Capturing an Organic & Spontaneous Moments

Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya (see post: First Experience That Gives Valuable Lessons ) ini adalah kali pertama saya memotret pre-wedding secara profesional. Pasangan ini bukanlah totally stranger, Rindang, perempuan cantik berkerudung adalah sodara saya dari istri. Jadi sedikit banyak, dia ingin saya potret karena melihat fotografi saya selama ini di Instagram, dan bisa dibilang selama ini selalu menjadi fotografer keluarga juga. so, she already know what i can do with photography and what photo style that i’m good at. Dan ketika waktunya telah tiba, the plan has come to a realization.

Layaknya orang yang akan melakukan sesuatu untuk pertama kalinya, harap-harap cemas, banyak planning disiapkan seperti pose apa yang jadi inspirasi, style-nya, timing motret, lokasi dan hal lainnya demi mengurangi rasa grogi ini. and as you know, semua planning agak buyar di hari H. Balik lagi ke nol, bingung mau mulai pose seperti apa dan dimana, akhirnya natural aja berjalan, planning tinggalah planning, ga kepake. i am definitely not good at directing or in any word, belum berpengalaman sama sekali. Tapi, disela-sela mikirin next step, saya secara spontan selalu minta mereka untuk melakukan apapun yang mereka lakukan normalnya, anggap saya ga ada, anggap aja lagi jalan-jalan pagi. And that’s the moment when i realize bahwa ternyata yang paling nyaman untuk saya adalah membiarkan mereka main berdua, tugas saya hanya melihat dan menangkap momen-momen yang natural, spontan, nyaman gak jaim. Dan peak moment-nya adalah ketika mereka tampil menjadi diri mereka sendiri dan lupa bahwa saya sebagai pemotret ada disana, taking candid shoots of them, persis seperti street photography.

Mungkin karena saya sendiri yang melabeli ini adalah sesuatu yg serius dan profesional, saya jadi lupa untuk bersenang-senang, saya jadi lupa bahwa yang saya sukai dari kegiatan memotret bukanlah mengarahkan pose unik, keren, dan beda, bahwa yang saya sukai selama ini adalah proses mengamati, menunggu, memprediksi momen-momen yang organic, natural, mendokumentasikan diri mereka apa adanya. Karena ternyata ketika mereka nyaman dan menjadi diri mereka sendiri, buat saya rasanya beda, it might not aesthetically impressive, tapi feelnya dapet, emosinya juga. Kamera yang saya gunakan menjadi mampu untuk menghasilkan gambar yang merefleksikan diri mereka sendiri, kemudian menjadi foto yang bercerita dengan sendirinya.

Yes, i still have to learn how to directing, tapi yang paling wajib menurut saya adalah belajar agar mampu membuat siapapun yang saya potret menjadi nyaman dengan saya, menciptakan suasan yang santai dan menyenangkan, itu PR saya. Tapi satu hal yang akan selalu saya ingat adalah jangan lupa untuk bersenang-senang dan lakukan dengan cara saya sendiri. Karena bisa jadi, orang mau saya potret karena foto-foto yang selama ini saya tunjukan di Instagram yang mana kesemua foto tersebut saya ambil bukan dengan mengarahkan pose, tapi dari candid shoot dan menangkap momen-momen pas yang mampu bercerita dan merefleksikan sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s