Padang edelweiss, kabut, dan cerita

sebuah photo stories tentang bermalam di dataran tinggi garut, padang edelweiss, dan kabut

TRILOGI PAPANDAYAN: KEDUA

Tiga tambun (yang satu lagi diet, jadi tak begitu tambun) berwaktu luang akhirnya memutuskan menghabiskan akhir minggu dengan bermalam di puncak gunung papandayan. Modal perlengkapan camping yg mumpuni ala anak kota yang ingin mencoba menyatu dengan alam, semua terasa menyenangkan, ini itu ada. salah satu camping paling menyenangkan yang pernah saya alami.

bimasakti yang tak terlihat tergantikan dengan kabut tebal dingin basah dan padang edelweiss yang memang khasnya Papandayan. Babi hutan bernama Omen yang menegangkan suasana malam, suara-suara aneh yang membelai bulu kuduk si leader Neiza, cerita tentang banyak hal dari masa lalu hingga rencana masa depan, dihangatkan api unggun dari bahan bakar kayu kering yang di jual di warung area perkemahan. suasana yang hangat diantara butiran uap kabut yang dingin dan basah.

Ramdha Neiza dan Fajar Neiza, adik kakak yang hanya terimakash yang bisa saya ucapkan untuk pengalaman bermalam yang meyenangkan. kapan lagi kita?


Lanjut ke trilogi terakhir

1 thought on “Padang edelweiss, kabut, dan cerita”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s