Just do it.

Setelah sekitar dua minggu menulis setiap hari untuk blog ini, beberapa hari terakhir ini jadi mulai terasa berat karena satu dan lain hal, bisa terlihat dari jam posting yang biasanya jam 4 sore udah diunggah, beberapa hari terakhir ini malah baru mulai nulis dari jam 9an.

Kadang ingin skip aja untuk hari ini dan nulis lagi besoknya, tapi entah kenapa kali ini aku merasa harus memaksakan diri untuk memenuhi tantangan yg kubuat sendiri.

FYI, di masa lalu, aku agak sering melakukan hal seperti ini, menantang diri untuk ini dan itu. Biasanya pun ga pernah yang berat-berat karena aku tahu kemampuan diri, tapi tetap saja selalu gagal untuk dipenuhi. Biasanya gagal di pertengahan karena mulai bosan, mood udah turun, ga cukup komit dan selalu beralasan. Sekali saja melonggarkan diri, besoknya akan makin longgar hingga akhirnya gagal terpenuhi.

Kali ini, aku ga mau balik seperti itu lagi.

Menurut penelitian, rata-rata dibutuhkan lebih dari 2 bulan hingga kebiasaan baru jadi benar-benar menjadi kebiasaan kita sehari-hari, ada yg lebih cepat ada yang sangat lama hingga satu tahun lamanya untuk menetapkan kebiasaan baru tersebut.

Untuk kasusku, kalopun ingin menjadikan kegiatan menulis ini sebagai kebiasaan, berarti perjalanannya masih lama.

Tahukah kamu, yang paaaaling susah dalam menulis adalah memulainya, menulis kalimat pertama. Akan jauh lebih mudah kalo pada hari itu kita punya sesuatu untuk diceritakan dan masih diingat, atau punya ide yang sudah ditulis pada note-note kecil.
Bagiku, mungkin akan lebih mudah kalo hari ini udah jalan kemana, dapetin foto dan tinggal tuliskan cerita dibalik ngambil foto tersebut.


Tapi ketika aku tidak pergi kemana-mana dan banyak ide-ide abstrak yang tidak langsung kutuliskan pada notes, i really have no clue what to write when i’m open up my laptop.

Terkadang agak bikin stres kalo hanya difikirkan saja, tapi ketika sedikit memaksakan diri untuk menulis apapun yg ada di kepala (seperti sekarang, menulis tentang susahnya memulai tulisan), setelah paragraf pertama terbentuk, kesananya akan mengalir begitu aja.

Walaupun tentu saja kualitas tulisan ga akan sebagus yang nulisnya seminggu sekali misalnya.

Aku percaya kalo kuantitas dan kualitas ga bisa berjalan beriringan. Kalo ngejar kuantitas, kualitas dikorbankan, begitupun kalo mengejar kualitas, ga bisa dibuat sesering dan sebanyak itu (kecuali kamu jenius dan punya banyak cerita yang bisa dibagikan).


“Lesson learned today is… keep hold to that commitment, don’t think too much, just do it”

10 thoughts on “Just do it.”

  1. Ini saja sudah pencapaian yang luar biasa Dy, sayang banget kalau berhenti di tengah jalan. Masih ada setengah bulan ke depan kalau ingin tembus target yang Ady buat πŸ˜‚

    By the way, jangan berhenti yaaah. Saya pun butuh waktu lama untuk ketemu ritme menulis hingga akhirnya terbiasa 😁 Ady keren lho sebab Minggu pun update, while saya kalau Minggu lebih sering break πŸ˜†

    Dulu saat awal blogging, saya pernah break lamaaaa mungkin ada sebulan karena sama seperti yang Ady tulis di atas, sekalinya berhenti dan berniat besok, yang ada besoknya (30 hari setelah post sebelumnya) πŸ˜‚ hahahahaha. Since that time, saya berusaha untuk force diri saya minimal seminggu sekali dan upgrade pelan-pelan hingga akhirnya rutin sehari atau dua hari update 😁 Semoga Ady bisa selesaikan goals ini, dan mulai enjoy menulis 😍

    Semangat Dyyy! By the way saya belum terima email Ady, coba Ady check lagi alamat email saya betul apa nggak ditulisnya πŸ˜†

    1. eh seriusan blm dapet emailnya?siap…aku cek lagi emailnya
      *update: waaah.. iya kak salah ketik alamat email. yg benernya udah di forward ya kak.

