Jalannya sendiri.

Setiap orang punya jalan hidupnya sendiri, termasuk didalamnya adalah caranya mempelajari sesuatu, caranya melakukan sesuatu, caranya memahami sesuatu. Orang yang sudah memahami sesuatu karena pengalamannya lebih dari 20 tahun yang telah melalui banyak kesalahan, tidak bisa serta merta langsung dipahami oleh orang yg baru terjun beberapa bulan saja.

Aku ingat dulu punya teman yang baru membeli kamera mirrorless Fuji, itu kamera ‘bagus’ pertamanya, sebelumnya dia lebih sering menangkap momen dengan smartphone android dan cukup aktif berkomunitas di Instagram.

Lalu aku, yang sama amatirnya, cuma punya kelebihan dari sisi waktu aja. Aku lebih dulu nyemplung beberapa tahun otodidak berfotografi, dan dulu selaku pemula yang punya bekal idealisme yg kudapat dari baca-baca dan nonton video fotografer-fotografer street photography seperti Cartier Bresson, Klein, Vivian Maier, Ansel Adams, Leibovitz dll yang mana kameranya adalah kamera film yg fully manual dan mechanical yg kameranya masih bisa digunakan tanpa harus punya baterai, ga ada tuh yg namanya autofokus, LCD, atau settingan otomatis lainnya, makanya dari situ akupun terpengaruh untuk mengoperasikan kamera dengan full manual, padahal saat itu aku udah punya DSLR yang udah bisa autofokus dan set otomatis lainnya, haha.

Awalnya, aku ga pernah mau menggunakan autofokus karena menganggap ada kesenangan sendiri dari memutar ring focus lensa dan mencari fokus. begitupun dengan settingan bukaan lensa, ISO dan shutter speed, semuanya fully manual, padahal semua itu udah bisa dibikin otomatis.

Di era digital, kita sebagai pemotret udah dikasih kemudahan agar hanya berfokus dengan komposisi atau angle pengambilan dan fokus mencet tombol shutter di saat yg paling tepat, bahkan mode burst juga oke aja walaupun nanti jadi PR untuk memilih yg terbaik dari banyak foto yang anglenya mirip-mirip, begitulah cara kerja digital, itulah kelebihannya, yang mana belum kupahami sedari awal karena belum berpengalaman dan masih terpengaruh banget oleh bacaan-bacaan tadi.

Tapi lama-lama, setelah sering street hunting, aku merasa bahwa pergerakan di jalanan itu begitu cepat dan sering berubah, aku ga mungkin untuk menyuruh orang yg lagi jalan buru-buru untuk melambatkan karena aku ingin memotretnya dengan fokus yang pas. Banyak momen yang menurutku bagus jadi terlewatkan atau fokusnya ga pas, dan semua itu terjadi karena aku keukeuh dengan full manual itu tadi. Lama-lama, aku mulai memahaminya sendiri dan idealisme itu luntur pelan-pelan karena ternyata keunggulan teknologi dan digital ini harus benar-benar dimanfaatkan, dan agar aku bisa lebih fokus untuk menangkap momen yg kuinginkan dengan akurasi fokus yang lebih besar.

Dari situ, aku mulai menggunakan auto focus dan mode Aperture Priority agar bisa memprioritaskan pada bukaan lensa dan membiarkan settingan shutter speed diatur oleh mesin kamera.

Nah, perubahan pemahaman seperti itu terjadi karena aku yang telah mengalami banyak kesalahan.

Balik lagi ke temanku baru baru punya kamera bagus itu.
Kita mulai hunting bareng, dan pada satu waktu, aku memerhatikan kalo dia tidak menggunakan autofocus dan mode-nya pada full manual, foto-fotonya ada yang bagus, tapi sering juga yg missed focus. Mirip denganku dulu. Kemudian aku bilang “kenapa sih ga pake autofocus aja?kan enak, lu tinggal fokus ke komposisi dan apa yg mau difoto”. dan dia iya-iya aja, mungkin biar cepet beres aja. Tapi lama berselang, street hunt bareng lagi dan dia ternyata masih manual focus.

Ya kutanya lagi, “eta naha masih pake manual fokusna?” kali ini dia jawab, “ga ah, lebih suka pake manual aja”. Disitu aku teringat diriku yang dulu yang lebih suka settingan full manual karena terasa lebih bebas dan keren. Dan sejak saat itu juga aku sadar bahwa pemahamanku yang sekarang tidak bisa serta merta langsung dipahami dia yg baru memulai, mungkin dia juga harus melalui beberapa pengalaman dan kesalahan untuk memahami apa yang kupahami hari ini. Tapi bisa jadi, makin lama, dia makin terbiasa dan memahami sesuatu yg berbeda dengan diriku, bahwa mengoperasikan kamera sepenuhnya manual itu memberinya kebebasan daripada settingan otomatis, mungkin dia justru mencari foto-foto yg blurry yg mungkin baginya hal tersebut memiliki sesuatu yg lain yang dia sukai dan ga bisa dilihat orang lain.

