Tidak Pernah Merasa Cukup

Saat itu, tepat tengah hari, aku di lantai dua kosanku semasa kuliah. Foto ini adalah salah satu hasil dari roll film ke-6 dengan lensa yang baru kudapatkan di kaskus FJB. Lensa prime Pentax 300mm, sebuah lensa tele yang bisa menangkap objek di kejauhan tapi berasa dekat. Lensa yang sebenarnya cocok sekali untuk foto hunting human interest di jalanan, karena kita bisa ‘mencuri’ gambar orang tanpa mereka sadari, dan hasilnya terlihat dekat (padahal jauh)

Pada saat itu, entah kenapa tapi aku selalu lebih tertarik memotret para ‘senior citizen’ yang mana pada umur tersebut, mereka masih berusaha dan seolah tidak tahu apa itu ‘masa pensiun’.


By the way, meskipun pada waktu itu aku berada di lingkungan kosan yang isinya cowo semua, yang ga mungkin ga rame, yang pasti ada aja keributan lempar candaan, haha hihi terus, tapi ada kalanya ketika aku cape dengan interaksi seperti itu, aku selalu memisahkan diri, hanya ingin sendiri di kamar, di taman, atau di lantai dua kosan yang sebetulnya adalah tempat jemur baju.

Pada waktu itu, di lantai 2 tempat jemuran itu, ditengah mode recharge dengan bersendirian, kamera ditangan dengan lensa baru 300mm yang sudah terpasang, akupun iseng melihat ke seberang jalan, siapa tahu ada sesuatu yg bisa kupotret (dan yg worth it, karena tiap jepretan itu mahal, hehe).

Seketika itu aku langsung diperlihatkan dengan sosok bapak-bapak penjual peralatan rumah tangga yang sedang istirahat duduk sambil menunggu dan berharap ibu-ibu yang lewat mau membeli barang jualannya.

Sesekali lirik kiri, lalu lirik kanan. Tetap mencari dan berharap ibu-ibu calon pembeli.
Dengan beralaskan sendal jepit yang kuyakin sudah dipakai berjalan kaki ribuan langkah setiap harinya, memikul beban barang jualan di pundaknya, beliaupun bergestur duduk dengan tenangnya.

Raut wajah itu, anehnya tidak menunjukan keletihan karena membawa beban barang jualan yg belum laku banyak, malah seolah menunjukan ketenangan dan keyakinan bahwa di akhir hari, dirinya akan mendapatkan uang yang cukup untuk makan bersama keluarganya di rumah. Rejeki sudah diatur, yang penting berusaha dulu.

Dari situ, aku berfikir, kenapa ya selalu ada orang-orang yang merasa cukup dengan segala kesederhanaannya bahkan mungkin dengan sedikit kekurangan. Padahal di sisi lain, ada juga orang yg sangat berkecukupan tapi tidak pernah merasa cukup, selalu ingin lebih dan lebih.

Kadang… aku takut menjadi orang kedua, yang tidak pernah merasa cukup.


Btw, apa cita-cita tertinggi kamu dalam hidup ini? yang ketika kamu berhasil mencapai atau mewujudkannya, lalu kamu puas kemudian merasa cukup?


Good night, my friend.
Adynura,

12 thoughts on “Tidak Pernah Merasa Cukup”

  1. Salfok sama fotonya, jadi mau makan baso besok hahahahahaha πŸ˜‚ By the way, as usual, fotonya bercerita, bapak itu pun kesannya sedang duduk santai, seperti percaya kalau nanti rejekinya akan datang 😍

    Ummm, bicara mengenai cita-cita tertinggi, pernah saya tulis kayaknya di blog, hidup kaya raya mati masuk surga *ditimpuk sendal* Wk πŸ˜‚ Untung takaran kaya raya setiap orang beda yah, hahahaha. On a serious note, saya pernah hidup dengan greedy, namun pernah pula hidup dengan rasa cukup. Saya anggap itu fase belajar dan pendewasaan πŸ˜†

