Converse Gunung

Setiap ngeliat foto ini, aku selalu senyum sendiri, lebih ke mentertawakan diri sendiri sih, soalnya setelah pulang dari puncak gunung Manglayang ini, aku langsung buang sepatu converse-ku yang low top warna cream. Hmmm.

Kok dibuang? apa hubungannya sepatu converse sama naik gunung?

Ga usah bingung. Jadi gini lho temanku, dari dulu bahkan sampai sekarang, aku adalah pecinta alam yang cukup menikmati keindahan alam dari kejauhan dan dengan kenyamanan, aku bukan pehobi naik gunung yang punya alat-alat proper untuk naik gunung dan camping, ransel gede ga punya, apalagi tenda, termasuk sepatu gunung, akupun ga memilikinya.

Satu-satunya alasan kenapa aku ikut mereka naik adalah keinginanku untuk memotret perjalanan naik gunung dengan kamera film pentax k1000. Hanya dengan modal seadanya, pake tas biasa yg buat ngampus, dan sepatu…. sepatu yang kupunya saat itu adalah sepatu converse.

Tahu sendiri kan converse itu diciptakan untuk apa? untuk dipake di daerah perkotaan dengan aspal dan tembok betonnya, bukan di tanah, apalagi tanah berlumpur. Kalian tahu apa yang terjadi? Haduuuh… ternyata tanahnya basah. Pas naik sih kayaknya ga terlalu parah, masih bisa lah naik pake converse, itupun nyari pijakan yang berumput dan bukan tanah.

Tapi besoknya pas turun, becek dong… and you know what? I CAN’T STAND ON MY OWN FEET! setiap satu langkah turun, langsung tuh tergelincir. EVERY.. FREAKING.. STEP…! tergelincir lagi, jatuh lagi, ampe pantat sakit, dan saking seringnya jatuh ampe kesel sendiri, akhirnya aku turun dengan cara duduk dengan melibatkan kedua tangan sebagai penopang.

Saat itu, pada momen itu, hidup rasanya berat banget, tugas-tugas kuliah yang menumpuk jadi terasa bukan apa-apa. Momen itu sepertinya adalah salah satu momen paling berat dalam hidupku, Hmmm…

GA MAU LAGI NAIK GUNUNG MANGLAYANG! RIPUH…!

Pas nyampe kaki gunung menuju peradaban, sepatu converse-ku udah ga jelas lagi rupa dan bentuknya, kotor mah udah jangan ditanya lagi. Aku inget banget pas nyampe kosan, kedua sepatunya langsung kucopotin dan pada momen mau membuangnya ke tong sampah, aku berkata pada sepatu itu…

“Terimakasih banyak atas semua kenangan dan langkah bersamamu, terlebih untuk momen terakhir kita, aku minta maaf ya karena salah mempergunakanmu, tapi kamu sudah tidak layak lagi, kita berakhir disini“.
Dan itu adalah sepatu converse terakhirku.

Tapi apakah itu membuatku membenci mengenangnya dan ga mau lagi lihat foto-foto yang mengingatkanku akan hal itu? anehnya engga. Terkadang, momen-momen ‘mengerikan’ seperti itu atau mungkin pengalaman memalukan adalah momen-momen yang paling seru untuk dikenang, hehe.

Dan hal lain yang kupahami dari pengalaman ini adalah bahwa sejelek-jeleknya peristiwa yang kita alami, selama waktu berputar, semuanya akan berakhir dan berganti dengan hal-hal menyenangkan, karena begitulah hidup, suka dan duka silih berganti, ada momennya sendiri-sendiri. Kita hanya perlu untuk menjalani semuanya.
Dan satu lagi, what doesn’t kill, will make you stronger. So, buat temanku disini yang mungkin sedang mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, jangan kuatir. karena pada waktunya, semua itu akan berakhir.


pemandangan setelah turun gunung karena pas di puncak, fotonya gagal

Btw, sedikit menyimpang, kalo misalnya aku punya mesin time traveler dan kamu punya satu kali kesempatan naik, mau ke masa depan atau ke masa lalu? dan kenapa?