Dari situ, aku sadar bahwa ternyata setiap orang punya jalannya sendiri untuk memahami dan mempelajari sesuatu, apalagi kalo kaitannya dengan fotografi yang bagiku termasuk dalam karya seni yang mana setiap individu akan memiliki pandangannya sendiri akan sebuah karya seni, tergantung isi kepalanya.

Dan temanku ini ga salah kalo ga menggunakan autofokus yg menurutku lebih memudahkan, dia cuma perlu waktunya sendiri untuk memahaminya sendiri dengan caranya sendiri, bahkan aku berharap kalo perjalanannya ga akan sama denganku agar dia menjadi sesuatu yg berbeda denganku atau orang lain kebanyakan. Tapi, kalo temanku itu butuh dan memang menanyakanku akan sesuatu, aku akan memberitahunya sesuai dengan apa yang kupahami. Tapi kalo ga nanya, ya biarin aja. Biarkan dia ngulik sendiri.

Sekarang, aku selalu membiarkan orang berkembang dengan caranya sendiri, tapi aku akan selalu siap membantu kalo memang diminta. It’s not about right or wrong, paham atau ga paham. It’s about being yourself with your own way.



7 thoughts on “Jalannya sendiri.”

  1. Meski ini bahasnya fotografi tapi bisa dipakai dibanyak aspek lah ya, hehehe.

    Karena berdasarkan pengalaman aku juga, seiring berjalannya waktu, bertambahnya pengalaman dan ilmu ada beberapa prinsip yang dulunya kita pegang kuat bergeser definisinya atau malah memang tidak sesuai lagi dengan diri kita.

    Suka banget sama quote yang terakhir ” It’s about being yourself with your own way”.

    1. nah itu dia,
      Sekarang aku paham akan hal itu, bahwa selama kita terus belajar, maka prinsip atau pengetahuan kita akan sesuatu pasti akan ikut berubah dan semoga berkembang menjadi lebih baik, makanya ga mau memaksakan pemahamanku kepada orang lain dan ga akan menyalahkan jg karena mungkin memang belum waktunya paham atau memang akan berbeda which is fine fine aja buatku mah kalo berbeda

  2. Setuju Dy, setiap orang akan ketemu cara dan pemahamannya sendiri terhadap apapun. Jadi kita mau share boleh, tapi jangan sampai memaksakan. Lebih ke berbagi pengalaman saja. Karena pada akhirnya ya seperti yang Ady bilang, biar masing-masing dari kita berkembang sesuai jalannya 😁

    Ini mungkin termasuk konsep ‘timing’ yah, karena setiap dari kita punya ‘timing’ beda. Hehehe. By the way, bicara mengenai autofocus, ini saya bangettt, dari awal beli kamera sampai sekarang selalu auto. Saya nggak jago setting soalnya 😂

    1. iya yah, konsep timing ya…

      ya begitulah, setiap orang beda-beda, temanku itu dari awal pengen manual focus karena pengen merasakan pengalaman muterin ring focus lensa dan nyari fokus yg dia cari. katanya hal tersebut ga dia dapet pas motret pake hape (yang mana tentu saja),dan justru karena itu dia beli kamera.
      dan ya begitulah, setiap orang beda-beda. yg kayak kak Eno juga banyak, yg cenderung lebih suka yang simpel, mudah dan yang penting hasil sesuai yg diinginkan.

      dan foto-foto kak Eno selalu sukses bikin diriku ngiler, apalagi kalo foto makanan, yg foto di blog terakhir tuh contohnya, haduhhh… ngabibita banget

  3. Saya kalau komentar tentang cara berkarya dan fotografi seseorang itu liat-liat orangnya….kalau sebatas info teknis nggak apa-apa. Karena banyak pehobi/pelaku fotografi yg sgt sensitif dan protektif dengan karyanya. Wajar masih ada rasa cemas atau banyak mengeksplor berbagai cara. Kalau orangnya nanya opini baru saya berani berkomentar…

    Soal manual focus, saya paling banyak make saat main macro atau foto landscape dengan fish eye…yg lain karena banyakan pakai fix lebih cepat fokusnya…

    1. iyah, aku juga sekarang ga akan ngasih tau kecuali diminta, atau paling tidak, aku nanya dl kenapa caranya begitu, jd bisa sambil sharing, bahkan bisa jadi malah aku yg dapet sudut pandang baru, hehe

      aku jg paling suka sama lensa fix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s