    Kalau sekarang jujur, sudah puas being greedy yang ternyata nggak ada habisnya, so I decided to change and be better demi ketenangan hidup biar nggak capek kejar-kejaran sama achievement sekitar πŸ€ͺ In the end, kita semua berproses, nggak apa kalau pernah dalam lingkaran greedy, asal cepat sadar dan kembali pada jalur yang benar πŸ˜‚

    1. itu mah ideal banget, hidup kaya raya mati masuk surga πŸ˜€

      Ini bisa jadi pelajaran buatku, belajar dari pengalaman kak Eno.
      Tapi kalo bicara berproses, apakah belajar dari pengalaman orang lain itu termasuk melewatkan proses pendewasaan yg seharusnya kita lalui sendiri juga?

  2. Tulisan Kak Ady membuat hatiku terenyuh πŸ˜–. Aku jadi teringat oleh seorang kakek yang setiap hari ketika aku lihat sedang gowes atau dorong sepedah dengan gerakan yang sangat lambat (sepertinya beliau terkena parkinson) dan nggak tahu kemana tujuan sang kakek, pokoknya setiap hari rutin seperti itu. Malam jam 10 aja baru tiba di daerah rumahku dan aku yakin perjalanan pulangnya masih sangat panjang, tapi beliau tetap demikian setiap harinya πŸ˜–. Aku selalu sedih lihatnya sebab kadang muka beliau udah letihhhh banget, dan kadang kalau ada yang kasih beliau uang, beliau sampai nangis πŸ˜–. Kenapa orang setua beliau masih harus berkegiatan seperti itu? Yang selalu aku pertanyakan karena sepertinya beliau ini sedang bekerja/menuju tempat jualan.

    1. semoga kakek yg Lia maksud mendapatkan ganti yang jauh lebih baik karena telahh bersabar menjalani hidup didunia yg sebentar ini.

      Aku suka mempertanyakan hal itu dan kasihan, juga kuatir. Kuatir kalo masa tuaku seperti itu jg.

  3. Mereka sih levelnya sudah nggak overthinking bagaimana dan mengapa, mas. Praktis aja, urusan perut, kalau nggak jualan ya pnggak makan. πŸ˜… Survive di hari ini saja sudah bagus.

    Ada rekan yg fotografer yg dimarahi saat mau curi-curi foto human interest, targetnya bilang kurang lebih gini, tolong jgn foto mas kita itu org susah bukan obyek foto..

    Itu lumayan berpengaruh bagi saya utk berhati-hati dlm memilih obyek human interest..setiap org punya harga diri dan seringkali yg tersisa hanya itu. Pasti mereka ingin di abadikan dlm kondisi dirinya yg terbaik.

    Tentu saja ini tdk mungkin diterapkan dlm foto jurnalistik ya..πŸ˜… kalau bkn krn pekerjaan kita punya pilihan..

    1. nah itu pheb yg jadi kebimbanganku jg kalo lagi hunting street, tp ada jg yg bilang kalo siapapun yg berada di ranah atau area publik, maka ga ada larangan untuk mengambil fotonya, tentu itu kata fotografer2 yg di luar Indonesia.

      Memang yang paling bagus, bahkan lebih menyenangkan jiwa adalah dengan mendatangi orang-orang, berinteraksi, ngobrol, siapa tau dapet cerita, dan minta izin untuk ambil fotonya.

      Pernah satu waktu nyoba banget hal itu, padahal effort banget karena harus melawan ketakutan, eh pas berani, orangnya minta duit sebagai izin fotoin, haha.. ya dikasih aja yg ada disaku πŸ˜€

      disitu malah agak kapok, harusnya engga ya, kan ga semuanya seperti itu.

