Jingga.

Hmmm . . . Where should i start? do you know that every time i want to write something, particularly writing a blog post based on the picture i want to share, i just don’t know what to write because most of the time when i took a picture, there’s no reason but looks good aesthetically. So, there’s not enough story behind the pictures i took. and here i am . . . blank. But, i’ll write something, somehow. Karena saya senang mengetik di keyboard (alasan apapula itu).


Setiap orang punya area bermainnya sendiri, manusia pasti memiliki obsesi terhadap sesuatu, terlepas seberapa obsesifnya, tapi kita pasti memilikinya. pedagang yang terobsesi dengan barang jualannya yg harus laku banyak, penggemar kopi yang obsesif dengan jenis-jenis kopi dan filosofinya, musisi yg terobsesi dengan materi musik yang dimilikinya akan mengguncang dunia musik. Begitupun aku, penggemar fotografi yang percaya bahwa foto yang bagus bisa didapat dimana saja tapi kamu tidak akan pernah gagal jika dilakukan pada jam-jam golden moment. Ya, saya sedikit terobsesi dengan si jingga di ufuk timur, juga barat, pada terbit dan tenggelamnya matahari. Oleh karenanya, disetiap akhir pekan, jika hari berpotensi cerah, saya harus berada di suatu tempat bagus (yang dekat-dekat aja dulu) menunggu matahari keluar di balik garis horizontal atau di balik pegunungan.

Ditemani icha, pagi itu di hari minggu, kita punya jalan yang sama dengan tujuan agak berbeda. aku dengan tujuan motret sunrise dan dia selain ingin menemaniku, juga karena tidak jauh dari tempat tersebut ada pasar minggu yang menjual berbagai macam sayuran dan makanan tradisional sunda seperti ulen bakar dan awug. “sekalian belanja…” katanya sambil senyum lebar. hmm.

Well, i had nothing to lose, malah seneng aja karena ada teman dan punya model untuk dipotret. Berangkat dari rumah di selatan Bandung menuju utara yang tentunya daratannya lebih tinggi daripada di selatan dan juga karena saya punya satu spot favorit untuk menikmati city view dengan golden lights-nya. Untuk berangkat sepagi ini (selepas subuh), tanpa kemacetan, hanya butuh setengah jam dari selatan menuju utara di dago atas. Kurang lebih setengah jam berlalu, setelah melewati kosongnya jalan dan dinginnya udara pagi Bandung yang menyegarkan, sampailah kita di komplek perumahan elit yang sebagian besar masih berupa tanah kosong yang belum dibeli atau dibangun oleh pemiliknya. kita menyebutnya SIS Dago karena di area tersebut juga ada sekolah internasional singapore (SIS). Langsung menuju spot, and i’m on track. Just a few moment before the sun rises. i’m already on the spot, ready to take the shoot.

And that’s pretty much the result i get. Tentu saja, pemandangan dengan mata kepala sendiri terlihat jauh lebih indah. Dan, ya, begitulah, apa yang terlihat pada foto ternyata tidak terlalu implementing the real moment, itu semua karena ketidak-bisaan saya dalam post processing. Hmmm . . .
Semburat jingga yang menerpa perbukitan Dago entah kenapa mengingatkanku pada masa kecilku ketika dunia tidak serumit hari ini, ketika kebahagiaan sesederhana bangun pagi di hari minggu dengan deretan film kartun dari doraemon hingga dragon ball. Ada suasana sore yang selalu digambarkan kartun doraemon dengan semburat cahaya jingga dan suara tonggeret khas musim panas Jepang. It’s so japan, but somehow that vibes is in my childhood. a lot. Sepertinya, jingga itu ibarat tanda warna yang mengingatkanku pada memori masa kecil yang menyenangkan lengkap dengan warna udara, perasaan, pertemanan dan kenyamanannya. Namun sayang, hal seindah itu hanya terekam di kepala ini, belum mengenal apa itu fotografi apalagi videografi. Karena menurutku, keajaiban fotografi adalah kemampuannya menangkap dan menyimpan dengan jelas gambaran tentang satu momen di hidup kita, dan menjadi kian berharga seiring waktu berjalan dengan segala perubahannya kecuali foto itu sendiri.

Jadi, jangan lupa untuk mendokumentasikan setiap momen berhargamu, bahkan ketika satu momen terasa biasa aja di masa sekarang, siapa tahu suatu saat akan menjadi salah satu momen berharga yang kamu akan bersyukur telah mengabadikannya dalam satu jepretan foto.

9 thoughts on “Jingga.”

  1. Foto kedua terakhir terlalu bagusssss. Btw dulu jaman SMA dan awal2 kuliah sering banget ke sini untuk foto2 atau bikin video. Belum ke sini lagi sejak jaman osjur kayaknya… Nyebutnya SIS Dago juga hahaha.

    1. beneran? kamu orang Bandung atau SMA dan kuliahnya aja di Bdg?
      sampai detik ini sih msh nyebut itu tempat SIS dago, ga tau kalo anak² skrng nyebutnya apa?
      dan kabar ga bagusnya adalah si bukit kecil yg suka jd tempat foto city view skrng udah mulai dibangun sama yg punya tanah. soon or later sih itu mah. heummm

      1. Memang orang Bandung, hehe. Wahhh bukit yang selalu dipakai shooting video sekolah/kampus dan foto2 itu… Mudah2an bisa nemu lagi tempat kayak gitu di Bandung yang gak terlalu terpencil dan susah aksesnya. Convenient bgt lokasi dan view bukit itu kalau lagi butuh buat bikin foto/video apapun soalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s