      Terimakasih kak Eno,
      semoga paksaan diri ini membuahkan hasil yaitu jadi terbiasa dan jadi mudah menuliskan ide abstrak di kepala ini.

      Selama ini suka anggap lebay kalo ada orang yg ngomong “support dan komen-komen kalian adalah penyemangatku dalam berkarya” dan sekarang kerasa sih, komennya beneran nyemangatin.
      hehe..

  2. Post tulisan tiap hari aku belum pernah bertahan lama paling banter cuman tiga kali berturut-turut habis itu balek lagi ke seminggu dua atau tiga kali, atau apesnya lagi malah nggak updet seminggu lebih. Mas Ady keren lho sudah konsisten selama seminggu (?)

    Kalau stucknya itu biasanya karena kebanyakan ide dan nggak moody-an, mungkin karena yang kutulis cerita sehari-hari makanya nggak kehabisan ide atau malah karena otak ku selalu rame, jadi suka mumet kalau nggak ditulis.

    1. aku sebaliknya, ga ada ide, sehari-hari ya gitu aja aktifitasnya, ide selalu muncul… dan pergi lagi, kalo ga ditulis di kertas atau note di hape, udah deh, lupa lagi.
      keseringannya selalu berlalu begitu aja, jadi pas mau nulis, plenga plengo deh mau nulis apa

      ini nulis tiap hari jg maksain diri, liat aja tulisannya, keliatan lah asal adanya, haha…

      1. Kak Ady, tulisan yang mengalir seperti ini malah enak lho dibacanya 😁

        Benar kata Kak Ady. Kalau mengerjakan sesuatu, bolong satu hari saja langsung jadi malas dan keterusan πŸ˜‚. Aku sering begini, jatuhnya malah nggak konsisten. Makanya aku juga saat menentukan goals, nggak berani yang terlampau sulit karena aku sadar sama kemampuan diri. Padahal lebih baik kalau goalsnya besar ya, biar diri terpicu untuk berusaha lebih 🀣

      2. betuul, mungkin karena itulah, ketika kita mau bikin goal, kita ukur diri akan segimana kemampuannya,
        Kalo kata temen, enaknya dari yang paling sedikit dl, misalnya seminggu sekali..ketika udah konsisten, kira-kira bisa nambah gak jadi seminggu 2x dan naik terus.
        kuncinya kyknya di konsistensinya aja kayaknya ya, jd temen-temen lain bs tau kapan biasanya ada post baru dari Lia.

        setelah pasang goal, berkomitmenlah, paksain diri untuk memenuhinya ampe terbiasa. dan kayaknya berkomitmen memenuhi goal sendiri itu seperti belajar jadi profesional jg.

        dan aku kayaknya terlalu tinggi bikin goal deh, knp tiap hari ya?hahaha… tapi yasudah lah, lambat laun bisa nemu celah walaupun aslinya agak pusing jg, haha..

      3. Ah! Terima kasih banyak atas masukannya Kak Ady πŸ™πŸ». Konsisten memang kunci utamanya sih.
        Saat ini aku masih kurang konsisten, tapi pasti minimal ada 1 post/minggu.

        Hahaha Kak Ady pasti bisa! Udah setengah jalan berlalu kan? Tinggal sedikit lagi~ lama-lama nanti jadi nagih deh seperti pengalaman salah satu blogger senior 🀭

  3. Jangan terlalu banyak mikir teori dan masalah kuantitas atau kualitas. Terkadang yang terpenting itu adalah menikmati prosesnya dan menjalaninya, bukan teorinya.

    Kalau memang Ady sudah menetapkan target, jalani dan terus paksakan untuk menulis atau memotret. Tepati janji yang dibuat untuk diri sendiri.

    Hargai diri sendiri dengan menepati janji yang sudah dibuat. Seberapapun capeknya, beratnya, terus jalani. Tidak usah berpikir soal kualitas dan kuantitas, yang terpenting sekarang adalah menepati janji.

    Kalau kita tidak bisa menepati janji yang dibuat untuk diri sendiri, berarti kita tidak menghargai diri sendiri. Kalau kita sudah tidak bisa menghargai diri sendiri, bagaimana mau orang lain menghargai kita.

    Hayo mas Ady jangan terlalu fokus pada teori. Fokus pada menikmati perjalanannya saja.

    Berat atau tidak akan tergantung kitanya kok.

    1. wah mantep nih komennya,
      terimakasih bang Anton buat komentar yg sangat menyemangati ini!

      semangat buat kita untuk terus berkarya, apapun mediumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s