a sea of clouds

Gunung Putri, satu tempat terdekat untuk bisa menangkap lansekap dataran lembang berselimut awan.

Satu cangkir kopi hitam pekat bergula aren yang sudah habis sejak dua jam sebelum saya menulis untuk blog ini, menyisakan mood yang bagus untuk nulis dan mata melek yang seolah bertuliskan “status: begadang on!”

Tapi saya adalah seorang tukang foto yang seharusnya tidak banyak menulis karena bakatku bukan disitu, tapi… ternyata menulis itu gratis dan tidak perlu bakat khusus untuk sekedar menulis seadanya di sini.

Beberapa waktu terakhir ini saya belajar workflow post processing dari lightroom ke photoshop. apa aja yang harus diedit di lightroom dan apa saja yang bisa dilakukan di photoshop yang tidak ada di lightroom, begitulah menu seminggu ini, ngulik. Tapi saya adalah salah satu yang paling males untuk editing banyak dan detail, cukup penyesuaian di contrast, brightness dan tempelkan preset, jadi! itu biasanya yang kulakukan. Tapi ternyata Alex Strohl dan kebanyakan fotografer digital dimanapun pasti akan memperindah fotografinya menggunakan aplikasi lightroom dan photoshop. So, leveling up my game on digital photography memang harus di upgrade. So i learn, slowly but sure.

And here we are, stok foto lama dari hiking ke gunung putri di 2018 kemarin, di edit menggunakan lightroom dan disempurnakan oleh photoshop.


Kabut

Tak pernah berharap untuk menempuh perjalanan awal pagi dengan ketebalan kabut seperti yang kami lewati pada saat itu di Lembang, tebal dan dingin. Yes, kami tidak camping dulu karena memang rencananya hanya berangkat selepas subuh demi mengejar sunrise di Gunung putri lalu pulang lagi. Camping…belum siap.

Berbekal kamera Digital SLR Canon 500D dengan lensa kit dan nifty fifty 50mm f1.8 menjadi senjata yang mau ga mau jadi andalan karena hanya itu yang kupunya (selain kamera film). But don’t get me wrong, i am grateful for i have in hand, the best tools is the one you have in hand, and i have all i need…for now. It’s not the best result, but it’s a learning process. make mistakes and earning more experiences, to become better.

Dan kesalahan yang paling fatal adalah tidak berangkat lebih pagi, lebih baik kemping sih. I was too late, pas nyampe ketinggian gunung putri, matahari sudah terlanjur bersinar terlalu terang, golden moment apalagi blue hour udah kelewat jauh. But it was all good, i enjoy my time hiking up there. next time…Camping dulu.

This one is my favorite.

And that’s it. satu perjalanan yang memberi pelajaran bahwa blue atau golden hour itu tidak bisa diburu-buru, kemping jadi pilihan paling nyaman. Hiking itu melelahkan tapi berkeringat itu menyenangkan. so rewarding. next time harus bawa tripod dan upgrade lensa adalah keharusan karena lensa yang ada sudah tidak terlalu bisa memenuhi ekspektasi saya.

10 thoughts on “a sea of clouds”

  1. Selalu iri sama orang-orang yang beruntung bisa foto kabut. I never had luck in those 🙂 nice one as usual btw, brings back memories as this was around the place I did “osjur” back at university year.

    1. wish i have my own memories in visiting places like iceland or seeing the northern lights or maybe hiking in montana. semoga kesampean ke negara bersaljuuu, btw thank youuuu

  2. Meskipun tidak untuk dipertentangkan, tapi menurut masnya mana yang harus diprioritaskan saat mengambil gambar? Momen atau teknik?

    Anyway foto-fotonya sukses menangkap suasana dan pesan yang ingin disampaikan. Salut!

    1. Hmmm, a good question.
      kalo teknik disini bicara tentang teknologi pada kamera, tentu sekarang yang serba auto, mestinya teknik disini sudah dicover sebagian besar oleh mesin, tapi pengambilan momen sampai sekarang kayaknya belum bisa dikalkulasi oleh mesin, momen adalah masalah insting fotografer, adalah masalah perasaan, tentang tujuan untuk apa mengambil ‘momen’ tersebut, karena menurut saya, momen itu erat kaitannya dengan persepsi/cara pandang kita tentang sesuatu. apa yang mau disampaikan ketika kita berhasil menangkap ‘momen’ yang kita inginkan.
      karena sampai detik ini, yang payah dari saya adalah tentang tujuan. kebanyakan momen yg saya ambil hanyalah karena terlihat bagus aja, dan ternyata pada akhirnya hal itu ga cukup.

      ada jg yang tekniknya bagus banget, dibantu gear yg mumpuni, tapi tanpa tujuan yang jelas, mungkin dia hanya akan menghasilkan foto yang keren saja, sama kerennya dengan ribuan fotografer lainnya di internet.

      buat saya sekarang, pertanyaannya adalah tentang apa yang mau disampaikan dengan foto yang kita ambil/buat.
      hehehe. panjang ya ikhwan.

      btw, terimakasih sudah berkunjung dan ngasih komen di blog saya ini 😀

      1. Yang suka saya temukan kalo lagi motret itu misalnya pas moto acara nikahan atau kegiatan apa gitu, saya masih susah menentukan mau ngejar momen dulu atau ngeset kameranya.
        Kadang di kepala misalnya punya ide untuk bikin bokeh atau apalah buat satu momen, tapi ga keburu karena harus ngejar momennya (misalnya momen pas mantennya selesai akad atau apa).
        Kan sayang banget kalau karena sibuk beresin settingan kamera malah momennya lewat hehe.
        Tapi itu mungkin juga karena saya masih belajar banget ubek2 settingan kamera, jadinya lambat bgt :)))
        Sama2 mas Ady. keep on writing.

      2. owwwh…. biasanya kalo yg udah pro dgn tools yg mumpuni, di acara wedding gitu bs nenteng lbh dari satu kamera dgn lensa yg berbeda dgn settingan yg berbeda, jd bs lbh cepat. trus kalo bisa, wedding gitu harus team dgn pembagian tugas, ada yg motret keluarga di panggung, ada yg sbg second shooter yg motret momen bebas dgn angle unik, dll. kalo sendirian tp ingin gaya potret yg beda², emang susah. kalo wedding gitu, biasanya gaya dokumentasi aja, yg penting momennya dapet, kalo lbh technical mending photoshoot yg bs diarahkan. itu sih dariku mah 🙂
        kalo mau belajar cepat settingan lensa untuk beda² tujuan, lebih sering motret di jalanan aja, dinamis banget tuh dijalan, nanti jg bisa karena biasa, bakal nemu workflow yg pas.

      3. Wah bener juga ya, mending gitu biar bisa cepat switch ke settingan berbeda ya.

        Makasih banyak insightnya mas!

  3. wah, makasih yaaa….ini juga sebetulnya udah kesiangan karena ga camping dl. penginnya pas momen terbit banget, semoga next time bs kemping dl, iyah..kemping cuma biar bisa udah standby pas sunrise 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s