Fast Fashion

Pada mulanya, berbelanja pakaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan sekali-kali. Mungkin hanya beberapa kali dalam setahun pada saat musim berganti misalnya dari musim panas ke musim dingin, atau mungkin membeli pakaian baru ketika baju lama sudah tidak muat lagi. Tapi, sekitar 20 tahun yang lalu, sesuatu berubah. Pakaian menjadi jauh lebih murah, perputaran trend menjadi lebih cepat dan kegiatan berbelanja pakaian hanyalah sebagian dari bentuk hiburan semata. Disitulah kita sudah memasuki era fast fashion.

Ketika memasuki era fast fashion, semua terasa begitu menyenangkan. Toko-toko menjual pakaian yang trendy dan dengan harga yang murah. Tiba-tiba semua orang bisa membeli pakaian seperti yang dikenakan oleh idolanya, memakai pakaian yang sedang trend. It’s all too good to be true.

Hingga pada tahun 2013, dunia fashion seakan dihentak oleh satu peristiwa, yaitu ketika suatu pabrik pakaian bernama Rana Plaza di Bangladesh tiba-tiba runtuh dan menewaskan hampir 1000 orang pekerjanya. Disitulah para consumer fashion dunia mulai memperhatikan dan bertanya tentang fast fashion dan apa yang sudah dikorbankan demi pakaian super murah ini.

Rana Plaza, Collapsed. Bangladesh, 2013.

Tapi apa itu fast fashion? Bagaimana pengaruhnya untuk manusia dan lingkungan? Sepertinya akan menarik untuk mengenal lebih jauh tentang Fast Fashion ini. Yuk!


APA ITU FAST FASHION?

Fast fashion adalah busana yang murah dan trendi yang mengambil inspirasi dari suatu fashion show atau dari cara berpakaiannya para selebriti untuk kemudian dibuat ulang dengan versi yang lebih murah dan terjangkau kalangan umum dan diproduksi secara masal dan masif

KENAPA FAST FASHION TERCIPTA?

Untuk memahaminya, kita perlu mundur sedikit ke belakang di masa lalu. Sebelum tahun 1800an, fashion sangatlah pelan. Maksudnya, untuk membuat satu potong pakaian saja harus berproses dimulai dengan mencari bahan kain dan menyiapkannya, lalu menjahitnya untuk kemudian menjadi pakaian siap pakai. Keseluruhan proses tersebut dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin.

women’s fashion in 1800s, it looks complicated yet so beautiful

Hingga, ketika revolusi industri terjadi, mesin-mesin teknologi terbaru bermunculan termasuk diantaranya adalah mesin jahit. Pakaian menjadi sesuatu yang lebih mudah dibuat, lebih cepat dan lebih murah. Para pembuat pakaian pun mulai membuat pakaian untuk kalangan menengah ke bawah. Disitulah industri fashion tercipta.

Pada tahun 60an – 70an, para kalangan mudanya mulai berinovasi dan menciptakan trend baru dalam dunia fashion. Mereka mulai memahami bahwa pakaian adalah sebuah cara untuk berekspresi. Tapi pada saat itu, masih ada jarak besar antara high fashion dengan high streets (kalangan umum non fashion designer).

women style in the 60’s

Hingga pada akhir 90an dan 2000an, fashion murah mencapai puncak kejayaan. Online shop mulai bermunculan, dan industri retail seperti H&M, Zara, dan Topshop mulai mengambil alih kalangan high streets. Brand retail tersebut mengambil inspirasi desain pakaian dari para kalangan high fashion yang berpengaruh dan para selebriti untuk kemudian dibuat ulang secara masal untuk kalangan high streets / umum dengan harga yang jauh lebih murah. Sejak saat itu, fast fashion mulai mengalami peningkatan popularitas yang signifikan.

Brand-brand besar retail / fast fashion big players

CIRI UMUM BRAND FAST FASHION

Ada beberapa ciri utama yang biasa ditemukan pada brand-brand yang menjalankan fast fashion, diantaranya:

1 . Memiliki varian gaya yang banyak, kesemuanya untuk memenuhi perkembangan trend terkini

2 . Ada rentang waktu yg sangat singkat antara desain terbaru yg muncul pada fashion show atau yang dikenakan selebriti hingga gaya yang sama bermunculan di pasaran dengan harga yang jauh di bawah.

3 . Cenderung untuk merekrut SDM dari negara-negara berkembang karena mempunyai tarif yang lebih murah.

4 . Jumlah produksi yang dibatasi (Ide ini tercetus dari zara). Singkatnya, ketika model pakaian tertentu muncul dengan produksi yang terbatas, para konsumen diposisikan untuk memiliki pola pikir agar membeli barang terbatas tersebut karena kuatir kehabisan, meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan.

5 . Murah, kualitas kain yang tidak bagus sehingga pakaian akan cepat rusak, umur pakaian yang singkat sehingga akan cepat untuk dibuang dan berakhir menjadi sampah.


DAMPAK DARI FAST FASHION

Dampak yang ditimbulkan fast fashion terhadap planet bumi ini sudah tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Secara industri, mulai timbul tuntutan untuk menekan biaya produksi tapi mempercepat proses produksi karena demand yang begitu tinggi, akibatnya mau tak mau harus mengesampingkan beberapa aspek seperti aspek keamanan lingkungan. Misalnya penggunaan pewarna tekstil yang murah tapi beracun untuk lingkungan hidup.

