A little bit closer to the city while in pandemic

A little bit disclaimer a.k.a curhat: nulis postingan ini sejak kemarin jadi tertunda karena agak kebingungan dengan foto yang engga mau full resolution pas gambarnya di gedein selebar yang biasanya (lihat blog post saya sebelumnya). Saya bisa menerima kalo tulisan saya ga begitu bagus dan seringkali ga nyambung, tapi kalo bicara gambar, i just need to make it as good as possible, i can’t accept kalo fotonya blurry kayak foto kecil yang dipaksain tampil lebar. ini adalah photo blog, sudah barang tentu fotonya harus tersaji optimal. jadi maaf ya kalo tampilan fotonya tidak selebar yang biasanya, demi menjaga ketajaman foto yang masih enak dilihat.


Seperti yang telah kita ketahui dan alami, pada titik ini kita sudah ada pada fase baru dalam menghadapi pandemi ini. awalnya kita bertekad untuk memeranginya agar korban tidak bertambah, tapi sepertinya tujuan tidak tercapai. Saya ingat ketika awal-awal covid mulai masuk ke Indonesia, dan ketika semua orang masih meremehkannya, temanku yang bekerja di RS mulai memperingatkanku untuk selalu berhati-hati karena katanya ini akan menjadi sesuatu yang besar, ketika itu kabar yang positif masih sekitar belasan, dan teman saya ini memperkirakan sepertinya Indonesia bisa tembus seribu pasien positif, segitupun sudah membuatku resah, dan sekarang? sudah lebih dari 28ribu pasien positif dengan kesembuhan 8000an orang dan kematian 1700an jiwa. kenyataan sudah jauh melewati perkiraan. Itu bukan sesuatu yang bisa kita banggakan.

Lalu sekarang, kita mulai dibiasakan agar bisa menjalani hidup seperti normalnya tapi dengan beberapa kebiasaan baru yang kita dapatkan selama menjalani PSBB, kita menyebutnya ‘a new normal’. dari istilah itupun, saya bisa menyimpulkan bahwa masa terbebasnya kita dari kekuatiran tertular dan 100% bisa bebas beraktifitas masih akan lama terwujudkan. Karena alih-alih diberi harapan untuk terus berperang agar bisa cepat ‘menang’, kita malah dianjurkan untuk ‘berdamai’ dengannya dan berusaha hidup ‘berdampingan’. we are fucked up, all of us, globally.

But i’m not that type of people yang lebih suka membicarakan hal negatif daripada membicarakan tentang harapan dan hal-hal positif didalam situasi seburuk apapun. i’m an optimistic kind of people and all i want to share is the positive vibes and good hopes.
Seperti halnya kemarin-kemarin di Bandung, dimana untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, banyak tindakan yang Pemkot lakukan diantaranya adalah penutupan beberapa ruas jalan utama seperti di daerah Asia Afrika, Alun-alun, Dago, dan beberapa tempat lainnya. Aku melihatnya bukan sebagai sesuatu yang menyusahkan, well, actually, i’m kinda excited with all these unusual thing towards pandemic that happens in my lifetime. i know, the word ‘excited’ is not an appropriate words ketika banyak sodara kita yang kesusahan karena pandemi dan PSBB ini.
But, really, sebagai fotografer, bisa menangkap momen yang tak biasa akan menjadi satu kepuasan tersendiri. i took pictures that will be a history. Kupikir, kapan lagi Bandung akan sesepi ini sepanjang waktu? that’s why i took some photographs yang bisa menggambarkan betapa satu organisme terkecil yang bahkan tak bisa kita lihat secara kasat mata mampu untuk memberi dampak hingga membuat Bandung dan kebanyakan kota-kota di dunia seketika sepi dan seperti kota mati.

Dan senin kemarin 01/06/2020 yang bertepatan dengan libur nasional hari Pancasila (yang belakangan kuketahui menjadi hari terakhir penutupan jalan-jalan utama) aku kembali turun ke jalan. Bukan dalam rangka menangkap momen sepi, tapi ada project yang mengharuskanku untuk untuk melakukan survey dulu dan mencari spot-spot menarik untuk project mendatang. surveynya ya sebentar, yang lama adalah caraku mengamati situasi jalanan yang jika dibandingkan dengan beberapa minggu kebelakang, perubahan terjadi lagi, orang-orang sudah mulai banyak turun ke jalan, berjalan kaki atau bersepeda seolah pandemi ini mulai memudar (yang faktanya belum).

And that’s how i see Bandung at that Monday, a little bit closer while at (the edge of) Pandemic (effect), i hope.
But really, i ask you . . What should we do actually right now?

6 thoughts on “A little bit closer to the city while in pandemic”

    1. iyah, ketika negara api belum menyerang ya, hehe…
      ayo ayo maen Bandung lg kalo semuanya udh seperti biasa lagi.

      terimakasih,

      1. Betuuuul! Belum puas foto foto di braga dan belom sempet nyobain makan di salah satu tempat makan yang ada di sana. Huhuhu

        Iya semoga bisa segera main ke Bandung atau kota lain lagiiiih kalo keadaan udh waaay waaay better and safer.

      2. Braga ya?iya sih, itu spot wajib kalo dari luar kota, semoga semuanya cepet pulih dan bisa kemana-mana lagi ya Nad..

  1. Tonenya bagus bgttt. Ini analog atau digital kah? Biasanya kalau lihat orang2 bikin street photography, foto2nya suka high contrast jadi personally kurang suka. Tapi ini enak bgt dilihatnyaa. Saya sendiri hunting foto di Braga udah gak tau berapa kali seumur hidup, tapi gapernah bener2 ada hasil yang disuka. I guess I’m just not that talented hahaha.

  2. wah yang bener?makasiiih…
    ini digital, tapi diedit pake preset film emulation. jadi ya akhirnya mirip2 film hasil analog, walaupun sebetulnya jauh bnget sama hasil film, kebetulan pake analog jg jd tau persis bedanya.

    biasanya yg high contrast itu motretnya menuju tengah hari, apalagi kalo cerah, ya dapetnya hard light, jadinya super contrast.

    saya pribadi selalu suka tone-tone warna foto orang-orang yg tinggal di daerah sub tropis, daerah dingin bersalju, kayaknya warna udaranya enak buat di edit, soft gitu.

    kapan yaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s