Double Exposure.

Bicara tentang pekerjaanku hari ini, setelah 3 bulan berlalu, pertumbuhan dari segi bisnisnya belum cukup tinggi. Ini pertamakalinya aku juga memikirkan nasib perusahaan tempat saya bekerja, karena kalo seperti ini terus, ga ada lagi alasan kenapa start up ini harus diteruskan, and where should i go next?

Aku tuh ingin sekali memikirkan satu teknik atau usaha apapun yg bisa membuat income perusahaan naik, yang beli ke kita juga bertambah, tapi ga pernah ada waktu luang untuk fokus kesitu, harianpun sudah penuh dengan konten yang harus terbit minimal 3 kali sehari.
Terdengar sedikit ya, tapi ternyata content creating itu juga butuh waktu untuk membuatnya, ada brainstormingnya dulu, eksekusi ide dengan riset data (fully nyari di internet aja) lalu dituangkan kedalam visual yg sesuai, tetap menarik, dan masih dgn pakem desain yg sudah ditentukan, belum lagi membuat caption yg tentunya ga asal, semuanya dilakukan hanya oleh dua orang. to me it’s not enough, but do-able, tapi yg pasti ada yang dikorbankan, yaitu kualitas konten. Yang mana imbasnya adalah orang juga ga begitu tertarik dengan brand ini, dan seterusnya seterusnya….

Sejak awal, aku tahu akan resiko ini, makanya ga pernah ngeluh… dan tulisan ini bukan bentuk keluhan ya, cuma pengin nulis aja. Disaat seperti ini kadang suka berfikir, kenapa ya? Why i always feel i’m not in a right track. Selalu aja menjadi seseorang yg mencari orang lain yg bisa membantu memberiku pekerjaan agar survive, month by month.
Seringkali aku juga berfikir kalo aku ga bagus disini, maka aku mungkin ga tahu harus kemana lagi karena portfolio-pun jadinya ga begitu bagus.

Kenapa sih lu ga fokus fotografi aja?–fokus?i am desperately want to, tapi untuk mengawali menjadi pro di fotografi itu butuh modal, sedangkan modal yg kumiliki cuma Canon 500D yang jadul dengan lensa vintage yg fully manual focus. that tools is not enough for pro work. Sewa tools? itu sudah kulakukan, tapi ternyata masalah lainnya adalah ketertarikan calon client dengan fotografiku. It’s not always there, masih on going kalo memasarkan diri di internet mah. termasuk di blog ini. Tapi ya gitu deh, belum ada yg nyantol. pernah sih, tapi itu teman-teman dekat. dan tetap bersyukur.

Intinya, untuk fokus jual jasa fotografi itu perlu modal yg lumayan, sedangkan aku jg butuh untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Makanya sampai detik ini, yang bisa aku lakukan adalah menjadi karyawan orang lain, dan sekalinya kerja di orang ya waktunya digunakan untuk bekerja, hanya weekend yg bisa kugunakan untuk menjadi seorang fotografer, baik amatir maupun profesional.

Mau sampai kapan ya gini terus?
Padahal aku juga punya mimpi untuk punya rumah sendiri. Tapi kayaknya so far masih mimpi yg masih belum keliatan lubang harapan terwujudnya.

Visi masa depan juga jadi saru. seperti foto diatas, ga jelas, double exposure, terlalu banyak gambar dalam satu frame.
Kalo fotografi mah bagus-bagus aja, bahkan ada seninya, tapi kalo visi masa depan?masa abstrak juga?kan ga mungkin ya.. Kan manusia itu bisanya cuma berencana, setelah itu, tuhan yg menentukan hasilnya, lah ini…rencana aja belum sejelas itu, masih double exposure seperti foto di atas.

Harus gimana ya? adakah pembaca disini yang mengerti soal bisnis dan cara memasarkan diri yg lebih masif itu kayak gimana?
Kalo punya saran mengenai bisnis atau visi hidup atau apapun, boleh komen di bawah ya! i really need your input.

Tapi apapun itu, semangat dong yaa… hidup itu patut untuk disyukuri, apapun yg terjadi.

Kalo kata film korea mah, fighting!
*<< iya kan fighting untuk memberi semangat dlm bahasa korea? haha maafkan kalo salah

9 thoughts on “Double Exposure.”

  1. Kalau baru tiga bulan, mungkin masih terlalu sebentar. Mari ditunggu dengan sabar sambil terus usaha kasih yang terbaik ke perusahaan minimal setahun lamanya 😆 hehehe.

    Menurut saya, cara paling mudah adalah membuat target baik yang pendek maupun yang panjang biar hidup punya tujuan. Hehe. Seperti goals pemasukan / tabungan / dana darurat setahun berapa puluh misalnya. Atau dalam jangka panjang 5 tahun bisa DP rumah dan goals-goals lainnya. Dengan punya goals, kita jadi belajar memetakan arah. Contoh goals bisa punya client untuk fotografi sebulan dua. Caranya? Advertising jasa, keep update konten, engage sama pengikut di sosial media, build your brand, kalau ada engagement, akan ada interest, dari situ akan ada peluang akhirnya. Sama seperti bisnis, dimulai dengan goals mau bisnis apa, jenis apa, cari tau dulu backgroundnya, baru mulai dipetakan arahnya hehehe.

