Life Update: being a content creator

Photo by Kaitlyn Baker on Unsplash

Karena beberapa teman blog yang saya kagumi dan ikuti telah ngepost beberapa blog post, dan bagus-bagus, sepertinya saya juga perlu untuk nulis, ya sekadar update selama ini udah ngapain aja.

Hmm… Let’s see…

Nothing much sebenarnya selain bahwa sekarang saya resmi pindah kerja. Yap, tadinya saya kerja sebagai officer engineering di perusahaan farmasi di Cimareme, sekarang pindah ke daerah Arcamanik, Bandung, memberanikan diri jadi seorang konten kreator di satu perusahaan startup bidang ecommerce. Awalnya saya ga berani untuk resign karena udah nyaman dengan kerjaan kemarin. Tapi otak ini selalu mendengungkan “here, you won’t be better than you are today, it’s too comfort, you never grow and be better, just get out, take a risk for once” and i did. Apakah saya bersyukur telah mengikuti kata hati?i don’t know yet, karena belum sebulan sih disini. But so far, menjadi content creator itu seru di sisi riset bahan untuk ‘didaurulang’ dan dibuat baru secara visual which is more like me.

Dan tahukah kamu?ternyata blog ini jadi salah satu pertimbangan sang pemilik startup menerimaku jadi content creator-nya, karena setidaknya tahu caranya nulis dan bisa jadi copy writer. Haha…emang ya, zaman digital sekarang ini, apapun yg kita buat di internet, sekarang sudah valid menjadi sesuatu yg bisa kita sertakan pada portfolio kita.

So, menjadi content creator terutama di platform Instagram mau ga mau harus belajar gimana cara algoritma Instagram bekerja dan mencari tahu bagaimana biar apapun yang kita posting itu bisa dilihat banyak orang dan pada akhirnya dapat menjual apa yang kita tawarkan kepada lebih banyak orang di internet.

There’s tons of new things that i discover along the way of learning digital branding and marketing. Salah satunya adalah bahwa hari ini bukan zamannya lagi untuk menjual barang secara hardselling, ini waktunya untuk lebih banyak sharing tentang value dari branding yang mau kita angkat, tentang alasan kenapa, tentang filosofi dan emosi yang harapannya ketika calon customer juga punya pemahaman dan filosofi yang sama, akan timbul keterikatan dan kesetiaan, mirip seperti apa yang telah dilakukan selama ini oleh brand Apple dengan para customer setianya yang akan membeli produk apple betapapun mahalnya, karena fan loyal apple sudah memahami bahwa ‘think different’ nya apple sesuai dengan apa yg customer mau.

Berangkat dari kasus itu, dengan betapa hebatnya branding dari om Steve Jobs tentang Apple-nya, banyak ahli branding pasti akan menganalogikan strateginya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Apple-nya Steve Jobs. Tapi, pada prakteknya ternyata ga sesimpel itu, ada banyak faktor yang harus diperjelas terlebih dahulu seperti misi dan visi perusahaan dan alasan kenapa startup ini dibuat sejak awal. Karena, sehebat apapun strategi digital marketing dan branding, semuanya harus berawal jelas dari pemilik dan founder dari brand itu sendiri. kalo udah jelas, PR si digital branding, marketing, dan content creator untuk membuat visi, misi, pesan brand tervisualisasikan lewat konten-kontennya dan tersampaikan dengan jelas dan sama kepada khalayak.

Sounds exciting?

Well, it is. Tapi cukup pusing juga untuk orang yang baru mengenal ini semua. Harus banyak belajar lagi. Padahal membuat konten tuh bukan hal yang baru untuk saya sendiri. Saya sudah terbiasa untuk membuat konten tulisan di blog, dan konten foto di Instagram, tapi itu semua hanya untuk sekadar bersenang-senang saja, tak ada strategi khusus yang harus dipakai, tak pernah juga mikirin apa kata orang kalo bikin konten ini dan itu. Tak pernah juga harus meninjau ulang kenapa postingan saya yang ini lebih banyak direspon orang dan tulisan lainnya sepi,, pokoknya followers dikit, i’m sucks and i know it. tapi ga pernah juga berusaha berubah, haha.

So, being a content creator and being paid like i do right now, membuka pandangan baru untuk beberapa hal. and it’s a hugh boost for me personally as a blogger and Instagrammer. Nah, kalo sekarang yang nulis di blog ini adalah saya sebagai konten kreator yg mikirin marketing, tulisan di tiap paragrafnya ga akan sebanyak ini, ,dan harusnya paragraf ini udah nge-lead orang untuk memahami bahwa kebutuhan mereka akan sesuatu bisa kita provide. hahaha… emang cau banget dah jadi copy writer. pada jenius, padahal intinya adalah jualan, tapi muter dulu biar yg baca jadi tak berasa ditawarin sesuatu macam sales yang dateng ke rumah-rumah.

