Menjadi Diri, Seutuhnya.

Satu roll film itu biasanya ada 36 exp (jepretan), itu berarti ada 36 kali kesempatan saya untuk menangkap momen yang setelah diambil ga bisa delete-jepret ulang, apalagi di edit seperti kamera digital. Dan kalo difikir-fikir, hal itu senada dengan sifat suatu momen yang memang ga bisa diulangi. Begitulah waktu bekerja, sejak awal.

Entah kenapa, apakah masalah mental atau apapun itu, tapi dengan segala kekurangan dan keterbatasan kamera analog dibandingkan kamera digital, justru saya jadi jauh lebih menerima apapun hasil yang didapatkan dari kamera analog ini, dan dengan mental seperti itu, apapun hasilnya, foto dari film selalu terlihat menarik. more like.. unexpectedly interesting!

Saya termasuk tukang foto yang masih mengggunakan kamera analog dan digital. Sedikit banyak, saya tahu perbedaan dari keduanya. tapi kalo bicara film, gambarnya itu herannya kok kayak punya dimensi kedalaman yg ga bisa ditiru oleh digital. If you know what i mean.
Digital itu bagus, sempurna bahkan, tapi…flat — datar.

Fotografi film itu konsisten, dari dulu ya gitu aja. ketidaksempurnaannya justru menjadikannya spesial.

Apa mungkin begitu juga dengan manusia?
Ga ada manusia yang sempurna, tapi ketika manusia tersebut menerima segala kekurangan pada dirinya, menyadari dengan sesadar-sadarnya, disitulah justru momen dimana manusia itu akan menjadi ‘penuh’. Menurutku, manusia yang menarik adalah manusia yang jujur dengan dirinya sendiri, nyaman menjadi dirinya seutuhnya.

Seperti bapak penjual bubur ini, saya ga begitu kenal dengan bapak ini kecuali bahwa pak haji ini adalah tukang bubur yang sering saya datangi. Beliau terlihat duduk nyaman dengan peci haji di kepalanya, menunggu pelanggan lainnya berdatangan untuk sarapan bubur buatannya. Saya melihat duduknya seperti sebuah kenyamanan, menerima bahwa beliau adalah seorang tukang bubur yang impian tertingginya hanyalah agar bubur buatannya habis di hari itu. dan terus begitu setiap hari.

Lalu saya berkaca, bagaimana caranya agar saya bisa senyaman itu, bisa menerima diriku apa adanya tanpa berpura-pura sempurna. Bapak itu tahu bahwa dirinya adalah pembuat bubur yg handal, yg buburnya disukai banyak orang, dan itulah yang membuatku bertanya,
“lalu saya siapa ya? kenapa ya begitu sulit untuk mengenali diri sendiri, seutuhnya.

6 thoughts on “Menjadi Diri, Seutuhnya.”

  1. Mengenali diri sendiri seutuhnya mungkin akan memakan waktu seumur hidup, tapi belajar menerima diri sendiri bisa dimulai kapanpun.

    Sejak membaca blognya Nadya saya sudah pengen memotret dengan kamera analog milik ibu dulu, membaca ini tambah kepengen, tapi sampai sekarang malah belum bisa pulang karena pandemi hmm. Btw, tulisanmu juga bagus 🙂

    1. semoga bisa cepat pulang ke ibunya dan pinjem kamera analognya, lalu foto-foto dan dishare di blog. karena ku jadi ga sabar pengin lihat hasilnya.
      kamera analog punya ibumu apa?btw ibunya keren..punya analog.

      tulisanku bagus?sungguh? wah…terimakasih lho, ,padahal seringnya nulis ga jelas, sayanya merasa begitu.

      1. Kameranya udah lama nggak digunain tapi masih disimpan dengan baik. Itu kamera ibu waktu masih kerja dulu. Fujifilm kalau nggak salah.

        Iya bagus dan jelas kok tulisannya 🙂

  2. Kalo dipikir, aku sendiri kdg masih ga nyaman dengan diriku juga mas. Ngerasa masih adaaa aja yg kurang, itu bikin aku jd ga PD an, dan LBH suka menyendiri sbenernya :). Kayaknya kalo sdg sendiri, ato setidaknya kumpul dengan orang2 yg aku percaya dan Deket, baru deh aku bisa ngerasa nyaman tanpa ada pura2 :).

    Apa Krn dasarnya manusia itu ga suka diremehkan org lain yaaa? Slalu pgn terlihat perfect, Makanya sering ga nyaman Ama dirinya sendiri dan terkadang jd kliatan fake di depan orang2 😀

    1. manusiawi sepertinya ya kalo orang ingin terlihat baik didepan orang lain.
      semuanya pasti kyk gitu, ga ada pengecualian. tapi pada pertumbuhannya, setiap orang dapat pengalaman dan pembelajaran, dan ada yg berani untuk bodo amat dan yg penting jujur jadi diri sendiri karena disitu dapat nyamannya, ada jg yg justru nyaman untuk tetap pencitraan baik didepan orang, dan menjadi diri sepenuhnya ketika pulang ke rumah dan sendiri.

      Yg penting nyaman sih, tapi mungkin memang paling masuk akal itu menjadi jujur apa adanya, kalopun ada yg ilfil atau ga suka, anggap aja keapaadaannya kita itu sebagai filter agar orang-orang yg disekitar kita adalah orang-orang yg menerima kita apa adanya.
      kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s