Mistakes

Biasanya, kalo aku menyertakan foreground yg blurry pada foto itu bertujuan agar si subjek foto bisa terlihat lebih fokus atau sharp sehingga orang yang melihat fotonya akan langsung tahu mana yang jadi fokus foto. Dan itulah yang kulakukan pada foto diatas.

Tapi setelah fotonya selesai dicuci dan discan, aku malah dapet kesan perbandingan. Perbandingan antara temenku yg jadi foreground blurry, dengan kepala yang menunduk terkesan sedang memikirkan sesuatu atau sedang dalam kesedihan, sedih karena sendirian, sedangkan di sisi lain ada seorang nenek dengan kedua cucunya yang lagi menikmati suasana sore di taman kota, menghirup udara segar, menikmati kebersamaan sebagai sebuah keluarga.

So, terkadang secara tidak disengaja, hasil foto bisa memberikan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan tujuan pas motret. terlebih karena aku pake film dimana ga bisa langsung tahu hasilnya, jadi hal itu bisa lebih sering terjadi. Tapi, itulah salah satu excitement menggunakan film, ada harap-harap cemas takut ga jadi gambarnya, kebakar semua, takut blur, takut terlalu over exposure ampe cuma warna putih aja yg keliatan, atau sebaliknya, under exposure yg gelap dan warnanya jadi butek.

Dan semua kekuatiran yg kusebutkan diatas pernah kualami, yang paling parah adalah pernah satu roll ga jadi semua karena ternyata selama roll film itu terpasang di kamera, roll filmnya ga muter alias diem aja kayak yang ga dipake. itu terjadi karena ternyata yg kokangannya ga “ngait’, dan waktu itu aku masih awal-awal, ngerasa normal-normal aja, pede. Padahal selama roll film itu terpasang, aku udah foto kemana-mana, fotoin panda lagi di taman, dan dengan pedenya aku mengarahkan pose, dan doi pun tersenyum … for nothing.

Ya, begitulah, kesalahan terjadi untuk jadi bahan pembelajaran agar lebih teliti dan jadi lebih baik lagi. Most of the time, i earn precious experiences by making mistakes.


Terakhir, aku sedikit tergelitik ketika baca blog postnya kak Eno yg 100million yang bagian dimana si kesayangannya punya skill dan tahu dia jago di bidang apa dan dia investasi diri dengan upgrade skillnya itu agar nilai jualnya naik. Aku tergelitik karena ketika aku tahu kalo aku ingin lebih jago lagi di bidang fotografi, tapi aku ga pernah investasi diri untuk upgrade skill fotografi dengan mengikuti kelas fotografi atau ikutan komunitas fotografi tertentu. Selama ini hanya mengandalkan learning by doing, otodidak.

Kalo ikut kelas fotografi, biasanya masalahnya ada di budgeting yg ga pernah masuk, tapi kalo ikutan komunitas… hmm.. kadang aku merasa terlalu tua untuk masuk ke ranahnya anak-anak muda itu. Ga pede jadinya.

Atau, mungkinkah aku yang terlalu sombong dan merasa bisa sendiri?

12 thoughts on “Mistakes”

  1. Dy, cuci sama scan film 1 roll bayar berapa? Hehehe, jadi interest mau beli disposable camera *benar nggak ini namanya?* buat belajar hahahaha. Penasaran hasilnya ๐Ÿ˜‚

    Eniho, soal si kesayangan, upgrade skill itu nggak melulu harus keluar uang untuk kelas atau join komunitas. Ady bisa upgrade dengan menaikkan jam terbang, belajar otodidak, atau baca-baca tulisan profesional. Itu pula yang dilakukan si kesayangan.

    Dia nggak ikut kelas apalagi komunitas, nggak ada waktunya. Jadi dia fokus upgrade dengan lebih rajin studi, baca-baca jurnal IT, terus otak atik sendiri dan tentunya sambil garap proyek company ๐Ÿ˜„ So, semangat ya Ady ~

    1. cuci-scan murah kok kak, paling murah 35rb, tp rata-rata 45ribuan, itu udah di develop dan dikasih soft file hasil scannya
      di Bali ada yg murah, namanya Ojisan film lab (akun ig: @ojisanfilmlab)

      wah?
      Siap kak! semangat untukku!

