Hanya sebuah alat

Setengah jam sudah, aku termenung mencoba menuliskan sesuatu sebagai pengantar dari foto-foto ini. Sesuatu yang bisa lebih dalam dari sekadar “keliatan bagus aja dengan kolam sebesar itu. merefleksikan rumah-rumah di sekitarnya”.

Tapi susah juga ya, karena memang alasan satu-satunya ngambil foto ini hanyalah karena memang kayaknya bagus aja. That’s it.

Tapi setelah aku edit dan lihat-lihat lagi, ternyata ga sengaja ngambil foto sesosok pria yang sepertinya lagi mengerjakan perbaikan rumah di bagian atasnya dan tepat dibawahnya ada seseorang yang lagi memanen tebu yang tumbuh di sekitar kolam.

Lalu di foto terakhirpun ternyata ada dua orang yang sedang memperbaiki atap rumah.

Lalu akupun mulai merangkai sebuah cerita dari foto yang kudapat, dan kali ini aku tidak menemukan apapun di kepala ini. Buntu.

Disini aku mulai memahami bahwa yang terpenting itu bukan fotonya dulu, tapi apa yang mau disampaikan dengan bantuan sebuah foto. Karena pada akhirnya, yang harus kita sadari bahwa foto hanyalah sebuah alat. Alat untuk memvisualisasikan perasaan, cerita, dan imajinasi.

Dan seringkali aku tidak melakukannya, termasuk di hari minggu kemarin ketika aku mengambil foto-foto ini.

Atau, kamu punya pemikiran yang berbeda denganku? let me know in the comment.

Until then, bye for now.


Warm regards,
adynura,
sambil mendengarkan musik instrumen bernuansa hutan dan mulai mengantuk.

4 thoughts on “Hanya sebuah alat”

  1. Bagus Dy yang foto bapak bapak lagi potong tebu ya, itu? Dapat angle-nya pas beliau lagi potong, bisa ngepasssss 😂

    Iya yaaa, nggak kepikiran kalau foto tuh enaknya berdasarkan cerita apa yang mau disampaikan. Selama ini buat saya, foto mostly hanya untuk pemanis saja, jadi nggak berpikir jauh ke sana 😂

    Pantas kadang lupa, ada foto tapi nggak tau itu di mana dan alasan jepretnya apa 😅

    1. kalo bicaranya soal bikin caption instagram atau nulis blog, akan gampang kalo kayak gitu, tapi fotografi ya gimana si pemotretnya aja, mau jd pemanis jg oke pisan, there’s no right or wrong

      Nah stok fotoku yg digital seringnya gitu kak, tp selama bisa mengarang indah, ya… gitu deh, hahaha, tp yg kurasakan, nulis karena jujur berdasarkan kejadian dan perasaan itu jauh lebih mudah daripada mengarang indah.

  2. Hm.. pas ditanya sama Ady aku jadi mikir. Foto buatku apa ya?
    Kalau di aku, semua itu alat. Foto, tulisan, dsb. Alat atau mediaku untuk bercerita. Mereka saling melengkapi dan memberikan pengalaman yang indah untuk orang-orang yang menikmatinya. Kayak kamu nih, foto-fotomu ini adalah media di mana kamu ingin menyampaikan sebuah cerita. Tapi karena nggak semua orang bisa menangkap dengan visual saja, maka kamu menambahkannya dengan media tulis agar ceritanya semakin clear serta kuat pesannya. Jadi orang-orang tidak berasumsi semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s