First Experience That Gives Valuable Lessons

Mixed feelings yang terjadi di hari minggu kemarin. Aktifitas penuh dari terbit matahari sampai ke tenggelamnya. Deg-degan, grogi dan excited bercampur. Padahal sejak beberapa minggu sebelumnya sudah banyak melakukan riset dan ngumpulin ide di pinterest. Sempat survey lokasi duluan agar pas hari H semua bisa berjalan sesuai rencana. Tapi pas hari H? hmm… yang pasti nih ya, hari minggu adalah hari pembelajaran, pengalaman yang memberi gambaran jelas bahwa saya ternyata masih belum gimana-gimana amat, masih perlu banyak jam terbang, misalnya tentang bagaimana cara untuk mencairkan suasana, directing mengenai emosi dan perasaan yang inginnya dimunculkan pada ekspresi wajah dan gestur yang masih terlihat natural, memberi arahan yang jelas mengenai apa yang mesti dilakukan selama sesi, lalu kreatifitas kita juga sangat diuji dalam melihat apa yang tersedia di lokasi misalnya dalam melihat cahaya, arah dan kekuatannya, keadaan latar apakah lengang atau justru crowded, dan bagaimana agar kesemuanya bisa memberi keuntungan dan nilai lebih, bukan sebaliknya.

Cuaca memang bukan sesuatu yang bisa kita kontrol, oleh karenanya, jangan terlalu bergantung pada hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. fokuskan dengan hal-hal yang memang dalam kendali kita and do something with it. Uji sisi kreatifitas kita agar apapun yang dalam kendali bisa kita buat sebagus yang kita inginkan. Disini, Jam terbang tinggi memang jadi faktor utama, tapi bukankah hal tersebut harus diraih dengan proses yang tidak sebentar? harus melalui pengalaman pertama yang bisa saja mulus tapi dibuat terlena, atau pengalaman pertama yang tidak sesuai ekspektasi tapi memberi pelajaran berharga tentang apa saja yang masih menjadi kekurangan agar kedepannya bisa dipelajari lebih dalam lagi, kemudian dipraktekkan di kesempatan berikutnya. Disitulah kemajuan terjadi. You have learned the lesson. Eventually, You will get what you deserve. Yang mesti kamu nikmati disini adalah prosesnya.

Jadi, hari minggu kemarin adalah hari dimana saya diberi kepercayaan untuk menjadi juru foto pre wedding untuk kerabat yang sebulan lagi akan menikah. Biasanya saya diminta memotret dengan gear yang saya punya biar gratis (dan sayapun tak keberatan kalopun gratis, less pressure for me), tapi kali ini, pasangan ini ingin sesuatu yang lebih dari saya biasanya, makanya mereka menyisihkan beberapa untuk budget sewa gear yang saya inginkan. kata ‘yang saya inginkan’ dalam fotografi hanya merujuk pada dua hal saja, Body camera full frame bermerk Canon berkelas profesional bertype 5D mark iv, tapi karena mark iv is out of budget, yang masuk budget adalah yang mark ii. itupun sudah lebih dari cukup, dan kedua adalah lensa canon red ring. Awalnya cukup bingung dalam memiih lensa, antara prime lens 35mm f1.4 atau zoom lens 24-70mm f2.8, tapi akhirnya kupilih lensa zoom karena dirasa lebih versatile, saya bisa motret wide angle, bisa juga portrait yang dekat. Dream come true, walaupun melalui sistem sewa sehari 24 jam saja. i have no regret at all in choosing the gears.

Padahal udah dikasih kesempatan menggunakan kamera dan lensa impian, tapi ternyata hal tersebut tidak menjadi jaminan bahwa hasil potret saya akan bagus semua. Tetap saja, saya harus membiasakan diri dulu dengan tools baru. Sejak saat itu saya 100% percaya bahwa yang berperan sangat besar dalam fotografi itu bukanlah seberapa bagus gear yang dipakai, tapi tetap pemotretnya. Saya dengan 0 persen pengalaman menggunakan kamera 30 jutaan ternyata masih bisa missed focus, masih bisa under exposure, masih bisa mendapatkan gambar yang tidak lebih bagus daripada kamera saya yang 3jutaan. Tapi sekalinya bagus, nah…disitu keliatan kenapa harganya bisa puluhan juta.

Diatas adalah beberapa foto random yang saya ambil ketika nungguin pasangan yg mau dipotret. nunggu dari jam 6an ketika matahari pas lagi bagus-bagusnya terbit, tapi karena satu dan lain hal, mereka datang jam 7, hmmm….yaa…..haha, untung saya sudah bisa memprediksinya, jadi tidak bete sama sekali, tapi jadi disayangkan karena momen golden hour terlewatkan begitu saja.

Dan itulah sepenggal dua penggal pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman pertama foto prewed dengan menggunakan kamera profesional yang selama ini saya inginkan. Sebetulnya sekarang ini lagi proses editing hasil foto kemaren, tapi disela-selanya saya sempatkan nulis blog karena gatel pengin nulis, takut keburu lupa, haha. btw kira-kira ada yg penasaran pengin liat hasil akhir dari foto prewed kemaren ga ya?kalo ada, mungkin ada baiknya di post di blog kali ya?gimana? šŸ˜€

7 thoughts on “First Experience That Gives Valuable Lessons”

  1. Iya juga ya, lagi lagi balik ke skill & sensitivitas si fotographernya, walaupun jenis kameranya tentu juga amat mempengaruhi.

    Anyway ada pressure tersendiri gaksih diminta jadi juru foto buat prewedding?

    1. baaangettttt….ini yg saat ini kurasakan, biasanya mah lbh ga ada pressure karena gratis, pdhl ini jg sebetulnya ga ada fee buat fotonya, tp krn disewain, mrk keluar duit jg, jd lumayan dpt pressure, lebih kepada takut aja ngecewain krn mrk terlalu tinggi berekspektasi sama hasil foto saya, jadinya saya jg pasang standar tinggi sama diri sendiri, dan liat hasilnya, for me, it’s not good enough… tp semoga standar mereka mah beda dan semoga msh suka. pokoknya pelajaran banget, next harus riset dan siapin banyak contoh pose biar jd semacam guidance pas fotoin.

      apa ini artinya saya blm siap jd pro di fotografi ya?

      1. Mungkin karena ini momentnya lebih terkesan serius ya? Secara utk prewedding gitu.. Biasanya mgkn fotofoto yg lebih santai?

        Masih grogi aja mungkin, bukan karena gasiap jadi pro dalam hal fotografi. nanti semakin sering moto berbagai acara/situasi, pasti bakal jadi lebih luwes dalam hal ngarahin/milih angle yg kece šŸ˜€

      2. kalo orang minta aku fotoin, ya suka saya seriusin sebetulnya. suka aja ngeliat orang bs senang dan senyum ketika liat foto mereka sendiri bagus. kepuasan tersendiri aja. tp seringkali sayanya overthinking, worry too much, jadinya “duh..bagus ga ya?mrk bakal suka ga ya?duh kalo mrk ga suka kan ga enak jg.” gitu gitu lah,haha.. tp memang betul yg kamu bilang, blm terbiasa, msj grogi šŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s