Kamera Impian

Photo by Ezra Jeffrey-Comeau at unplash.com

Diawali dengan nyobain kamera prosumer punya kakak yaitu Lumix LX3 yang hasilnya sangat bagus untuk ukuran kamera prosumer dan dengan lensa superwide, cocok banget untuk motret landscape. Dari situ mulai penasaran dan jatuh hati dengan apa yang bisa dilakukan sebuah kamera.

Agak lama dari situ, makin ngoprek kamera kakak makin ingin punya kamera sendiri. Karena keterbatasan budget yang sangat-sangat terbatas itu, mulai nyari-nyari kamera yg beroperasi manual yang murah dan masuk budget.

Saat itu belum ngeuh sama kamera analog film, tapi karena pencarian yg cukup spesifik, yg penting kamera sistem manual dengan harga murah, ketemu lah yang namanya kamera analog.

Waktu itu di FJB kaskus nemu orang yg jual Pentax K1000 dan lensa 50mm f2, harganya 500ribu, tapi karena budget saat itu cuma ada 450ribu, setelah tawar-tawar, akhirnya penjualnya yg baik melepas dengan harga itu, tanpa ongkir pula.

Saat itu ga sabar pengen cepet megang, dua hari nunggu kiriman dari Jakarta ampe nyusulin ke kantor JNE Pasteur dan nungguin, hahaha… akhirnya jam 9an malem barang itu tiba juga, senang luar biasa!

Kameranya cakeppp banget, hampir mint condition. Dan sejak saat itu perjalanan fotografiku sah dimulai. Belajar sendiri tuh nyari tau arti dari istilah semacam lightmeter, ISO, bukaan lensa dll.

Aku bersyukur karena awal dikenalkan itu dengan kamera analog karena dari situ, aku bisa paham banget bagaimana cara kerja kamera dan apa yang harus dilakukan kalo ingin mendapatkan foto seperti ini atau seperti itu.

—-
Gak kerasa waktu berjalan, pada perjalanannya punya kamera DSLR pertama yang sampai sekarang masih digunakan (Canon 500D), makin sini makin paham, nyari-nyari ide, inspirasi, referensi, dan ku menemukan bahwa yang paling sering membuatku jatuh hati adalah fotografi dari Jepang.

Dan pada satu waktu, aku menemukan foto dibawah ini, dan penasaran siapa fotografernya.

Haru and Mina by Hamada Hideaki

Hideaki Hamada namanya. Dari situ mulai menjelajah semua karya-karyanya, and you know what? fotonya ga ada yang ga aku suka, It’s describe perfectly of how i want to make from photography.

Mulai mencoba untuk memotret dengan angle-nya, depth-nya juga dicoba dikejar, tone-nya. Tentu saja ga ada yang sukses karena Hamada Senpai menggunakan kamera Medium format yaitu Pentax 6×7. Hmm…

Sejak saat itu, kamera impianku bukan lagi kamera fullframe Canon 5D mki atau mkiv (walaupun masih pengin juga sih) tapi KAMERA MEDIUM FORMAT PENTAX 6×7!!

Photo by Linda Holman at unsplash.com

Mulai nyari-nyari nih harga pasarannya berapa, tentu ga mungkin murah karena tipenya aja udah medium format. apa itu medium format? Hmm.. Seperti ini perbandingannya.

Nah, kamera DSLR 500D punyaku adalah crop sensor APS-C, dan kamera analog Canon FTb punyaku adalah fullframe (btw, semua kamera analog film pasti fullframe ya), dan hasil dari medium format adalah kotak terlebar yg seperti menaungi semuanya. Itulah punyanya kang Hideaki Hamada. Dan aku mau.

Dan pasti mahal.

Browsing-browsing nyari harga pasaran, mulai nemu bentukan nih. Ini kamera ternyata agak jarang ada yg jual di Indo jadi agak susah nyari harga rata-rata, tapi untuk body dan lensanya, ada di kisaran 16-20juta, kalo body-nya aja ada yg jual dari termurah 5jutaan. Which i’m not surprise, tapi menghela nafas yang panjanggg banget.

Harus berapa tahun nabung biar dapet 20 juta atau setidaknya 15juta? gaji bulananku aja udah pas buat hidup sehari-hari. tapi kalo mau iseng itung-itung, misal target 20juta berarti:
20.000.000/365 = 54794.52 atau 55ribu/hari selama setahun which of course still impossible to me right now, atau
20.000.000/730 = 27397.26 atau 27ribu/hari selama 2 tahun, masih belum kesampean, atau kalo aku bisa nyisihin 5000 sehari berarti:
20.000.000/5000=4000 hari atau 11 tahun yang mana 11 tahun kedepan harganya bisa saja lebih dari 20juta. Ha!

Salah satu jalan pintas yg baik adalah menjadi penjual yg ulung, pengusaha yg jualannya laku keras atau project-an yg sekalinya bisa bernilai lebih dari 10juta, aamiiin… karena kalo ngandelin gaji bulanan yg stagnan, ya jelas ga mungkin.

Itulah kenapa aku akhir-akhir ini selalu kepikiran untuk ber-usaha, salah satunya jasa fotografi, tapi ingin juga nyoba apapun yg penting menghasilkan, halal, dan selangkah lebih dekat untuk mampu membeli kamera itu.

