Menjahit Rejeki

Tailorman

仕立て屋 is a ファッションデザイナー

Berpeci putih khas pak haji menutupi hampir seluruh rambut di kepalanya. Berkalung buff motif bunga yang entah untuk apa beliau gunakan mengingat hanya pemotor saja yang biasa menggunakan buff sebagai masker.

Dan meteran yang tergantung di leher sebagai alat ukur panjang, penunjang kerja. Siap melayani siapapun yang ingin vermak pakaian, menjual jasa jahit pakaian yang bisa ditunggu. Aku salah satu pelanggannya di hari itu. Sebetulnya hari itu aku hanya ingin sebatas menjadi salah satu pelanggannya untuk dibantu mengecilkan celana. Tapi ketika sadar bahwa aku membawa kamera, satu-satunya yang terlintas kemudian adalah mendokumentasikan bapak penjahit ini sedang bekerja.

Sempat menahan diri untuk meminta izin karena takut terjadi penolakan, tapi pada akhirnya memberanikan diri meminta izin “pak, boleh sambil saya foto ya…” dan si bapak pun dengan ringannya berkata “oh iya, silakan saja. bebas…”.

Kami berduapun mulai bekerja, si bapak dengan jahitannya dan saya dengan kamera.

Menyenangkan rasanya dapat mendokumentasikan cara orang bekerja, mendokumentasikan kegiatan yang disukai atau yang telah menjadi profesinya. Dikerjakan dengan skill yang telah didapatnya melalui pengalaman dan pembelajaran dari banyak kesalahan di masa silam.

Sungguh sesuatu yang sangat menarik melihat cara menjahit bapak ini, semua jadi terlihat begitu mudah, bekerja tanpa beban seolah jika pun bekerja 8 jam tanpa henti tidak kan membuatnya lelah sedikitpun. Dan, keberuntunganku bisa mendokumentasikan seseorang yang tengah bekerja tanpa rasa canggung dan tanpa harus diarahkan. Momen nyata yang bergulir secara alamiah. Disitulah ladang emasku, siap untuk digali dan diangkut.

Terimakasih pak penjahit karena hasil jahitannya sungguh dapat diandalkan dengan harga yang begitu murah. Terimakasih juga untuk membiarkan aku memotret. Sekali lagi terimakasih karena sudah ada dan bekerja, menjahit rejeki.