sekarang ๐Ÿ™ˆ

    Paling adanya di rumah simbah atau orang tua saya, itupun lebih ke benda seperti foto-foto di atas. Soalnya rumah simbah saya adalah rumah tuaaa, sudah turun-temurun dari generasi sebelumnya simbah. Bentuk bangunannya pun nggak modern sama sekali hahahaha. Lihat foto Ady di atas, langsung flashback ke gorden di rumah simbah, dan teringat jelas bentuk gagang pintunya ๐Ÿ˜

    Sehat selalu untuk ortu Ady, semoga Ady bisa segera mampir ke rumah orang tua ๐Ÿ˜

    1. haha.. iya itu lagu sering diputer sama ortu pas aku masih kecil, jadi masih terngiang di kepala, juga lagu roxette yang it must have been love. ๐Ÿ˜€

      btw, kak Eno aslinya orang mana kah? ku jadi penasaran.

  3. Huaaa aku jadi mellow pagi-pagi gini karena baca tulisan Kakak ๐Ÿ˜ญ. Aku jadi melihat ke sekelilingku sekarang yang penuh dengan barang-barang yang telah menjadi saksi bisu pertumbuhanku ๐Ÿฅบ semua barang-barang besar seperti lemari, pintu, kloset, semua barang dari aku kecil hahahaha. Meskipun udah dimakan usia tapi beberapa memori di benda tsb masih ku ingat dengan baik. Salah satunya lemari buffet di rumahku, tempat menyimpan koleksi bonekaku, bukuku dan barang-barang keluarga. Salah satu pejuang tangguh yang ada semenjak aku masih kecil ๐Ÿฅบ
    Kak Ady, thank you for bring back the memories!

    1. aku kayaknya keseringan nulis soal nostalgia dan masa lalu ya? hhehehe.. tanpa disadari yaa..

      ah hari ini mah mau nulis soal makanan deh ๐Ÿ˜€

      Liaa.. terima kasih perhatiannya.. udah komen disini, komen di blo sebelah jugaaa ><

  4. Tidak ada yang tidak berubah Ady, semua pasti akan berubah. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri karena akan terjadi.

    Tidak ada pesta yang tidak berakhir.

    Setiap kali saya kembali ke rumah di mana saya besar, banyak kenangan terlintas. Bahkan, ketika rumah itu sendiri secara perlahan tapi pasti bahwa ia sedang berubah, kenangan-kenangan itu tidak berubah di kepala.

    Di sana ada kasih sayang, ada ibu dan bapak, ada kakak dan adik. Banyak yang tidak berubah dalam kenangan saya, meski secara fisik, mereka semua berubah

    1. iya pak Anton, kenangan yang selalu hangat di kening. tapi aku termasuk orang yang pelupa, jadi selalu butuh sesuatu untuk mengingatkan kembali, banyak hal yg bisa ngingetin, salah satunya foto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s