Tekstil yang murah juga berpengaruh terhadap bumi. Misalnya polyester, salah satu jenis kain paling banyak digunakan ini ternyata berpengaruh pada global warming. Polyester mampu melepaskan microfiber yang berujung peningkatan level plastik di laut kita setiap kali kita mencucinya.

Bahkan, kain alami pun bisa menimbulkan masalah lingkungan ketika digunakan demi memenuhi tuntutan fast fashion. Cotton misalnya, untuk memproduksi cotton membutuhkan pasokan air yang sangat banyak belum dengan pestisida. Dengan jumlah air sebanyak itu, beresiko tinggi terjadi kekeringan dan juga penurunan kualitas tanah. Kecepatan pabrik baju dalam memproduksi pakaianpun hanya akan berujung kepada lebih banyak sampah pakaian yang akan dihasilkan para konsumennya.

Sebagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan fast fashion terhadap lingkungan, begitupun untuk manusia.

Fast fashion berdampak terhadap para pekerja pabrik pakaian, dimana ternyata mereka bekerja pada lingkungan kerja yang tidak aman bahkan berbahaya, dengan gaji minimum dan tanpa pemenuhan hak mereka sebagai manusia. Lebih jauh lagi juga berdampak terhadap para petani kapas yg mungkin bekerja dengan cairan kimia yang berdampak buruk untuk badan mereka.

Selain manusia, hewan-hewan juga terkena dampak dari industri fast fashion ini. Dimana limbah buangan dari pabrik pakaian seperti sisa kain atau pewarna tekstil yang dibuang ke sungai hingga ke laut akan sangat merugikan biota di sungai dan lautan pada akhirnya.

Fast fashion juga berpengaruh terhadap para konsumennya. Menciptakan kultur sekali pakai langsung buang karena kualitas pakaian yang jelek sehingga cepat rusak dan mau tak mau harus dibuang karena tak layak pakai lagi, belum lagi dengan perputaran trend yang sangat cepat membuat para konsumennya terus membeli barang baru agar tetap tampil trendi dan tidak ketinggalan. Hal ini menciptakan ketidakpuasan yang tak berujung bagi para konsumennya. Hal ini pun mendapat kritikan dari para pelaku high fashion seperti para desainer yang mana desain-desain mereka secara illegal ditiru oleh para retailer untuk dijual kembali kepada khalayak umum dengan harga yang murah.


PEMAIN BESAR?

Banyak brand retail besar yang pastinya kita kenal seperti H & M dan Zara, keduanya adalah para pelaku fast fashion. Lalu diikuti oleh Uniqlo, Topshop, GAP, dan primark. Semuanya merupakan brand global yang sudah dikenal banyak orang karena fenomena fast fashion ini.

FAST FASHION RAMAH LINGKUNGAN?

Seiring bertambahnya perhatian beberapa consumer fashion tentang hal-hal dibalik industry fashion ini, terutama fast fashion, mulai bermunculan brand yang mengenalkan dan menawarkan hal lain seperti sustainable fashion dan ethical fashion dimana mereka menawarkan sistem daur ulang. Jadi, ketika pakaiannya sudah rusak, bisa dilakukan tukar tambah dengan yang baru.

Tapi masalahnya, rasionya masih sangat kecil bila dibandingkan dengan industri fast fashion yang sudah terlalu besar. Belum lagi dengan kecepatan produksi dari fast fashion membuat gerakan dan inovasi baru hanya seperti angin lalu. Untuk itu, perubahan secara keseluruhanlah yang harus dilakukan untuk menghentikan dampak negatif dari fast fashion ini.

FAST FASHION MENGALAMI PENURUNAN?

Sekarang kita sudah mulai bisa melihat beberapa pergerakan di dunia fashion terkait perlawanan terhadap fast fashion ini, seperti misalnya gelaran Fashion revolution week dimana ini diadakan bertepatan dengan kejadian mengenaskan di pabrik baju Rana Plaza yang menewaskan banyak pekerjanya.

Dari gelaran Fashion Revolution week itu, mereka juga membuat sebuah kampanye “who made my clothes” yang mana inti pesannya adalah “kami tidak ingin pakaian yang kita kenakan adalah hasil mengeksploitasi manusia dan berdampak buruk terhadap bumi”. Tapi seiring perkembangan zaman dan generasi baru yang dianggap lebih cerdas, maka para pelaku industry fashion mulai untuk membuat sesuatu seperti sustainable fashion yang dianggap sebagai solusi daripada fast fashion ini.


APA YANG BISA KITA LAKUKAN?

Vivienne Westwood, seorang desainer kenamaan inggris pernah berkata “buy less, choose well, make it last” tiga hal tersebut bisa jadi pedoman untuk kita sebagai para konsumen fashion.

Pertama, buy less. Jangan mudah untuk membeli barang baru. Lebih baik tidak sering membeli barang baru tapi sekali beli mampu untuk mendapatkan barang yang sangat bagus, baik dari segi desain dan juga materialnya.

Kedua, choose well. Belilah pakaian dengan material yang ramah lingkungan dengan kualitas terbaik sehingga awet dipakai lama.

Ketiga, make it last. Ketika kita mendapatkan barang yang secara desain bagus dan dengan material kualitas terbaik, maka kemungkinan besar kita akan sangat menghargai barang tersebut dan hanya akan tidak terpakai lagi ketika memang sudah tidak cukup lagi untuk digunakan.

Tiga poin dari Vivienne lah yang tentunya bisa banget kita lakukan alih-alih secara membabi buta mengikuti trend fast fashion yang ternyata lebih banyak dampak merugikannya daripada keuntungannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s