8 thoughts on “Converse Gunung”

  1. Kebayang banget deh naik gunung pake Converse :p. Becek pula hahahahhaa. Mana tuh sepatu berat lagi mas :p. Betis langsung bekonde rasanya pas sampe bawah hihihi…

    Aku lgs bayangin jalan di atas aspal yg sedang beku Krn es saat winter, dijamin bakal kepleset Mulu pastinya pake Converse :D.

    Kalo disuruh milih, aku mnding masa depan Lah. Ga terlalu pengen liat masa lalu :). Yg udah lewat, udah biarin aja. Mau diapain lagian :D. Ngerubah masa lalu yg ada merusak waktu di depannya juga kan. 🙂

    1. nah persis seperti itu, berdiri dan maju selangkah, jatuh lagi… berat deh momen turun gunung kalo pake converse…

      Kenapa mau ke masa depan? bukankah agak menakutkan kalo kita udah tau apa yang akan terjadi?

  2. Kak Ady, pakai sepatu converse warna cream saat naik gunung?! Jelas harus say bye-bye dengan sepatu itu 😂. Seandainya akan dicucipun, akan susah payah mengembalikan warna creamnya 🤣. Cara Kak Ady berterima kasih dengan sang sepatu sebelum dibuang, jadi mengingatkanku dengan metode Marie Kondo yang mengucapkan salam perpisahan sebelum membuang barang hahahaha.

    Btw, kalau punya mesin waktu, aku ingin ke masa lalu. Aku ingin melihat Jakarta saat masih Batavia. Ingin lihat bagaimana lenggangnya Jakarta saat itu 😍. Kalau Kak Ady, gimana? Ingin ke masa lalu atau masa depan?

    1. berterimakasih dan meminta maaf karena disalahgunakan, sepatu kota dipake naik gunung, dan ga ada temen yg ngasih tau lagi, sebelin…

      kalo aku mau ke masa lalu pas kamera leica M baru keluar, jadi bisa dapet yang baru terus dgn harga yg masih murah (harga masalalu)
      jadi pas dibawa ke masakini, masih brand new dan murah, hahahahaha

      1. Huahahaha benar juga ya! Aku jadi kepikiran juga, ingin ke masa lalu dan membeli mobil klasik, terus dibawa ke masa sekarang, kan harganya jadi berkali-kali lipat wkwkwk

  3. “….tugas kuliah yang menumpuk bukan lagi apa-apa” hahahaha.

    Aku belum pernah naik gunung sih, tapi temen-temenku sering. Kalau nge-trip, aku jarang diajak hahhaha dalam hati (huhuhu) soalnya katanya aku riweh dan parnoan. Tiap mau nitip dibuatin nama di puncak gunung ala-ala instagram, mereka nggak mau, katanya datang sendiri kesini, teman nggak ada akhlak emang hahaha.

    Kasian converse-nya. Betewe, saat SMA aku pernah dong ikut ekskul pramuka dan kebetulan ada acara lintas alam. Beneran lintas alam dong, dimana disuruh jalan 3 hari nginapa dirumah warga, lalu mendaki gunung lewati lembah. Masih ingat aja, sambil jalan sambil komat-kamit dalam hati “Ya Allah gue nyesel, ya Allah gue nyesel” hahahahaha.

    Tapi anehnya pas udah nyampe dirumah, malah keingat penderitaan aku disana yang malah bikin senyum-senyum sendiri. Kayaknya emang udah kodratnya kali ya, ketika menjalani penderitaan berasa berat banget, tapi ketika sudah berhasil melaluinya malah nggak ada penyesalan.

    1. hahhaha.. itu temen baik yang pengen ada kamu di puncak, bareng-bareng.

      lintas alam yang sungguh sesuatu sekali yaa.. makanya, segimanapun kita lagi dilanda ujian hidup, harus langsung inget kalo hal seperti ini pasti ada akhirnya, dan lumayan lah meringankan walau sedikit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s