      Tapi udah lama ini ga foto HI yg emang portrait seseorang banget, paling fotoin dgn lebih wide aja

      Terima kasih Phebie!

  4. Aku juga suka kepikiran orang-orang yang biasanya jualan dipikul tuh, rata-rata udah sepuh tapi kok yaa masih kuat mikul beban berat dan jalan kaki jauh? Memang mungkin mereka udah terbiasa sih dengan pekerjaan sehari-hari mereka, kalau ga kerja, ga dapet duit buat makan 😦

    Ku juga salfok nih sama warung bakso di belakang si bapak, enak kayaknya makan bakso pakai tetelan πŸ˜€

    1. iya, mungkin begitulah realitas masyarakat di kita dan dimanapun sih sebetulnya. beda-beda jalan hidup dan cara menjalani kehidupan.

      Btw, terakhir kesana, tukang basonya udah ga ada, ganti jadi barbershop gitu ya.. pokoknya udah beda lagi.
      Daerah itu emang cepett banget perubahannya, buka toko, kalo ga laku-laku yg tutup, ganti lagi usaha orang lain lagi.

  5. Kadang aku suka berpikir, kak Ady, resep cukup itu harus tanpa sadar diresapi, bukan sekadar dirasa, “oh gue udah cukup, nih”. Sebab yang ada kita malah akan merasa kurang lagi, kurang lagi. Jadi, lebih ke penerimaan dalam diri. Dan mungkin itu juga yg terjadi dengan bapak penjual itu🀧 walaupun dari luar hidupnya terlihat kurang cukup, tapi setidaknya hidup beliau gak sekompleks kita yg harus dihadapkan dengan masalah insecurity, pekerjaan, bahkan masalah dengan orang lain, gak cuma masalah financial. Yah, tapi memang balik lagi beda preference sih, ya kak. Seseorang hidup tergantung pengalamannya juga, soalnya. Mungkin di masa sekarang ini memang permasalah kita lebih kompleks, jadi susah merasa cukupnya, IMOπŸ˜‚

    Kalau cita-cita tertinggi, kayaknya bingung deh, kak. Takut salah berucap, nanti malah jatuhnya impianku kurang tinggiπŸ˜†

    1. Setuju, merasa cukup itu lahir dari diri sendiri dan pasti beda-beda tiap individunya.
      Semoga kita bisa merasa cukup tanpa harus berlebih-lebihan dulu. tapi ukuran berlebih-lebihan pun berbeda ya?

      Eh, emang kata siapa impiannya kurang tinggi?
      ini malah jadi penasaran lho.. apa cita-citamu?

  6. Fotonya bagus bangettt. Kalau lihat dari setiap thumbnail tulisan di blog ini semuanya menarik perhatianku πŸ˜€

    Sebetulnya cita-citaku sekarang ini inginnya hidup cukup, hidup sederhana *duh ngebosenin banget jawabannya* πŸ˜‚ ada masanya kuatir dengan berbagai hal, khususnya saat pandemi ini datang. Tapi justru di tengah kesulitan ini, saya malah belajar untuk bersyukur selalu. Dengan bersyukur, hidup pun terasa cukup. Setidaknya masalah hari ini, ya cukup sehari. Terlalu sibuk mikirin masa depan, ujung-ujungnya lupa menikmati hari ini πŸ˜…

    Terima kasih untuk tulisannya, yaa. Sederhana, tapi ngena di hati (:

    1. ih mantep banget kak Jane kata-katanya
      “terlalu sibuk mikirin masa depan, ujung-ujungnya lupa menikmati hari ini”

      betul banget itu.
      nikmati hari ini, saat ini, karena masa depan juga belum jelas akan sampai atau tidak.

      Foto-fotonya cukup mengundang ya, pas dibuka….?hahaha… ya semoga terhibur dengan foto-fotonya yaa πŸ˜€

      jangan kapok blogwalking kesiniii

      dan terima kasih sudah berkunjung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s