Formula

Startup, drama korea yang menceritakan mostly tentang perjalanan startup dengan segala problematikanya dan tentunya dengan drama percintaan. Kdrama ini lagi booming dan banyak dibicarakan karena ceritanya yang menarik, juga ada pria yang sepertinya merebutkan satu cinta. Ada tim Jipyeo dan tim Dosan.

Tapi buatku pribadi kenapa nonton kdrama ini adalah karena judul dan sinopsisnya, jadi penasaran akan seperti apa drama korea menggambarkan lika liku tech startup. Dan sampai aku nulis ini, baru beres nonton episode 13 and so far so good. Aku sangat terhibur dan sekaligus tercerahkan tentang gambaran dunia startup walaupun ditambahkan drama untuk membuatnya lebih menarik.

Seperti formula film yg menginspirasi pada umumnya, selalu dimulai dari sosok si lemah yang berusaha untuk bangkit, lalu di tengah jalan menemui kendala, kemudian gagal tapi tak patah arang, bangkit lagi dan menjadi lebih kuat. Si lemah pelan-pelan mampu membuktikan diri dan menjadi lebih baik lagi.

Kemudian aku merefleksikan formula itu pada diriku sendiri. Akupun merasa sebagai seseorang yang lemah dan ingin membuktikan diri. Tapi…. yang membedakanku dengan formula cerita film itu adalah aku tidak pernah merasakan kegagalan yang membuatku terbakar semangat, termotivasi dan bangkit jadi lebih baik lagi.

Kenapa?
satu-satunya yang terlintas adalah karena aku yang tidak pernah berani untuk mencoba. Kalo formula itu adalah satu kebenaran dalam hidup, maka syarat untuk mendapat kesuksesan dan keberhasilan adalah harus melewati satu fase bernama kegagalan. Dan Kegagalan tidak bisa didapatkan kalo tidak pernah mencobanya.

So, my problem is.. i’m a few step left behind. Aku harus mau mencoba sesuatu yg baru, ‘menyambut’ kegagalan, mendapatkan pengalaman dan pelajaran berharga dari kegagalan, dan bangkit menjadi lebih baik dari sebelumnya.

But hold up, it’s just the theory. it’s easy to write it on or to say. Seringkali susah untuk dilakukan.

My problem is fear. Fear of getting out from my comfort zone and exploring the unknown. My mind keep telling me that i shouldn’t take that risk, just live with the easy one.

Tapi, apakah formula itu benar adanya di kehidupan nyata?

PS: Foto di atas adalah foto yang setengah terbakar karena memang begitulah biasanya yg terjadi untuk jepretan pertama. Menurutmu apakah foto itu setengah sukses, setengah gagal, benar-benar sukses atau sama sekali foto gagal?

3 thoughts on “Formula”

  1. Hola mas Ady udah lama banget rasanya nggak menyapa di sini. Ngomongin leave our comfort zone behind, aku juga belum melakukannya kayaknya. Namun, sejauh ini aku bangga sama diriku karena kalau dilihat lagi kebelakang ternyata aku sudah banyak mengambil keputusan yang kalau dipikir lagi aku lansung bilang kayak gini “Ya ampun nggak nyangka gue bisa mutusin ini”. Karena kalau dilihat dari diriku yang nggak berani-berani amat, aku puas, hehe.

    Apapun itu semoga mas Ady nanti bisa perlahan meninggalkan zona nyaman, kalau memang itu yang mas Ady butuhkan, ada yang bilang slow progress is still progress, nggak tahu ini nyambung apa nggak hahaha.

    Terakhir sewaktu mas Ady bilang exploring the unknown, aku reflek nyanyiin lagunya Elsa yang “Into the unknown…..into the unknown….into the unknowwwwwwwoooon… haha. Selamat pagi mas Ady, semoga tidak kesal mendengar suara emasku, wkwk.

    1. Alohaaa Soviaa… tahu gak setiap nulis atau nyebut nama sovia, kesannya kayak manggil temen bule rusia, hehehe… emang dangkal sih gue

      Masalahku dari dulu adalah keraguan atau bahkan ketakutanku terhadap lingkungan baru, orang-orang baru. Aku termasuk orang yg ga bisa membaca karakter orang tapi sekaligus ga mudah percaya orang. Jadinya setiap bertemu orang baru, aku selalu memilih untuk tersenyum lebar dan mencoba positif, tapi rasanya cape. i dont know why.

      Dan oleh karena itu, setiap ada pertemuan atau kopdar suatu komunitas seperti motret bareng misalnya, padahal kalo ikutan bakal dapet temen dan relasi baru, tapi keraguanku selalu membuatku sukses untuk menghindar, akhir selalu menjadi sosok yang tetap hadir di dunia maya saja. dan ternyata untuk kebanyakan orang, hadir maya saja tidak cukup.

      Dan mungkin saja, hal itu yang membuatku stuck. jadi, itu adalah satu rintangan yg harus segera kutanggulangi, ketakutanku akan sesuatu yang baru.

      Dan terimakasih sovia telah berkunjung kesini dan karena ga lupa berkunjung ke blog ini. hehe…
      it’s always nice to read a comment from you, sov

  2. Baca tulisan ini jadi ingat kata Roy T. Bennett salah satu yang paling saya suka karyanya, “We have to be honest about what we want and take risks rather than lie to ourselves and make excuses to stay in our comfort zone.” hehehehehe 😁

    Memang kalau mau sukses, nggak ada pilihan lain Dy, selain ke luar dari comfort zone kita, dan belajar dari kegagalan demi kegagalan. If we are lucky enough, mungkin kita nggak perlu menghadapi kegagalan. Tapi satu yang terpenting, mau mencoba 😆

    Selagi masih muda, selagi masih banyak kesempatan dan pilihan ada di depan mata, selagi peluang di mana-mana hehehehe. Namun, jangan gegabah, perlu pertimbangan, dan cencunya investasi which is investasi yang pertama perlu dilakukan adalah investasi otak 😍

    By the way, saya rasa, Ady sendiri sudah mulai perlahan ke luar dari comfort zone Ady, dengan Ady mulai menulis daily, mulai mau berbagi lebih banyak soal pemikiran Ady, even now, bahkan membahas hal yang nggak bersinggungan dengan fotografi. You make a progress day by day, Dy. Hehehehehe. Mungkin, tanpa ada sadari, kelak, Ady akan bisa sukses. So, keep trying 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s