Yak, itu aja sih perubahan terbesar selama ini yang kayaknya belum saya tulis di blog ini. Masih belajar lah ya. tapi yaitu, sebetulnya kita semua adalah konten kreator kok, tapi ada yg pake strategi, ada yg cuma bersenang-senang aja. Ada yang sukses ampe bisa dibayar, ada juga yg feedbacknya cuma perasaan senang aja.

And for you who read this until the very last paragraph, HATUR NUHUN PISAN karena mau cape dan pusing baca blog post yg ternyata tulisannya banyak ini. Jangan lupa, kalo udah tamat bacanya, kasih feedback comment, bebas mau komen apa aja….semaunya aja. yang penting komen aja, karena saya suka dengan interaksi. saya suka dengan feedback. komen kalian itu saya tunggu-tunggu, kalo ga ada komen, biasanya saya suka merasa gagal. please don’t let me feel sad and fail.

9 thoughts on “Life Update: being a content creator”

  1. Lucu ya, 5 tahun yang lalu kita belum tau akan profesi content creator, bahkan menduga kalau profesi ini akan jadi favoritnya gen-z dan millenial. But here we are now. Sukses ya! ☺

    1. haha…iyah, padahal sayapun bukan termasuk generasi millenial, masih anak 90an. awalnya ga mau karena ga yakin, tp ‘why not’.
      i don’t know if this content creator thing will be sustain and will be a huge thing in near future, but at least i took a step to taste how it feels to create something and actually being paid. dan serunya lagi, bisa lihat pertumbuhan satu brand yg dari bukan apa-apa, ,dan ga tau apakah akan terus tumbuh besar atau tidak. we’ll see.
      thank you piananas untuk ucapannya. really appreciate your comment.

      1. Harusnya selama teknologi bertumbuh, tipe pekerjaan seperti ini juga bakal sustain. It’s the least type of job that I think would up for extinction at least for another 10 years.

        So, I think it’s the right choice. Belajar SEO dong ya?

  2. Sepertinya bisa dapet kerjaan baru di tengah pandemi ini, di tengah lautan manusia yang sibuk nyari kerja, bener2 suatu privilege yang nggak semua orang bisa dapet. Congrats on that & also on getting out of your comfort zone, dan tentunya best of luck on the new job!

    1. Thank you adnabilah,
      kamu tahu kan kalo saya itu fan blognya adnabilah,jadi dapet ucapan dan komen dari idola itu sangat berarti.
      malah kadang kalo mau bikin blog tuh, harapannya cuma biar bs dibaca adnabilah sama nadya irsalina, dua blogger yg aktif sekali, hehehe…

  3. Hi mas Adynura, salam kenal 😀

    Suka sama post ini, hehehehe ~ dan ikut senang karena mas bisa pindah dari comfort zone untuk mencari dan mempelajari hal-hal baru, especially kalau ternyata hal tersebut merupakan hal yang mas suka 😀 waaah, paling menyenangkan melakukan sesuatu yang kita suka dan dibayar 😛

    Eniho, saya sangat menantikan post-post terbaru dari mas *salam dari silent reader yang sudah mengikuti blog mas beberapa bulan ke belakang* — semoga sehat selalu ya, mas 🙂

    1. wah maaf creameno baru bales komennya *auto merasa gagal jadi blogger*
      dan senang sekali punya silent reader, ga nyangka aja blog saya yang ga jelas ini ada yg menantikan. aslinya, rasanya bahagia sekali lho. tapi jangan panggil mas, brasa orang jawa tengah, karena jawa barat, kalo ga kang ya nama aja gpp. saya ga setua itu.

  4. Aku suka soft selling begini hahahhaha.

    Zaman skr orang2 sering ga nyaman kalo udh dipaksa membaca yg jelas2 komersil ato hard selling banget. Bawaan pengen nutup layar wkwkwkwkkw. Tapi kalo ditulis secara halus, kesannya kan jadi beda :).

    Selamat utk pindah kerjaannya mas. Memang sih setiap org itu hrsnya mencoba utk kluar dari comfort zonenga. Walopun aku tau ada bbrp org yg tipenya main aman. Yg ptg ttp gajian, yg ptg bisa kasih makan keluarga. Ga ada salahnya juga, toh karakter dan kemampuan manusia beda2 :). Tp ga bisa dipungkiri, kalo yg berani kluar dr zona nyaman, pasti LBH tangguh biasanya, trutama saat menghadapi masalah :).

    Aku sendiri resign dr kerjaan Juli kmrn. Tp memang niatnya mau di rumah aja sih. Setidaknya handle keuangan suami supaya bisa ttp menghasilkan pasif income :D.

    1. wah mantep banget, iya atuh….
      saya selalu mengagumi seorang wanita yg fokus mengurus rumah, tapi tetap bisa kreatif melakukan sesuatu yg bs jadi passive income, itu tuh…wah…keren lah.

      passive income-nya tuh jadi manager keuangan suami atau gimana?takut salah memahami, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s