      1. Maaf ikutan nimbrung ๐Ÿ˜‚
        Tapi aku pernah ingin beli disposable kamera yang Fujifilm itu tapi aku galau sampai akhirnya nggak jadi beli ๐Ÿ˜‚
        Galaunya karena aku nggak yakin jaman sekarang masih bisa cuci cetak film, galau yang ke-2 karena aku nggak tahu kameranya harus diapakan kalau filmnya habis. Dibuang gitu? ๐Ÿ˜‚

      2. Aku pribadi blm pernah nyoba pake disposable cam, tapi kalo dari namanya seharusnya itu kamera cuma bisa dipake sekali, kalo roll didalamnya udah abis, yaudah, ga bisa dipake lagi.
        Lia domisili mana?kalo Jkt, masih banyak lab yg nyediain servis cuci scan, search aja di IG, banyak akunnya jg kok ๐Ÿ™‚

        Ayo ayo coba, biasanya kalo ngeliat pengalaman orang, ada aja yg ketagihan dan malah akhirnya jadi maen film (bukan jadi artis yaaa..)

  2. Learning by doing juga ga ada salahnya Dy. Bukankah di internet itu banyak sekali ilmu dan bisa dipraktekkan. Memang biasanya kurang teratur, tetapi kalau untuk upgrade skill mah bisa saja asal ada kemauan.

    Jangan pernah malu bergabung dengan orang yang lebih tua atau yang lebih muda. Sekat kayak gini ini yang menghambat perkembangan diri. Bebaskan saja pikiran dan melangkah maju.

  3. Setuju sama komentarnya Kak Eno, upgrade skill g cuman dipenuhin sama 2 cara tadi. Kamu yang udah punya jam terbang tuh termasuk upgrade skill loh!

    Tiap orang punya kondisi yang beda-beda. Aku pun awalnya mikir kayak kamu, aku nih sombong apa gimana ya, kok g mau ikutan komunitas. Tapi setelah ditelusuri, akunya g nyaman, enakan nyari foto sendiri. Lebih tenang dan dapet vibes nya ketimbang rame-rame. Kamu pun dengan senang hati berbagi cerita di blog ini, jadi aku rasa ini g sombong kok.

    1. well pipit, sedikit banyak, kita ada kesamaan ternyata ya, karena ternyata kamu bisa memahami.
      Karena aku takutnya kesombonganku ini membuatku jadi stuck dan ga bisa maju lagi. butuh sesuatu atau seseorang atau banyak orang yg ngingetin “hey, jangan diem ditempat terus, jalan dong..” karena kadang-kadang aku berfikir kalo aku rada lelet untuk maju atau diajak maju. hmmppp…

      but, thank you Hey Pipit untuk komenmu ini! it’s always my pleasure reading a comment from you.

  4. Saya suka ikut komunitas foto..teman2 semua baik2..kebanyakan dr mrk jago2 banget tp rendah hati. Kita sering kumpul2 biasanya ketemu dia lagi dia lagi..

    Dengan ikut komunitas kita memang akn dihadapkan pd kenyataan bahwa ada yg lebih hebat dari kita. Buanyak. Sebanyak profil IG. Tinggal bgmn mengambil hikmahnya

    1. Nah, akupun meyakini hal itu soal orang-orang yg berkomunitas karena orang yg aktif berkomunitas itu cenderung lebih cepat berkembang.
      tapi… ya gitu kalo aku, i have a little problem with my self confidence.

  5. jadi ini pake kamera film? awalnya aku mengira kamera dslr atau mirrorless gitu, dan waktu liat fotonya aja, aku berpikir “kenapa aku ga bisa fokus hasilin foto model begini, atau akunya yang nggak bisa hahaha.
    join komunitas juga nggak ada salahnya, malah dapet banyak networking juga, mungkin ada ilmu baru yang sebelumnya nggak pernah kita tau walaupun udah belajar banyak secara otodidak
    semangatt kakakk

    1. iyah, ikutan komunitas itu ga pernah salah, banyak bagusnya malam, dapet networking, temen baru, dan ilmu baru dari temen-temen komunitas.
      tapi ya gitu, kadang ga pede aja gitu…hehehe

      semangat untuk kita, Ainun Isnaeni (btw, blogmu apa alamatnya?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s