Tapi disisi lain, karena sudah berkeluarga, tentu juga ada keinginan lain yang ga kalah primer, yaitu ini:

Iyah, satu tempat yg berfungsi untuk melindungi kita dari panas dan hujan, sebagai tempat makan dan minum, juga ngobrol-ngobrol cantik dan gudang penyimpanan baju-baju, sepatu,dan satu area kecil untuk menanam pohon.

Ga usah yang gede, yg penting minimalis, open space, dan nyaman untuk tidur.

Iyah, namanya Rumah.

Dan jauh lebih mahal.

Hmmm….

Namanya juga hidup ya, ga ada habisnya keinginan kita. Tapi keduanya adalah sesuatu yg kubutuhkan.


Semoga tulisan kali ini berfaedah ya *yg mana agak kuragukan sih faedahnya dimana

Ya pokoknya, gitu deh. Ada saran? atau komentar? feel free.

9 thoughts on “Kamera Impian”

  1. Sepengetahuan saya medium format terbagus itu Phaseone. Tapi curious saja mas tujuannya beli medium format untuk apa?

    Kalau soal lebar skrg bisa diakali dg tehnik stich Fotografer profesional yg saya tau skrg mikir2 utk beli medium format. Selain mahal dijual lg harganya jatuh dan utk tebus costnya hrs ada pemasukan besar.

    Ada juga sih yg beli karena di endorse…πŸ˜…

    Beneran itu sih investasi lbh baik tanah dan rumah..jgn kamera 😁

    1. bukan, bukan masalah terbagus tercanggih atau apapun itu, tapi ini kamera medium format yg dipake hamada hideaki yg mana saya mengidolai karya-karyanya,, jadi timbul ingin memiliki kamera seperti kang Hamada jg πŸ˜€

      Nahh kalo soal hasil foto, bisa tuh dgn teknik itu, kyknya menarik, tapi aku termasuk tukang foto yg males edit-edit banyak, tp karena diingetin kamu, jd pgn coba sekali-kali.
      dan kalo bicara pro, betul banget… tp nulis ini, kapasitas akunya sebagai hobbies yg murni penasaran dan suka sama hasil-hasil fotonya, i just want it so much. dan ga memikirkan sejauh kalo dijual lagi harga jatuh, karena kebeli jg kyknya jauh banget, apalagi mikirin harga jualnya, lbh jauh lagi.

      Yups, kalo bicara investasi, ga bisa bantah, tanah dan rumah emang paling bagus, kamera mah itu area investasi orang yg sakunya dalem, hehe…

  2. Dua-duanya penting sih, hanya saja balik ke prioritas Kak Ady. Yang mana yang lebih Kak Ady butuhkan sekarang. Kalau lebih butuh rumah, kalau gitu nabung dulu untuk rumah πŸ˜€
    Rumah impianku juga yang minimalis soalnya kalau terlalu besar, nanti capek nyapu ngepelnya wkwkw

    1. haha.. ini kyknya aku salah nulis deh, knp jd ngebandingin sama rumah, soalnya pasti milih beli rumah dulu ya..haha

      itu di akhir nambah soal rumah cuma biar endingnya ‘jleb’, di awal ngomongin kamera dgn harga segitu, trus di akhir…”eh iya lupa, kan pgn punya rumah jg” gitu maksudnya, haha..

      Kalo rumahnya gede, pastikan ada budget buat memperkerjakan ART, jgn sama sendiri ngepel nyapunya,
      Nah, kalo aku sejauh ini kyknya blm kepikiran punya ART jd ya ituu… rumah ga besar, minimalis ga banyak barang biar adem, nenangin, gampang diberesinnya, jd kecoba ga ada tempat buat bersembunyi tuh! :p

      1. Oalah! Tapi memang “jleb” sih kalau mendengar penjelasan dari Kak Ady πŸ˜‚. Semangat menabung untuk masa depan, Kak!

        Nah, karena aku nggak kepikir ingin pakai ART selama ini, that’s why nggak kepikir untuk punya ART kalau punya rumah besar 🀣 jadi belum apa-apa, udah lemes duluan mikirin nyapu dan ngepel rumah besar hiahahaha.

        Wkwkw betul! Punya rumah minimalis biar gampang dibersihin dan dirapihin, juga biar nggak ada kecoak yang berani ngumpet πŸ™ˆ #TimTakutKecoak

  3. Cakep banget yah fotonya Hideaki Hamada, now I know kenapa tone foto-foto Ady agak dreamy, karena idolanya punya tone serupa. Sukaaa lihatnya 😍 hehehehe.

    Semoga Ady bisa punya rumah sesuai harapan, dan bisa punya kamera impian. Ditulis dulu saja, siapa tau Tuhan dan semesta mendegar dan mengabulkannya. Diwaktu yang tepat πŸ˜πŸ‘

    1. mencoba meniru kak, tapi masih jauh… karena ya sebagus-bagusnya imitasi, ga kan sebagus aslinya.
      tap seneng, pada perjalanannya yg tadinya mau meniru malah pelan-pelan menemukan yg punyaku sendiri.
      tp teteh, harus kudu mewujudkan punya kamera itu!
      harus belajar berbisnis nih, tp bingung, mengawalinya gimana, hahaa…business is kind of a new thing to me yg selama ini mencoba menjadi seorang ‘artist’ πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s