A fragment of my past was saved in a photograph.

Empat sore biasanya ada disini, dengan cuaca cerah berawan dan angin menyejukan. Taman kota dengan bangku-bangku besi anti karat diduduki para penikmat udara lepas dengan pemandangan taman seadanya. Ada deretan palem yang tinggi meneduhkan, tumbuhan liar tak terawat tumbuh begitu saja di tengah-tengah, coretan dinding vandalism tanpa makna, gedung sate di kejauhan, dan manusia lainnya yang sama-sama menikmati udara dan pemandangan ini. Lalu aku duduk disini, mencoba untuk membaca lembar demi lembar buku yang terbengkalai begitu saja di kamar kosan, sambil sesekali memperhatikan, mengobservasi manusia di sekeliling. Itulah yang selalu kulakukan beberapa kali dalam sebulan. Di taman bernama Monumen Perjuangan (Monju).

Foto diatas mengingatkanku akan semua hal itu. foto yang awalnya kuanggap biasa saja, kini seiring waktu berjalan, aku berubah, semesta berubah, foto ini tidak berubah. Tidak berubah sama sekali meskipun segala sesuatu yang ada dalam foto tersebut berubah, termasuk aku. a fragment of my past was saved in this photograph. Dengan setia tidak pernah berubah dan selalu sedia untuk bercerita setiap siapapun melihatnya. Itulah kenapa aku selalu menyukai fotografi. Menikmati apapun yang diberikannya.

ranting meranggas pada pohon di area taman
observing, sometimes capturing without permit.

All the photographs has been taken using Pentax K1000, it was my first analog slr camera with 50mmf1.4 lens, an awesome glass with an affordable price. now, i continue using film with Canon FTb ql.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s