    Menurut saya, untuk saat ini Ady better fokus kejar goals materi dulu agar aman. Sambil investasi otak dengan belajar mengenai finansial dari akun finance di luaran sana. Baru kalau sudah stabil, bisa mulai memikirkan bisnis ke depannya. Karena doing business tanpa basic yang ada cuma buang uang 😆 jadi step by step Dy, pelan-pelan pasti bisa. Eniho, menurut saya cara memasarkan diri yang paling oke itu dengan engage — though kita cuma punya 100 rekan tapi kalau kita engage sama mereka, 100 rekan itu sudah cukup untuk membuat kita sibuk ke depannya. Dan chance untuk dapat clients dari sana bisa besar. Pakai metode story telling coba, sambil dikasih background foto jepretan Ady, siapa tau ada yang minat 😁

    Semangat yah! 😍

    1. conclusion:
      pasang target, ada target kecil jangka pendek dan target besar jangka panjang.
      kejar materi dl, dan pelan-pelan invest ilmu finansial dan bisnis,
      step by step tapi moving forward.
      kalo ada 100 audiens, fokus di 100 itu, tingkatin engagement.
      konten yg storytelling dan related, pake foto sendiri.
      NOTED!

      dan memang diakui,, selama ini jarang punya target yg real jelas tertulis. mungkin itu ya yg bikin hidup kyknya ga terarah, ngalir aja kayak kayu mati di sungai..
      kalo soal target itu, kalo misal target ga tercapai, apakah targetnya diturunkan lagi atau review apa yg kurang dan perlu dioptimasi?

      Pokoknya makasih kak Eno, emang harus banget nih bikin target-target!
      c’mon adynura, you can do it!

  2. Hi, Ady! Aku ga tau kamu umur berapa tapi pertanyaan-pertanyaan soal visi ini sering banget aku alami. We’ll get there someday, tapi kalau bisa jangan lupa untuk fokus dengan apa yang kamu punya sekarang: kerjaan (many don’t), keluarga, dan teman-teman.

    Terkadang justru kalau kita fokus sama yang sekarang ini, detik ini, kita jadi ga terlalu pusing sama masa depan (entah seberapa burem pun wkwk). Kurasa ini metode yang bagus sih untukku karena aku orangnya perencana bgt dan perfeksionis (yang mana ga bagus kadang-kadang karena masa depan gak bisa diprediksi, contohnya pandemi ini).

    Aku punya temen yang setiap day off pergi jalan kemana aja untuk ambil photograph teman-temannya. Secara gak langsung dia dapat pemasaran gratis dari teman-teman yang dia ambil fotonya yang credit pekerjaan dia di media sosial. Mungkin kamu bisa coba?

    1. Yups, bener banget…focus in the now.

      Berencana juga bagus, apalagi punya target, at least kita jadi punya arah harus melakukan apa setiap harinya, hal-hal kecil yg dicapai agar sedikit demi sedikit nyampe ke target besar.

      Yups, itu juga yang sering kulakukan dulu dan temen-temen banyak aware juga denganku yg seorang tukang foto, kebanyakan juga suka, tp sekarang ketika hidupku udah fokus dengan keluarga, circle pertemanan makin menyempit, jalan-jalan jadi jarang, mau ga mau mengenalkan lebih dalam lagi tentang diriku ini ya lewat sosial media dan blog ini salah satunya.

  3. Kalau dilihat dari komentar Mbak Eno, aku setuju.
    Mungkin bisa dicoba juga dengan melakukan mind mapping, untuk mempermudah rencana jangka pendek, menengah, dan panjang.
    Selain itu menulis jurnal atau membuat catatan kecil bisa kamu gunakan juga untuk tetap being in present dan melatih mindfulness.
    best of luck!

    1. yes, sangat setuju!
      rencana itu dibuat agar terarah.

      dan semoga bisa terus konsisten nulis,karena sahabat paling setiaku biasanya bernama inkonsistensi. hehe

  4. Dr ngeliat tmn2, untuk terjun ke bisnis seorang fotografer hrs punya ciri khas terutama fokus di fotografi apa. Spt Darwis Triadi, Arbain Rambey, Sandriani, dsb. Mrk sdh punya niche jelas pangsa pasar siapa. Bkn berarti mrk tdk serba bisa, mrk jelas bisa semua genre foto.

    Beda dg di LN dmn fotografer punya agensi di sini mrk hrs bisa bisnis dan memasarkan diri sendiri. Tp kl tdk punya sesuatu yg stunning dan spesifik ehm ya hrs berjuang keras.

    Yg penting sih praktek, asah dan uji kemampuan sebanyak2nya, spesialisasi, soal alat haha sy tahu seseorg yg cuma pakai mirrorless a6000 tp proyeknya sdh mega. Krn gelar dan kemampuannya sdh internesyenel hahaha..sementara yg junior msh ribut soal gear…

    Utk hitung2an bisnis patok hrg bikin break down biaya yg dikeluarkan utk beli peralatan dan umur ekonomis mrk. Ini org2 yg srg lupa..jd banyakan modal beli alat sementara klien msh dikit. Akhirnya ga kuat dan rugi.

    1. Kalo terkait fotografi, aku siap berjuang keras.

      Betul, setuju banget…. yg penting itu man behind the gear, karena aku pernah sewa kamera full fram canon 5D dengan lensa 24-70 yg baru pertamakali dicoba, hasilnya…masih lebih bagus foto orang yg pake iphone.
      kalo saya lebih concern di lensa, karena tentu hasil foto lensa 50mm f1.8 dengan 35mm f1.4 itu beda, jd lensa adalah kebutuhan.

      Nah itu, soal bisnisnya, aku bukan orang yg punya modal, jadi berangkat dari hobi, pake apa yg ada, sewa alat pun disewain calon client. hehe..

      dan paling seneng kalo melakukan kesalahan dalam fotografi, karena jadi nambah pengalaman dan kedepannya tahu caranya biar ga ngulangin kesalahan yang sama 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s